
Siska mencoba bersikap Normal dan tersenyum manis padanya.
“Julian, kenapa penampilanmu seperti ini? Apa kau baru datang? Ayo masuk dulu, bagaimana kau tahu alamat galeriku? Bukannya aku tidak pernah cerita, jangan jangan Anita ya yang kasih tahu?Silahkan duduk,” kata Siska seraya membawa Julian masuk ke ruang tamu.
“Thanks,akhir akhir ini aku memang tidak mengurus diriku.Maaf Siska,aku datang ke sini memohon bantuanmu. Maaf juga,aku melacak keberadaanmu melalui nomor ponselmu.Tapi aku terpaksa melakukan ini karena tidak banyak waktu.Aku harus segera menemukannya.Karena baru sekitar sepuluh hari yang lalu aku tahu Anita pergi dari rumah.Semua orang merahasiakannya dariku.Ya aku memang bodoh kenapa percaya saja pada mereka,itu karena di perusahaan banyak yang harus langsung kutangani.Aku tidak tahu lagi harus cari ke mana,semua yang bisa dilacak dia tinggalkan di rumah.Keluarga besar melarangku meminta bantuan kepolisian, karena khawatir dia semakin berontak dan lari lebih jauh. Aku sangat khawatir karena dia sedang mengandung.” Julian menghela nafas dan meminum kopi yang disuguhkan seorang penjaga galeri.
Siska hanya diam mendengarkan Julian dengan seksama.
“Apa yang bisa kubantu?” tanya Siska.
“Aku yakin tempat yang paling dia suka adalah Jogja, jadi dia pasti datang ke sini.Aku sudah mencarinya di tempat tempat faforitnya.Tolong jujur padaku apa kau tahu sekarang dia di mana?” tanya Julian.
Siska merasa sedikit gugup karena Julian seakan menuduhnya.
“Maaf Tuan, kami ini dokter yang jadwalnya sangat padat dan kadang juga berubah.Kalau Kak Nita datang ke sini, aku juga pasti tahu karena yang ditelpon dulu mungkin aku.Karena nomor yang dia hafal di luar kepala hanya nomorku,” kata Ihsan yang dari tadi hanya diam saja.
__ADS_1
“Hmm, ngomong ngomong kamu siapa? Nomor suaminya saja tidak dia hafal, bahkan nomor telponnya sendiri,” ketus Julian.
“Julian maaf,dia adikku yang dulu sering antar jemput Anita ke kampus kalau kuliahnya sampe sore.Dia juga sering diminta Anita nganter ke mana mana kalau Anita takut pergi sendiri. Makanya Anita hafal nomor telponnya,” kata Siska.
Julian hanya menatap ketus ke arah Ihsan.
“San cepatlah pergi,bawa juga laptop dan flashdiskku ke tempat biasa,” kata Siska.
Tanpa membantah Ihsan meninggalkan ruangan itu.
“Julian,aku akan membantumu sebisaku.Anita adalah teman,sahabat dan saudaraku.Aku juga khawatir padanya.Aku akan menghubungimu jika bertemu dengannya atau ada informasi tentangnya.Aku akan berusaha cari Informasi ke teman lainnya,” kata Siska.
Siska mengantar Julian sampai ke luar galeri.Sebuah mobil sport abu abu metalik terparkir di depan galeri. Seorang pria muda yang seumuran dengan Julian membukakan pintu.
“Dorris kita ke Hotel,” kata Julian.
__ADS_1
“Tuan,tadi Tuan Besar Anggoro telpon dan ingin bicara dengan Tuan,” kata Dorris.
Julian meminta ponsel Dorris dan menekan redial ke nomor yang dimaksud.Julian sedikit kaget karena yang ditelponnya adalah nomor Indonesia.
“Uncle,” kata Julian setelah tersambung.
“Julian,please back home(pulanglah). Aku akan urus semuanya,kau akan mengacaukan rencanaku kalau kau tetap di sana.Anita tidak bisa dipaksa pulang.Aku akan membujuknya dengan caraku.”
“Kapan Uncle datang? Apa Jimmy juga sudah di rumah?”
“Aku datang bersama beberapa asistenku. Jimmy masih di Roma masih ada yang harus dia tuntaskan.Semoga minggu depan dia bisa pulang.Jack dan Lucas ada bersamanya. Cepatlah pulang.Perusahaan benar benar membutuhkanmu.Aku yang akan menjemput istrinya Jimmy,” kata Julian Anggoro.
“Baiklah.”
Julian mematikan telponnya.Julian menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
__ADS_1
“Dorris kita kembalikan mobilnya dan langsung pulang.Apa helinya perlu diisi bahan bakar dulu?” tanya Julian.
“Saya sudah suruh pilotnya urus,kita bisa langsung pergi.Akan saya telpon dia,” kata Dorris.