
Hari itu adalah hari terakhir Anita dan Jimmy melakukan hipnoterapi karena target kemajuannya sangat bagus. Anita sudah tidak merasa takut lagi saat mendapat telpon atau pun chating dengan Jimmy. Ariana sudah kembali ke Roma beberapa hari yang lalu, sedangkan Julian Anggoro masih di Indonesia menuntaskan urusannya yang masih belum selesai.Orang tua Anita pun beberapa kali datang ke Jogja.Jack sudah seminggu kembali ke Amerika untuk mempersiapkan resepsi pernikahannya.
Jimmy melihat ke arah Anita yang sedang sibuk membaca chat dari seseorang.Wajahnya yang berubah muram membuat Jimmy tergerak untuk bertanya.
“Chat dari siapa?” tanya Jimmy seraya mengambil ponsel dari tangan istrinya.
Ia membaca chat itu lalu mengembalikannya kepada Anita.
“Sudah nggak usah ditanggapi, terserah mereka mau gimana. Tidak usah dibalas lagi.Ed, kita lewat jalan Solo saja,” kata Jimmy seraya memeluk bahu Anita.
“Apa aku blok saja nomor Julian dan Siska? Biar mereka nggak mencariku lagi. Aku males ngladeni Siska yang berubah seperti anak kecil. Julian juga kaya nggak ada kerjaan nanya nanya tentang Siska terus.Kenapa nggak langsung nanya aja ke orangnya ?” kesal Anita.
“Namanya saja lagi miring, diapa apain juga malah makin makin.Atau gini saja, kau undang mereka berdua datang, tapi jangan kasih tahu masing masing.Setelah kalian ketemu, kamu bacakan saja pertanyaan Julian untuk dijawab Siska dan pertanyaan Siska untuk dijawab Julian,” kata Jimmy.
“Ogah, repot amat ngurusi orang kumat.Jim apa lusa kita jadi pergi?” tanya Anita.
“Iya,kita pake terminal milik grup Anggoro di kota J. Terminal milik kita masih belum bisa dipakai.Pesawat Jet yang kubeli masih baru dan ada tempat tidur, jadi tidak perlu khawatir kalau kau lelah. Maaf ya, rencanaku jadi berubah.Kita jadi ke Amerika dulu baru ke Eropa.Setelah acara pernikahan Jack, baru jalan ke Eropa.Aku sudah telpon Jin Shu dan Nora kalau kita datang ke Chambridge. Kita nanti bisa transit di Dubai, kota itu indah sekali.”
“Iya.Jim,terimakasih ya sudah berusaha keras bersama wanita sepertiku.Padahal kalau kau mau bisa mendapatkan....”
“Mendapatkan bonus? Ini bonusnya, langsung dua lagi,” kata Jimmy seraya mengelus perut Anita.
“Ed, ada apa? Kenapa berhenti? Bukannya di depan itu jalan menuju rumah kita?” tanya Jimmy.
“Macet Tuan, di depan itu entah ada kecelakaan atau apa,” jawab Edy.
Anita meminta Edy menepikan mobilnya saat melihat ada banyak anak kecil dan beberapa orang dewasa sedang menangis di pinggir jalan dan ada beberapa satpol PP dan beberapa orang yang sedang mengeluarkan barang barang dari dalam sebuah rumah. Anita ke luar dari mobil tanpa sempat dicegah oleh Jimmy.
__ADS_1
“Pak, ini ada apa ya?” tanya Anita pada salah seorang dari mereka.
“Rumah ini digugat dan dimenangkan ahli waris Bu.Kami sudah menghubungi dinas sosial untuk menampung mereka sementara,” jawab pria itu.
“Mereka ini siapa Pak?”
“Rumah ini dulunya dihibahkan kepada panti asuhan Kasih Bunda.Tapi hanya surat hibah tanpa kekuatan hukum karena tidak disahkan notaris.”
Anita terdiam dan melihat ke arah suaminya.Matanya tampak berkaca kaca saat melihat ke arah anak anak kecil itu.
