
Anita bangkit dari duduknya dan membawa setengah gelas susunya dan roti isi yang tadi dibuatkan Arman untuknya ke meja dapur.Arman yang sedang memanaskan makanan untuk Emily segera menyerahkan pada anak buahnya dan menghampiri Anita.
“Nona,maafkan aku yang tidak bisa membuka mulutku untuk memberitahumu apa yang sebelumnya aku lihat,” katanya.
Anita tersenyum getir.
“Tidak apa Man,jangan mengatakan sesuatu yang bukan hakmu untuk mengatakannya.Ini aku minta maaf,rotimu sangat enak.Tapi saat ini aku tidak mampu menelannya,maafkan aku ya tidak bisa menghabiskannya,” kata Anita.
“Nona...” Arman tidak mampu melanjutkan kata katanya.
“Terimakasih kamu sangat baik sejak aku tinggal di sini.Aku pergi dulu.”
Anita meninggalkan dapur dan kembali ke ruang makan.Ia melihat Viola dan Jimmy berjalan menuju ke kamarnya dengan sangat mesra.
“Jimmy,” panggil Anita. Kedua orang itu segera menoleh ke arah Anita.
“Terimakasih telah memberiku kesempatan.Jaga dirimu,” kata Anita.
“OK,” jawab Jimmy.
“Bye Anita,” kata Viola sambil melambaikan tangannya.
Jimmy membuka pintu kamarnya dan mengajak Viola masuk.Anita mengambil tas selempangnya lalu bergegas ke luar.Air matanya turun deras tanpa suara dari mulutnya.Di depan pintu Hans mencegatnya.
“Nona,apa kau ingin pulang ke rumahmu?Aku akan mengantarmu,” katanya.
Anita menyeka air matanya.
“Tidak perlu Hans, aku akan naik taksi,” jawab Anita.
__ADS_1
“Dua kilometer kau baru sampai di jalan besar. Jangan menolaknya,” paksa Hans.
“Kakiku ini sangat kuat,aku sanggup jalan sejauh itu,” tolak Anita seraya berjalan menjauh dari Hans.
“Nona,aku harus memaksamu maafkan aku,” Hans menarik tangan Anita dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Disaat yang bersamaan Julian datang.
“Bukk!” ia memukul wajah Hans hingga terjatuh.
“Apa yang kau lakukan Brengsek?” teriak Julian. Anita berlari ke arah Julian sementara Hans bangkit berdiri.
“Ini tugasku Tuan Julian, jangan mempersulitku,” kata Hans.
“Julian, bawa aku pergi dari sini.Hans aku ingin pergi dengannya OK? Dan laptop yang ada di meja makan itu, tolong berikan pada Tuan Jimmy,” kata Anita. Julian segera membawa Anita pergi dengan mobilnya.
“Mana Corvin?” tanya Julian.
“Pak Corvin sedang keliling Tuan,ada yang bisa saya bantu?” kata seorang petugas gerbang.
“Anita, tunggu sebentar. Jangan ke mana mana,” kata Julian seraya mencabut flashdisk yang menancap di slot USB mobilnya.
Ia bergegas menuju ke ruang kantor Corvin dan membuka akses ruang server CCTV dengan kode akses yang dimilikinya.
Ia membuka file rekaman dan mencopy beberapa.
“Brengsek,” umpatnya.
Julian bergegas pergi dan membawa Anita ke luar dari area rumah Jimmy.
__ADS_1
Julian menghapus air mata Anita yang mengalir tanpa suara dari mulutnya.
“Jangan ditahan,akan semakin sakit,” kata Julian.Ia membelai lembur kepala Anita.
“Tidak apa,sudah saatnya aku terbangun dari mimpiku. Tolong berhenti di apotik depan itu,aku mau membeli obat, perutku sangat sakit dan obatku habis,” kata Anita.
“Obat apa?akan kubelikan.” Julian menyodorkan memo kecil dan sebuah bolpoin.
Anita mengambil bekas bungkus obat dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Julian yang segera menepikan mobilnya.
Julian bergegas masuk ke dalam Apotek dan beberapa lama kemudian ia ke luar dan masuk ke dalam mobil.
“Sudah berapa lama kau punya penyakit asam lambung?” tanya Julian.
“Setahun ini,obat ini aku minum waktu sakit saja tidak usah khawatir,” jawab Anita.
“Dan ini, obat tidur ini biar aku yang bawa.Ini tadi ditolak apotekernya,harus dengan resep dokter.Terpaksa aku menelpon Merry, dan dia memberikan obat itu.”
“Kadang aku susah tidur,” jawab Anita.
“Julian,antar aku ke Hotel Royal Inc.Aku akan menginap di sana sementara,” kata Anita.
“Tidak boleh, aku akan membawamu ke rumahku.”
“Jangan, nanti menimbulkan masalah baru dengan orang tuamu,” tolak Anita.
“Itu rumah pribadiku,hanya ada lima pengurus rumah dan sepuluh penjaga.”
Julian mempercepat laju mobilnya dan Anita tidak memprotesnya.
__ADS_1