
Sampai di kamar Anita meminta Irene meninggalkan dirinya.
“Aku akan menemani Nona di sini,” kata Irene.
“Tolong aku ingin sendiri Nona Irene, aku harus memikirkan baik baik dan memutuskan apa yang harus aku lakukan besok,”kata Anita.
“Baiklah, kalau Nona memerlukan saya, pencet tombol warna putih yang ada samping nakas itu.Akan langsung tersambung ke ruangan saya.”
Anita mengiyakan dan Irene pun meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Irene Anita menumpahkan kekesalan pada dirinya sendiri.Ia menangis sambil memukuli wajahnya sendiri.
Ia meringkuk di lantai sambil menangis tersedu sedu.
“Ibu maafkan aku, aku tidak pantas jadi putrimu.Karena keegoisanku ibu hampir celaka.Aku tidak pantas lagi pulang ke rumahmu, aku tidak pantas lagi bertemu denganmu.Aku hanya memasukkan tujuh butir kenapa bisa mencelakai orang? Apa benar yang dikatakan orang itu? Kalau benar yang dia katakan, aku memang pantas masuk penjara,” Anita kembali menangis.
Malam itu Anita terus memanjatkan do'a untuk ibunya.Ia pikirkan baik baik jawaban apa yang harus diberikan untuk Tuan besar itu.☆☆☆
Anita membuka matanya saat sinar matahari menembus ke kamar besar itu dari sela tirainya.Ternyata sudah ada yang membuka tirai tebal dan menyisakan tirai tipis semi transparan pada jendela kaca besar di samping meja makan kecil.
Segelas susu panas, pastry dan butter ada di sana. Anita jadi teringat Jimmy yang selalu membuatkannya susu hangat setiap pagi.
Anita melihat jam dinding sudah jam sembilan lebih.
Ia memang baru bisa tidur setelah subuh.
Anita segera pergi ke kamar mandi untuk membersihan diri.
Kamar mandi yang sangat besar dan benar benar seperti kamar mandi di kerajaan yang lihat di majalah majalah luar.
Sayang sekali, mungkin sebentar lagi dia akan melihat yang sebaliknya.Kamar mandi yang mungkin luasnya hanya satu meter persegi di penjara.
Selesai mandi ai mengeringkan rambutnya yang sudah mulai panjang.
Setelah berganti pakaian ia mencari cari tas dan ponselnya,dan ternyata tidak ada di mana pun.
__ADS_1
Akhirnya Anita duduk di meja makan yang ada di dekat jendela karena sangat lapar.
Ia memakan pastry itu dengan sangat lahap.Anita yang bisanya hanya sanggup makan satu, sekarang makan tiga juga belum merasa kenyang.
Setelah meminum susunya, ia bermaksud menemui pria itu.
Tapi belum sempat ia beranjak dari duduknya,terdengar suara pintu kamarnya diketuk.Terdengar suara berat pria paruh baya itu di luar.Anita hanya diam saja sàat Tuan besar itu mohon izin untuk masuk.
“Kenapa tidak menjawabku? Apa sopan seperti itu?” tanya pria itu.
Anita memalingkan wajahnya ke luar jendela dan melihat pemandangan yang begitu luar biasa di sana.
“Maafkan aku Tuan, aku baru bangun dan bermaksud akan menemuimu.Tapi Tuan Agustian sudah repot repot datang ke sini sungguh sebuah kehormatan untuk saya,” jawab Anita.
Pria itu duduk berhadapan dengan Anita.
“Kau sangat cantik, pantas saja putraku tertarik padamu dari pertama melihatmu.”
“Apa kami pernah bertemu?”
Anita terdiam beberapa saat.
“Terimakasih Tuan,tapi kau menilaiku terlalu tinggi untuk penjahat sepertiku. Kapan Tuan akan melaporkan kasusku ke polisi? Aku akan menunggu polisi datang menjemputku,” kata Anita.
“Kau menantangku?”
“Tidak.Aku bukanlah wanita yang baik untuk siapa pun.Karena aku sudah mencelakai banyak orang, aku memutuskan untuk menerima hukumanku.”
“Nita Anakku,Kau tidak boleh melakukan itu.”
Anita sangat kaget tiba tiba ayahnya sudah ada di belakangnya dan memeluknya.
Air matanya Anita berjatuhan tanpa bisa dicegah.
“Pikirkan anakmu, pikirkan ibumu.Kalau kau masuk penjara, ibumu akan menjadi penghuni ICU Anita.”
__ADS_1
Ardian menangis tersedu sedu sambil memeluk putrinya.
Agustian bangkit dari duduknya dan menenangkan ayah Anita.
“Duduklah Pak Ardian, kita akan bicarakan baik baik masalah ini.
Akhirnya ayah Anita sedikit lebih tenang, Agustian memanggil pelayan untuk mengantarkan teh hangat ke ruangan itu.
“Nita,ibumu meminta Ayah untuk menjemputmu.”
“Tidak Ayah,aku tidak pantas disebut anak. Aku...”
“Menikahlah dengan putra Tuan Agustian.”
“Aku ini masih istrinya Jimmy Ayah,aku tidak ingin menikah dengan siapa pun lagi.”
“Putra Tuan Agustian sangat baik dalam berperilaku dan Ayah yakin dia akan memperlakukanmu dengan baik.Ayah sudah sering bertemu dengannya.Dia pria yang sangat sopan dan menghargai orang yang lebih tua,” kata Ardian.
“Lalu bagaimana dengan statusku sebagai istrinya Jimmy,walau pun belum menikah secara hukum aku..”
“Jimmy menelpon Ayah beberapa waktu lalu dan memberimu talak Anita.Ayah tidak bisa melihatmu mengandung tanpa seorang ayah untuk bayimu.Putra Tuan Agustian menawarkan diri untuk mengakui kehamilanmu sebagai miliknya.Nita, ayah sudah tua dan sangat lelah.Ibumu yang lebih menginginkan kau menikah dengannya.”
“Setidaknya, kalau kau tidak mengasihani dirimu, kasihanilah bayimu,” kata Agustian.
Anita diam dan menyeka air matanya. Jimmy sudah memberinya talak, itu berarti dia akan segera menikahi orang lain.
Perasaan sakit yang amat sangat membuatnya tidak mampu membalas ucapan ayahnya.
Ardian memeluk dan mencium kepala putinya.
“Kapan putramu datang Tuan? setidaknya aku ingin bicara dulu dengannya ,” tanya Anita.
“Apa itu berarti kau setuju? Baiklah akan kuminta dia datang secepatnya.Dia masih di luar negri untuk mengurusi bisnis kami. Dia pasti meninggalkan semuanya kalau tahu kau ingin menemuinya,” kata Agustian.
“Aku hanya ingin memastikan jawabanku Tuan, setelah berbicara dan bertemu baru akan aku putuskan setuju atau tidak,” jawab Anita.
__ADS_1