Jimmy segera menelpon seseorang dan berjalan mendekati beberapa wanita dewasa yang ada di antara anak anak kecil itu.
“Maaf Bunda,saja Jimmy. Rumah saya itu yang ada pagar tinggi tidak jauh dari sini, itu yang kelihatan dari sini. Apakah Bunda Bunda ini sudah punya rencana pindah ke mana?” tanya Jimmy hati hati.
Anita menggandeng lengan suaminya yang sedang berbicara dengan kepala panti. Ia tahu walau pun tidak meminta, Jimmy cukup peka untuk tahu apa yang diinginkannya.
“Jim,apa mereka bersedia?” Tiba tiba Tuan besar Anggoro turun dari mobil Box yang dikemudikan oleh Rosid.
Di belakangnya ada beberapa mobil lain yang salah satunya dikemudikan oleh Hans.
Anita menangis melihat ayah mertuanya juga ikut langsung turun tangan memasukkan barang barang ke dalam mobil box.Pria yang setiap berbicara terkesan angkuh dan arogan, ternyata memiliki sisi pengasih pada orang lain yang membutuhkan.Ia bahkan berbicara dan menenangkan beberapa anak kecil yang ketakutan dan memberi mereka es krim dan makanan ringan yang dibawakan seorang pengawal.
Anita hanya bengong saja melihat proses evakuasi anak anak dan pengurus panti hingga tersisa dirinya dan suaminya saja yang ada di situ.
“Ayo pulang, kita ajak mereka makan siang,” kata Jimmy.
Anita memeluk pinggang Jimmy dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Langsung pulang Tuan?” tanya Edy
“Iya Ed,” jawab Jimmy.
Jimmy membangunkan Anita saat tiba di depan pintu utama.
“Ayo ke kamar, istirahatlah kau pasti kelelahan.Biar anak anak itu diurus Daddy dan Wayan.Apa kau tahu, Daddy suka sekali pada anak anak.Di Roma atau di Florence tempat asal Grandpa, Daddy selalu mengunjungi beberapa panti asuhan yang ada di sana di sela sela waktu senggangnya. Tidak hanya menyumbang dana, dia datang kadang membawa mainan dan mengajak mereka bermain. Merencanakan studi wisata dengan pengurusnya.Kadang membacakan buku cerita untuk mereka.Lucunya, kadang Daddy ikut tertidur bersama mereka di aula. Biarkan saja dia melakukan itu karena dia sudah terbiasa.”
“Benarkah? Aku tidak menyangka kalau Tuan angkuh itu seperti itu,” kata Anita.
Anita merebahkan diri saat sampai di kamar.Rasa lelah membuatnya benar benar sangat lemas.Jimmy segera menyadari dan bergegas membuatka susu untuk istrinya.
“Aku sudah meminta Arman membawa makan siang kita ke sini,” kata Jimmy seraya membantu Anita meminum susunya.
“Jim, ayo kita cari rumah buat mereka. Aku ingin membelikan mereka tempat yang layak dan menanggung sekolah mereka.Kau juga harus bantu sumbang biaya hidup mereka.Aku akan bekerja, izinkan aku bekerja lagi ya?” mohon Anita.
Jimmy tertawa cukup keras.
“Daddy tidak akan membiarkan orang lain untuk mengambil kesempatannya. Dia pasti bergerak lebih cepat dari siapa pun, percayalah padaku,” jawab Jimmy.
“Apa maksudmu?”
“Daddy tidak pernah mau berbagi kalau urusan membangun masjid,mengurus anak yatim, biaya pengobatan orang kurang mampu, biaya sekolah.Selama itu terjadi di depan matanya akan dia tangani secepatnya.Tapi coba nanti kau bicara padanya kalau ingin membantu.”
Jimmy membuka pintu saat mendengar suara Arman.
“Thanks Man,” kata Jimmy seraya membawa masuk troli makan siang mereka.
__ADS_1
Jimmy menyuapi Anita karena istrinya itu tampak malas memegang sendok dan piringnya.