CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption184


__ADS_3

Bayu segera mengangkat ponselnya untuk meminta dokter Nesya datang ke ruang rawat Anita.


“Fika bersihkan lantainya dengan karbol,” kata Bayu. Fika salah satu asisten dokter Nesya segera melaksanakan yang dikatakan Bayu.


Sementara Jimmy duduk di tepi ranjang sambil memeluk Anita yang masih menangis tanpa suara.Faris berdiri terpaku merasa sangat bersalah.


“Bay, Jim ada apa? Baru saja aku tinggal sebentar. Jimmy, kalau kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sebaiknya pulang saja. Kau akan membuat keadaan tidak membaik.Apa kau lupa apa yang tadi aku katakan, kelelahan psikis akan membuatnya cepat drop,” marah dokter Nesya.


“Baiklah,iya aku salah.Sayang maafkan kekanakanku,” Jimmy mencium pucuk kepala Anita.


Dua orang asisten Nesya segera memasang kembali jarum infus dan jarum transfusi darah di punggung telapak tangan kiri Anita.


“Minggirlah, aku akan memeriksanya,” Nesya mendorong lengan Jimmy.Bayu terkikik.


“Apa tidak boleh aku di sini? Aku ini suaminya,” marah Jimmy.


“Aku tidak bisa memeriksanya kalau kalian pelukan seperti ini. Aku ke luar nih, kamu saja yang jadi dokternya,” ancam Nesya.


“OK baiklah.” Jimmy segera meletakkan kepala Anita di atas bantal.


“Tolong semua ke luar,” kata Nesya.


“Aku juga?” tanya Jimmy.


“Iya,” jawab Nesya galak.


“Jim ke luarlah,aku tidak apa. Jangan mengganggu Dokter,” kata Anita.

__ADS_1


“Baiklah, kalau ada apa apa teriaklah.Aku ada di luar.” Jimmy mencium kepala Anita lalu beranjak ke luar.


“Anita.” Faris mendekati Anita.


“Mas Faris tunggu di luar dulu, setelah dokter selesai aku akan bicara denganmu,” kata Anita.


“Baiklah.” Faris akhirnya beranjak ke luar dengan perasaan was was.


“Mas, Jimmy bertemperamen keras.Jadi kau harus bisa mengambil celahnya,” kata Anita.


Faris berhenti sejenak lalu melanjutkan langkahnya.


Dokter Nesya dan kedua asistennya segera melakukan pemeriksaan kepada Anita.


“Nona, apa yang kau rasakan? Apa sakit di sebelah sini? Atau di daerah sini?” Nesya menekankan dua jarinya di atas perut di bawah rongga dada dan di bawah perut bergantian.


“Tidak sakit Dokter, punggungku yang sedikit sakit,” Jawab Anita. Nesya tersenyum.


“Normal Dokter.Ini sudah saya catat semuanya,” kata asisten Nesya seraya menyodorkan buku rekam medis milik Anita.


“Baiklah, tolong bawakan alat USG ke sini, bawakan yang 4D,” kata dokter Nesya seraya memeriksa data Anita dengan teliti.


“Apa perutmu mual Nona?”


“Tidak Dokter, biasanya kalau pagi waktu bangun tidur saja,” jawab Anita.


Beberapa saat kemudian asisten dokte membawa meja troli yang berisikan alat USG lengkap dengan monitor 14 inc dan meletakkan di samping dokter Nesya.

__ADS_1


Asisten dokter mengoleskan gel di perut Anita dan Dokter menggerakkan alat di atas perut Anita.


“Nona, lihatlah di layar monitor. Ini adalah calon bayimu, ada dua Janin dan keadaannya jauh lebih baik dari yang tadi.Tolong lebih berhati hati dan minum vitaminnya.Minum susu tambahan rutin kalau bisa.”


Anita tersenyum bahagia dan menyentuh layar monitor di dekatnya.


Tanpa terasa buliran bening ke luar dari ujung matanya.


“Baik Dokter, aku akan menjaga diriku sebaik mungkin,” kata Anita.


Asisten dokter segera membereskan peralatannya dan dokter Nesya melepas sarung tangan dan membuangnya di tempat sampah.


“Beristirahatlah Nona, selalu pikirkan hal positif.Karena apa yang kau rasakan dan pikirkan akan berpengaruh kepada janinmu.”


Dokter Nesya beranjak ke luar dari ruangan itu dengan diikuti seorang asistennya.


Jimmy dan Faris berdiri bersamaan.


“Nes bagaimana istriku? Bagaimana anakku?” tanya Jimmy.


“Tidak ada masalah serius, kau harus menjaga sikapmu.Emosi istrimu harus stabil,” jawab Nesya.


“Ya,” jawab Jimmy.


“Pak Jimmy,tolong izinkan saya berbicara dengannya sebentar. Maaf tadi saya begitu emosi karena menghawatirkan dirinya,” kata Faris.


“Baiklah, mari masuk. Bay, apa kau masih akan terus di sini?” tanya Jimmy.

__ADS_1


“Aku bebas saat ini, beberapa jam lagi aku akan melakukan operasi.Jadi aku ingin bersantai sejenak,” jawab Bayu.


“Baiklah, mari silahkan.” Jimmy membawa Faris masuk ke ruang rawat Anita.


__ADS_2