CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption312


__ADS_3

Jimmy menyeka air matanya, tangannya masih menggenggam tangan istrinya yang tergolek lemah di ruang ICU.Sesekali ia menciumi tangan itu dan mengutuki dirinya sendiri.


"Anita sadarlah,ini sudah lima hari kenapa belum bangun juga? Ampuni aku Anita,kau boleh memukuliku sadarlah.Anak anak kita sedang menunggumu."


Jimmy memeluk dan menciumi tangan Anita.Ia mengusap pipi Anita yang tampak semakin cantik.


"Ceklek."


Jimmy menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka.Seorang wanita mengenakan jubah dokter memanggilnya ke luar dan membawanya masuk ke ruang kantornya.


"Nes,kau ada di sini?" tanya Jimmy.


"Iya, dua minggu ini giliranku praktek di sini," jawab Nesya sambil membolak balik map rekam medis milik Anita.


"Sudah hampir seminggu,Nes.Apa pengaruh obat biusnya belum hilang?" tanya Jimmy.


"Aku sudah berdiskusi dengan beberapa dokter terkait yang menangani Anita sejak awal.Aku juga menemui psikiater dan memang sejak awal masuk kondisi istrimu bukan hanya drop secara fisik saja,tapi secara psikis juga iya.Sebenarnya apa yang terjadi sebelum ini? Dokter Reynaldi mengatakan,sesaat sebelum dianastesi,Anita mengatakan padanya tolong selamatkan anak anaknya kalau mereka harus memilih.Dalam hal ini istrimu sudah memasrahkan dirinya Jim.Kau tidak di sisinya saat masa terberatnya.Sebenarnya di mana dirimu waktu itu?" cecar Nesya.


"Aku,aku terlambat beberapa menit sebelum dia masuk ke ruang operasi," jawab Jimmy terbata.


"Bukankah sudah kukatakan,dukungan psikis untuk wanita hamil tua,apa lagi wanita yang baru pertama mengandung itu sangat penting.Karena rawan tekanan darahnya naik,mungkin karena takut,cemas,khawatir.Jangan melakukan hal hal yang memancing emosinya.Sebenarnya istrimu keadaannya sudah membaik saat ini, mengenai belum sadar sampai sekarang,dugaan awal kami adalah masalah psikologis.Kami akan memberi rangsangan secara medis, tapi kuharap kau juga memberi rangsangan untuk berkomunikasi dengannya secara kontinyu.Sementara kita lakukan ini dulu," kata dokter Nesya.


"Ini memang salahku,baiklah aku akan berusaha," kata Jimmy seraya bangkitdari duduknya.


Nesya mengantar Jimmy sampai di depan kantornya.


Jimmy berjalan cepat menuju ke ruang ICU di mana Anita berada.Ia tertegun saat melihat Ariana dan ibu Anita sedang berada di depan ruangan Anita sambil menggendong kedua putranya.


"Mom,Ibu.Kalian membawa mereka kemari?" tanya Jimmy.


Ariana mengulurkan minyak telon dengan aroma lavender ke tangan Jimmy.Jimmy menerimanya dengan tatapan penuh tanya.


"Bawa putramu masuk,sentuhkan wajahnya ke wajah ibunya.Siapa tahu ibunya akan merespon.I wish it work," kata Ariana seraya mengulurkan bayi yang ada di gendongannya.


jimmy menerimanya dengan mata berkaca kaca.Ia masih mengenakan pakaian steril saat ke ruangan dokter Nesya tadi.Perlahan ia buka pintu ruangan Anita sambil membawa putranya mendekati ibunya.Perlahan ia tempelkan pipi bayi mungil itu ke pipi Anita.Jimmy tak bisa menahan air matanya.


"Mom,we miss you.Lihatlah Anita,saat hamil kau pasti sering kesal padaku, samapai sampai wajah anak kita sangat mirip denganku.Tidak ada dirimu di wajah mereka.Kita sudah jadi orang tua,bangunlah,kita rawat mereka bersama sama.Sesuai keinginanmu, anak pertama kita kuberinama Excel Alfarizi,yang kedua Jason Alvaro,tentu saja di belakang nama mereka ada namaku,Jimmy Anggoro.Aku tidak bisa memberi nama Ardiansyah di belang nama mereka."


