
Anita tersenyum melihat Faris yang sedang bekerja serius di depan laptop dan berkas berkas perusahaan.
Anita menunduk saat Faris menyadari tatapannya.
“Dek,bagaimana kalau aku menemukan pelanggaran pada perusahaan tempatmu bekerja?” tanya Faris serius.
“Kami merasa tidak melanggar peraturan, jadi silahkan saja. Kalau pun ada kesalahan yang dilakukan perusahaan pasti bukan hal yang disengaja,kalau ada denda yang dikenakan sillahkan diproses sesuai peraturan juga,” jawab Anita.
“Apa hubunganmu dengan Pak Jimmy?” tanya Faris lagi.
“Ini di luar konteks pemeriksaan Pak Faris,kenapa menanyakan ini?” tanya Anita.
“Aku ini laki laki sama dengannya. Aku agak ceroboh menunjukkan bahwa aku mengenalmu sebelum kamu memperkenalkan diri.Dia overprotektif dan memasang wajah mengancam seperti itu,” jawab Faris.
“Mungkin dia naksir aku hehe,” jawab Anita.Faris hanya tersenyum kecil melihat wajah lucu Anita.
“Dek, aku ingin bicara banyak denganmu.Kau menghilang begitu saja sejak kembali ke kampung halaman.Tolong cari waktu untuk kita ketemu.Bisa kan?” Faris menyerahkan selembar kertas kepada Anita.
“Sepertinya dalam waktu dekat ini belum bisa Mas, tapi akan aku usahakan.Jadi ini saja yang mau dibawa ke kantor Mas Faris?” tanya Anita.
__ADS_1
“Sementara itu dulu, nanti kalau kami butuh data lain kalian harus antar ke kantor kami.Mungkin ada butuh sampling opnam bahan baku dan barang jadi.Mungkin barang modal juga.Kami akan beritahukan nanti.Ini tolong ditanda tangani, jangan lupa stempel perusahaan.”
Anita menandatangani berita acara pemeriksaan dan beranjak pergi mencari Jualian ke ruang pressdir.Tapi betapa terkejutnya saat yang ada di ruang pressdir itu yang duduk ternyata Jimmy dan Viola yang sedang duduk mesra di pangkuannya.
“Jimmy, thank you for last night (Jimmy,terimakasih untuk kemarin malam). Kau membuatku susah berjalan pagi ini,” Viola bergelayut manja dan mengalungkan tangannya di leher Jimmy.
“Sure, aku sangat pintar kan?” balas Jimmy.Anita hanya bengong melihat adegan di depan matanya itu.
“Anita,ada apa?” tiba tiba Anita dikejutkan oleh suara Julian yang menepuk pundaknya dari belakang. Jimmy dan Viola juga menoleh bersamaan.
“Eh,maaf aku mengganggu. Julian aku butuh tanda tanganmu.” Anita menyodorkan berita acara pemeriksaan. Julian segera menandatangani yang diminta Anita.
“Arron kan punya,” gerutu Julian tapi tetap mengambilnya juga di laci mejanya. Jimmy melihat dalam diam apa yang dilakukan Anita dan Julian.
“Ju, nanti ajak tamunya makan siang ya di rumah makan.Aku tidak yakin makanan yang dimasak koki Mess memenuhi standar kelayakan disuguhkan tamu.Aku juga mau minta izin pulang lebih awal.Aku butuh istirahat, Yuki dan Li Zen akan handle sisanya.” Anita mengambil berkasnya lalu pergi dari ruangan itu.
Apa yang dilakukan Jimmy dan Viola sungguh menjijikkan,pikir Anita.
“Ini Mas, Nanti setelah semua tanda tangan saya pinjam buat dicopy,” kata Anita dan Faris mengiyakan.
__ADS_1
Anita memegangi perutnya yang sedikit terasa sakit.
Ya Tuhan,semoga aku tidak sakit di saat seperti ini.Aku tidak mau Mas Faris melihatku seperti ini.
Anita meminum air mineral di depannya.
“Dek kamu sakit? Aku akan memanggil sopirku untuk mengantarmu ke rumah sakit,” kata Faris agak panik melihat wajah Anita begitu pucat.
“Jangan Mas,jangan melanggar peraturan,” jawab Anita.
“Aku bawa mobil pribadi bukan mobil dinas,” jawab Faris.
Anita segera ambil ponselnya dan menelpon Yuki.Anita juga menelpon Arini.
“Rin,tolong kamu siapkan berkas berkas ini, Pak Faris mau membawanya.Buatkan tanda terima rangkap dua. Nanti kalau pemeriksa sudah tanda tangan, kamu scan dulu berita acaranya buat Arsip ya.” Anita segera mematikan laptopnya karena perutnya semakin sakit.
Yuki datang dan menghampiri Anita dengan cemas.
“Nona,ayo ke rumah sakit.Rin kamu gantikan aku dampingi Pak Hanan.Biar dokumen itu disiapkan Gea.Tolong bawa laptop Nona taruh di meja Li Zen.Maaf Pak Faris, kami tinggal dulu.” Yuki segera memapah Anita ke luar dari ruang rapat.Faris mengiyakan dan berdiri dengan cemas.
__ADS_1