
Jantung Anita berdetak sangat cepat, dalam hati ia sangat merindukan sosok itu.Cahaya temaram membuat Anita sedikit ragu,kenapa dia berfikir itu Jimmy?
“Aku tidak perlu kartu diskon itu, karena aku datang mencarimu, Anita.”
Suara berat itu membuat Anita tersadar dia bukan Jimmy.
“Hi Hiro.”
Anita menelan ludahnya saat Hiroshi mendekat kepadanya.
“Ikutlah denganku.”
“Hiro ini sudah malam,kita bicara besok saja ya,” bujuk Anita.
“Ikutlah,jangan sampai aku memaksamu Anita.”
“Lusi, kau boleh pulang dulu.Tidak usah menungguku.Hiro,baiklah kita bicara di luar.”
Lusi mengangguk dan pergi.
Anita menatap wajah tampan yang tampak beku dan dingin yang juga sedang menatap dirinya.Senyum yang dulu selalu terukir di bibirnya, tatapan yang sangat teduh sekarang hanya menyisakan kobaran api di matanya.
“Tunggu, akan kuambil tasku dulu,” kata Anita seraya beranjak ke dalam kantornya.
Anita menyandarkan punggungnya pada tembok ruangannya.
Nafasnya terasa sesak karena harus berhadapan dengan orang yang ingin dihindarinya.
Pintu terbuka, Hiroshi meraih tangan Anita sedikit lebih lembut karena ia sadar telah membuat Anita ketakutan.
“Ayo Anita, waktu kita sangat berharga.”
__ADS_1
Anita mengambil tasnya lalu pergi mengikuti langkah kaki Hiroshi ke luar galeri.Anita mengunci pintu lalu masuk ke dalam mobil Wellfire hitam milik Hiroshi.
“Kita pulang Pak Pri,” kata Hiroshi
“Rumah mana Tuan?”
“Kaliurang,” jawab Hiroshi.
“Hiro, apa apaan kau ini? Ini sudah malam, kalau perlu bicara kita bisa cari resto yang buka sampe jam duabelas malam kan?”
“Pembicaraan kita tidak akan sesingkat itu.”
“Kita bisa bicara sambil jalan,Siska pasti cemas kalau aku tidak ada. Aku akan menelponnya dulu,” Anita mencari ponsel di tasnya.
Hiroshi segera mengambil ponsel Anita dari tangannya.Ia mengutak atiknya sebentar lalu menyimpan di sakunya.
“Hiro,aku akan ikut denganmu.Tapi beritahu Siska supaya tidak bingung mencariku.Kita memang harus bicara dan menyelesaikan yang dulu belum selesai,” kata Anita.
Hiroshi merendahkan setelan kursi hingga Anita bisa duduk dengan nyaman.
Anita melihat wajah Hiroshi mulai melembut.Wajah yang dulu sering ia rindukan saat beberapa waktu tidak datang ke kosan saat sibuk ujian.
“Pejamkan matamu Anita,nanti kubangunkan setelah sampai,” katanya.
Anita pun menurut, ia memang kelelahan dan sangat mengantuk.☆☆
Sementara itu pagi hari saat pulang dari rumah sakit,Siska jadi kalang kabut karena Anita tidak ada.Ia segera memanggil Ihsan karena sangat panik dan khawatir.Apa lagi setelah Lusi menceritakan kalau Anita dibawa seorang pria.
“Ini kalau lihat rekaman CCTV, sepertinya Kak Nita pergi sama Kak Hiroshi,” kata Ihsan.
“Apaaa?” teriak Siska.
__ADS_1
“Anjrit, makanya semalem aku cari dia habis ngomong sebentar terus ngilang.Padahal hari ini ada rapat, masa direktur rumah sakitnya absen. Biar kutelpon sekarang.” Siska segera menghubungi Hiroshi, tapi telponnya tidak aktif,begitu pun Anita.
“San, coba kamu pergi ke rumahnya.”
“Rumah yang di mana?” tanya Ihsan.
“Yang di Sleman dulu lah,” jawab Siska.
“Hais,rumah itu para penjaganya serem serem.Kalau diajak ngomong nggak ada enak enaknya,” gerutu Ihsan.
“Bu Dokter, ada yang cari. Apa Ibu mau menemuinya?” tiba tiba Lusi masuk ke ruang tunggu tamu di mana Ihsan dan Siska berada.
“Iya akan saya temui,kali aja orang suruhan Hiro.Sial,bocah edan.Semoga Anita tidak kenapa napa.”
Siska bergegas menuju resepsionis untuk melihat siapa yang datang mencarinya.
“Wulan,siapa yang datang mencariku?” tanya Siska.
“Siska, aku yang mencarimu,” kata seorang pria yang barusaja bangkit dari duduknya.
“Ah, hai.Ada perlu apa ya? Kenapa saya tidak mengenal Anda,” kata Siska.
“Apa kamu tidak mengenaliku? Aku beberapa kali telpon kamu dan kadang juga ngobrol lewat chat,” kata pria itu.
Siska melihat wajah pria itu secara seksama.Tiba tiba ia teringat seseorang.Tapi kenapa sangat berbeda, wajahnya kusut dan jauh lebih kurus.
“Julian?”
“Ya, aku Julian Anggoro.Adik iparnya temanmu Anita.”
Deg,tiba tiba Siska merasa bingung dan was was.Tapi ia tidak boleh gugup dan harus bersikap tenang supaya Julian tidak curiga padanya.
__ADS_1
Ia tidak mau keberadaan Anita diketahui oleh Julian tanpa persetujuanya.