Jimmy membaringkan putranya di lengan Anita,dengan perasaan sedih ia memeluk lembut keduanya.


Jimmy sesengukan membelai lembut pipi Anita.


”Aku tidak sanggup membesarkan mereka tanpamu,jadi cepatlah bangun," kata Jimmy seraya menciumi wajah anak dan istrinya bergantian.


Tiba tiba saja bayi di lengan Anita menangis dengan keras.Jimmy terkejut dan langsung menggendongnya.


"Lihatlah,anak kita juga sedih kalau kau seperti ini."


"Jim," Ariana masuk dengan membawa putra Jimmy yang kedua.


Tiba tiba Jason yang ada di gendongan Ariana pun menangis.


"Bawa ke luar Jim,biar dikasih susu sama pengasuh," kata Ariana kemudian.


Dengan berat hati akhirnya Jimmy melakukan apa yang Ariana katakan. ***


Sementara Anita masih terjebak di alam bawah sadarnya yang terasa nyaman untuknya.


Ia tinggal di sebuah rumah asri yang dipenuhi taman bunga sakura dan bunga daisi.Ada danau dan air terjun tak jauh dari rumah itu.


Anita merasakan kedamaian hingga tak ingin sedikit pun beranjak dari tempat itu.


"Mommy,Mommy..."


Anita menoleh ke arah suara anak anak kecil yang memanggil manggil.


Seorang anak kecil perempuan dan dua anak laki laki yang wajahnya sangat mirip dirinya.


"Hai,cantik,ganteng.Siapa kalian?" tanya Anita.


"Kami kesayangan Mommy," kata anak perempuan itu seraya memberikan serangkaian bunga sakura kepada Anita.


Anita masih bengong dan tidak mengerti dengan apa yang ia lihat dan dengar.


Ketiga anak kecil itu memeluk dan menciuminya.Anita juga membalas mereka dan ketiga anak itu tertawa geli.


"We love you Mommy."


Anita tertegun melihat dari jauh tiga orang pria berjalan mendekatinya.Ketiga anak kecil itu tersenyum dan melambai lambaikan tangannya.

__ADS_1


"Siapa mereka?" gumam Anita.


"Itu Daddy,Mommy," kata anak kecil perempuan.


"Tapi kenapa ada tiga?"


"Anita,ayo kita pulang," salah seorang mengulurkan tangannya.


"Pulang ke mana? Ini rumahku," jawab Anita.


"Ayo pulang Mommy," kata salah seorang dari kembar tiga itu seraya menarik tangan Anita.


"Tidak,aku bahagia di sini," tolak Anita.


"Pergilah Mommy,kami akan di sini menunggu Mommy untuk jemput kami. Daddy butuh Mommy," kata salah satu anak kecil laki laki yang sedang memeluk Anita.


"Tidak,aku tidak mau.Pergilah kalian,aku ingin tetap di sini," tolak Anita.


"Mommy harus ikut kami Mom," kata salah satu kembar tiga itu seraya menarik tangan Anita dengan kuat.


"Iya,ikut kami," kata yang satu lagi.


"Tidak,jangaan," teriak Anita dan tiba tiba saja menjadi gelap.


Sayup sayup terdengar suara tangisan bayi, Anita mencoba membuka matanya tapi sangat sulit.Ia hanya mendengar percakapan dua orang,seorang laki laki dan perempuan.


Beberapa saat kemdian kembali sepi,susah payah ia membuka matanya.Ia ada dalam ruangan bercat hijau muda dan banyak alat menempel di tubuhnya.


Ia ingat,dilakukan operasi cesar karena keram di rahimnya terus berulang.


Air matanya mengalir teringat rasa sakit yang amat sangat dan kelembutan kakek Lucas yang menguatkannya untuk bertahan demi kedua anaknya.


Yah,ayah dan kakek Lucas datang jauh jauh dari Amerika hanya untuk mendonorkan darah untuknya.


Sementara orang yang paling dicintainya ada di tempat lain dan mungkin sedang bersenang senang.


Tapi ia sempat mendengar teriakan Jimmy sesaat sebelum ruangan anastesi ditutup.


Mungkin itu hanya halusinasi saja,pikirnya.


Ia melihat perutnya sudah kembali rata,ada sedikit rasa nyeri di bawah sana.


"A ayah," itu kata kata yang ke luar dari mulutnya.


