CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption225


__ADS_3

Anita membuka matanya,suasana sepi tak ada suara seperti biasa saat ia bangun di rumah.Matanya melihat sekeliling, sebuah kamar berwarna serba putih.Ia mencoba melihat tangannya yang sangat sulit ia gerakkan.Ia melihat sebuah tangkai besi yang tergantung dua buah infus. Satu berwarna merah dan satu lagi bening.


“Dokter, pasien sudah sadar.” Tiba tiba terdengar suara seseorang di ujung ruangan, seorang perawat yang dari tadi luput dari pengelihatan Anita.


Beberapa saat kemudian beberapa petugas medis masuk ke dalam ruangan dan seorang dokter memeriksa Anita.


“Sudah puas tidurnya?” Suara khas dokter Nesya membuat Anita tersadar sepenuhnya.


“Kenapa aku di sini?” tanya Anita serak.


“Kau dan bayimu hampir mati karena overdosis obat tidur.Kenapa masih bertanya? Nona paling tahu apa yang kemarin nona lakukan,” jawab dokter Nesya.


“Aku? Aku hanya tidak bisa tidur, aku hanya minum beberapa tablet,” kata Anita.


“Itu obat dosis tinggi dan jarang diresepkan kalau tidak sangat memdesak.Dari mana Nona dapat obat itu? Berikan padaku sisanya,” pinta dokter Nesya.


“Sudah tidak ada, itu adalah obat penenang yang diberikan temanku. Tapi tinggal itu saja,botolnya sudah kubuang,” jawab Anita.


“Jangan menbohongiku,aku akan meminta Tuan Hans menggeledah kamarmu.Nona, kalau sekali lagi kau lakukan ini,bayimu akan tidur untuk selamanya,” kata dokter Nesya lalu memberi isyarat pada bawahannya untuk memgambil sampel darah Anita sedang yang lain membawakan alat USG dan mendekatkannya kepada dokter Nesya.

__ADS_1


“Lihatlah,janinnya hampir terbentuk sempurna.Jadi jangan melakukan hal hal bodoh kalau tidak ingin mereka terhambat bertumbuh dan lahir dengan kelainan atau pun cacat,” kata dokter Nesya.


Anita mengusap air matanya, iya aku memang bodoh pikirnya.


“Tidak akan dokter,” kata Anita lirih.


Seorang perawat membawa nampan yang berisikan tiga suntikan dengan warna berbeda dan menyuntikkannya melalui selang infus di tangan Anita.


“Kau masih harus di sini hari ini Nona, istirahatlah.Aku akan datang lagi nanti sore.”


Dokter Nesya dan beberapa asistennya pergi.


Sebuah tangan dingin membelai keningnya. Anita membuka matanya dan sesosok pria paruh baya berdiri di samping kepalanya.


“Ada apa Anita?Kenapa kau lakukan ini? Ceritakanlah pada ayahmu ini,” kata Ardian lembut.


Anita tersenyum dan mengusap air matanya.


“Tidak ada Ayah,Anita hanya sedikit bodoh salah baca dosisnya.Anita hanya lelah dan ingin cepat tidur,” jawab Anita.

__ADS_1


“Sejak kecil kau selalu bercerita pada ayah tentang segala hal bahkan tentang temanmu yang mengompol di kelas,” kata Ardian.


“Ayah tidak perlu khawatir,aku bukan manusia cengeng yang tidak bisa jalan sendiri.Obat tidur itu hanya kecelakaan Ayah, katakan pada ibu tidak perlu berfikir macam macam.”


Ardian menganggukkan kepalanya.


“Kau harus melakukan yang dikatakan dokter.”


“Tentu.Ayah pulanglah, katakan pada ibu aku sudah tidak apa apa.Apakah Ayah yang memberiku donor darah itu? Apa aku mengalami animea berat lagi?” tanya Anita.


“Iya, itu ayah yang mendonor.Jagalah dirimu Nita, golongan darah kita ini tidak mudah didapat.Istirahatlah, kalau ada apa apa kau harus mengatakannya kepada Ayah,” kata Ardian.


Anita tersenyum dan mengangguk.


Anita mengelus perutnya,air matanya kembali mengalir.


Aku akan mengurusmu dengan baik walau tanpa ayahmu Sayang.Kita tidak boleh mempermalukan Kakek dan Nenekmu ya.Mami akan mencari tempat tinggal yang nyaman buat kita bertiga.


Anita memalingkan pandangannya ke luar Jendela.Hujan sedikit lebat, bau harum tanah yang tersiram air hujan membuat fikirannya terasa lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2