"Ceklek," pintu terbuka.


Anita kembali memejamkan matanya karena ia tahu Jimmy yang masuk ke ruangan itu.


Hatinya bergejolak karena ia berharap ayahnyalah yang pertama kali ia lihat.


Jimmy duduk di kursi yang ada di sisi brankarnya.


Pria itu menggenggam dam menciumi tangannya.


Punggung tangannya basah,rupanya pria itu menangis tanpa suara.


"Oh,my God.Anita,kau sudah sadar Sayang."


Jimmy memeluk dan menciumi Anita seraya menyeka bekas air mata di pipi Anita.


Tangisnya pun pecah dan dengan gemetar tangannya memencet tombol untuk memanggil petugas.


Beberapa saat kemudian dokter Nesya dan dua orang perawat datang untuk memeriksa.


"Jim,tolong ke luar sebentar," katanya.


"Tidak,aku akan tetap di sini," tolak Jimmy.


"Tuan Anggoro,tolong ke luar atau..."


"Baiklah,baiklah," kata Jimmy akhirnya.


Dengan berat hati Jimmy melepaskan genggaman tangannya.Ia melihat mata Anita sedikit terbuka namun tidak menatap dirinya.


Ada sedikit rasa perih dalam hatinya.


Dokter memeriksa Anita dan melepaskan alat alat yang menempel pada tubuhnya.


Ia segera dipindahkan di ruang rawat di salah satu paviliun VVIP.

__ADS_1


Kedua orang tua Jimmy dan Anita berkumpul di depan ruang rawat tersebut. Sementara perawat mengajari Anita cara yang benar memberikan asi.Lucas tampak datang bersama ayah dan kakeknya,sementara mereka mendiskusikan perihal kecelakaan yang menimpa Jimmy beberapa tahun lalu.


Julian Anggoro memutuskan untuk membuka dan melaporkan kasus itu ke pihak kepolisian setempat.


Bukti bukti sudah lengkap,bisa dibuka kembali atau tidak,tetap harus dilaporkan. Jose sudah meminta anak buahnya untuk mengamankan salah seorang pelaku yang menabrak Jimmy beberapa waktu lalu dan memberinya pekerjaan di perusahaan Mc.Clear dan diharuskan tinggal di asrama dengan penjagaan ketat.


Lucas membawa kakek dan ayahnya ke pusat pengendalian satelit milik Jimmy. Sementara Jimmy dan orang tuanya masih enggan beranjak dari paviliun rumah sakit itu.


"Jim.."


"Iya Dad,aku akan berusaha mengambil hatinya kembali.Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menahan egoku untuk proyek besar itu.Anehnya setelah si kembar lahir aku bahkan muak mendengar Hans membicarakan proyek itu.Mengenai foto foto dan video aku sudah meminta Dicky untuk mendapatkan rekaman CCTV di tempat itu berapa pun harganya," jawab Jimmy.


"Kau tidak perlu mengatakan apa pun pada anak perempuan Barata itu.Biarkan saja dia mendapat kejutan setelah saudara saudaranya ditangkap polisi.Dia juga pasti dicari oleh interpol.Kau juga tidak perlu lagi datang ke kantor untuk bekerja.Biar orang lain saja yang handle semua pekerjaanmu.Kau hanya perlu fokus pada anak dan istrimu.


Jimmy mengangguk, lalu masuk ke dalam ruang rawat Anita.


Ariana ke luar ruangan untuk menemui suaminya.


Sementara ayah dan ibu Anita memangku kedua cucunya yang sedang tidur pulas kekenyangan setelah mendapat asi dari Anita.


Jimmy membelai pipi mereka sejenak lalu menghampiri Anita yang bersandar di tempat tidur yang sedikit ditegakkan. Ardiansyah mengajak istrinya ke luar supaya Jimmy dan Anita bebas berbicara.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Jimmy seraya duduk di tepi brankar.


Anita menggeleng lemah.Jimmy segera meraih tangannya dan menciumnya cukup lama.


Air mata Anita kembali mengalir.


"Aku tidak akan lelah untuk meminta maaf,walau pun aku tahu memaafkan sangat sulit bagimu.Aku tidak akan pernah mengulanginya,Anita.Aku berjanji padamu,aku akan menjadi seperti apa pun yang kau inginkan.Aku akan tinggal di mana pun kau ingin tinggal, meski di lereng gunung sekali pun.Akan kutinggalkan semua yang kumiliki,asal kita bisa bersama membesarkan anak anak kita.Maafkan aku yang tidak jujur, maafkan aku yang sangat egois," kata Jimmy.


"Kenapa kau membawaku kembali dari mimpiku? Aku masih ingin tinggal di tempat indah itu?" tanya Anita dengan air mata yang terus berderaian.


"Kau tidak membawaku,makanya aku memaksamu kembali.Aku tidak bisa hidup tanpamu," jawab Jimmy.


"Kenapa mulutmu itu pandai sekali berbohong.Kau sudah membuktikan kalau kau bisa hidup bahagia dan bersenang senang tanpaku.Jimmy, kita berpisah saja ya.Aku akan tinggal di rumah ayah sepulang dari sini.Akan kubawa anak anak bersamaku,kau tidak perlu khawatir,aku akan mengurus mereka dengan baik.Aku akan bekerja keras agar mereka tumbuh dan mendapatkan pendidikan yang baik," kata Anita.


"Aku mengizinkanmu membawa mereka, tapi dengan satu syarat."


Anita menatap nanar ke arah Jimmy, apakah itu artinya Jimmy setuju untuk berpisah dengannya?


Tiba tiba saja hatinya sangat sakit.


"Apa syaratnya?" tanya Anita karena Jimmy tak kunjung melanjutkan kata katanya.


"Bawa aku juga bersamamu," jawab Jimmy.


Anita menatap Jimmy dengan tatapan yang sulit diartikan.


kepalanya menggeleng pelan.


"Sudah Jimmy,aku tidak sanggup mengikuti langkah kakimu.Kita sudahi saja semuanya,karena suatu hari kau akan melakukan hal yang sama padaku. Aku cukup tahu diri aku bukanlah apa apa untuk dibandingkan denganmu, seorang laki laki sempurna di mata siapa pun,aku..."


Jimmy memeluk dan mencium bibir Anita hingga tak mampu lagi berkata kata.


Ia baru berhenti setelah Anita memukul mukul lengannya karena kehabisan nafas.


"Aku menjadi bodoh dan gila saat kau tak mau lagi bersamaku.Mungkin aku bisa jadi seperti orang gila di pinggir pinggir jalan itu.Kau tahu aku sangat mencintaimu,Anita."


Jimmy memeluk erat tubuh istrinya, sementara Anita hanya diam.Tak bisa ia pungkiri kalau dirinya pun sangat mencintai Jimmy.


"Biarkan aku mencobanya,kau juga harus mencoba hidup berpisah denganku.Kita menikah pun belum genap dua tahun.Tak akan sulit menjalani hidup sendirian.Lagi pula, bukankah kau sudah ada penggantiku? Kau akan punya anak anak lagi darinya."


"Tidak,Anita.Aku hanya akan memiliki anak anak yang kau lahirkan berapa pun jumlahnya.Karena sampai nyawaku ini lepas dari ragaku, kita tidak akan pernah berpisah.Kalau kau tetap pergi,aku akan mengikuti dan mengikat kakimu," kata Jimmy seraya menangkupkan telapak tangannya ke wajah Anita.


Sementara itu,tiba tiba saja pintu terbuka. Januandy masuk bersama Fenny dan Julian.


"Wah,kita salah waktu nih," kata Januandy.


"Yaa,Tuhaan Jimmy.Kau apakan menantu cantikku?" jerit Fenny saat melihat bekas air mata di pipi Anita.


Fenny segera menjewer telinga Jimmy.


"Aduuh,Aunty mengganggu saja orang lagi mesra mesraan," kata Jimmy seraya mengusap usap telinganya.


"Sayang,kau sudah baikan?Syukurlah kau segera sadar,Sayang.Apa kita pindah ke rumah sakit keluarga saja?" tanya Fenny.


"Beberapa hari lagi sudah boleh pulang sepertinya.Tidak apa Tante,di sini saja," jawab Anita.


"Baiklah,sekarang istirahatlah.Kau harus segera pulih,aku akan melihat bayimu di paviliun sebelah," kata Fenny seraya menyelimuti tubuh Anita dan menutup tirai pembatas supaya tidak terlihat dari sofa tempat para laki laki duduk dan mengobrol.

__ADS_1


__ADS_2