
Jimmy mengeringkan rambutnya dengan handuk sementara Anita sibuk memilih pakaian untuk suaminya.
“Aku pakai yang casual saja, kemeja lengan pendek,” kata Jimmy di belakang istrinya.
“Kalau begitu pilih sendiri,” kata Anita.
Jimmy mengambil pakaian yang diinginkannya.
“Ini bagus?” tanyanya.
“Iya, kau selalu tampan pakai apa pun,” jawab Anita.
“Bahkan aku tidak berpakaian pun aku masih sangat tampan. Ayo pakaikan,” Jimmy tertawa melihat bibir manyun Anita.
“Kenapa seperti anak TK yang mau ke sekolah harus dipakaikan baju sama ibunya.”
“Nanti kalau kita punya anak, kau akan sangat sibuk karena aku akan mengantri di belakang anakmu,” Jim tertawa senang melihat wajah lucu istrinya saat sedang kesal.
“Cupp.” Ciuman singkat mendarat di bibirnya.
“Sudah selesai,sekarang aku yang ganti pakaian.Aku akan membantu Li Zen mempersiapkan pemeriksaan.” Anita meraih pakaiannya,tapi tangan Jimmy lebih cepat mengambilnya.
“Biar aku pakaikan,” Jimmy melepas tali kimono Anita.
“Tuh kan ngiler, kalau begini terus kamu akan melepas pakaianmu lagi dan kita tidak akan berangkat ke mana pun.”
Anita mengambil pakaian di tangan Jimmy dan dengan cepat memakainya.Ia bergegas ke meja rias dan mengeringkan rambutnya, memulaskan sedikit makeup ke wajahnya, memberikan sentuhan sedikit pada alis lebatnya.
__ADS_1
“Sayang cukup ya, kamu sudah cantik.Tidak perlu dandan lagi, aku tidak bisa membiarkan pria lain menikmati pesonamu.” Jimmy mengambil kapas wajah dan menipiskan riasan Anita.
“Suamiku,jangan berlebihan. Tidak ada yang tertarik padaku selain pria bodoh sepertimu.”
“Kau berani mengataiku Nyonya,” Jimmy memeluk Anita dari belakang.Tiba tiba ponsel Jimmy berbunyi,ada panggilan masuk.Jimmy nengangkatnya dengan malas.
“Sebentar lagi aku ke sana,” katanya lalu mematikan ponselnya.
“Anita,aku ingin memelukmu seperti ini,” Jimmy memutar tubuh Anita hingga saling berhadapan dengannya. Dengan lembut ia menciumi wajah Anita,pipinya,bibirnya.
“I love you,” bisiknya.
“I love you tòo my love,” jawab Anita.
“Aku pergi dulu,aku pasti sangat merindukanmu,” Jimmy mengambil ponselnya lalu beranjak ke luar.Ia menatap Anita cukup lama sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
Akhirnya ia pun menelpon Edy supaya menunggunya di depan pintu utama.
“Ke Impack Pak Edy,” kata Anita.
“Baik Nona,” Edy melajukan mobilnya menuju ke arah Impack International.
“Tadi Tuan Jimmy pergi dengan siapa?” tanya Anita.
“Dengan Tuan Corvin Nona,” jawab Edy.
“Oh, ya sudah,” kata Anita.
__ADS_1
Sesampai di pabrik Anita segera menemui Li Zen di departemen keuangan. Mereka tampak sibuk menyiapkan data data pemwriksaan.Anita langsung ikut bergabung dengan mereka.
“Zen, kenapa dokumen dokumen ini asal saja ngepaknya?” tanya Anita.
“Arini, panggil beberapa OB suruh pindahkan semua ke ruang meeting milik Accounting dan diperiksa ulang,” kata Anita.
Arini melakukan apa yang diminta Anita.
“Anita, aku yang mengarahkan mereka.Apa ini salah?” tanya Li Zen.
“Bukan salah,tapi ini akan bermasalah kalau datanya dibawa pemeriksa.Rawan hilang kalau begini cara packingnya,” jawab Anita.
Arron yang dari tadi hanya duduk memperhatikan menyunggingkan senyum di bibirnya.
“Arini, bukannya kau bertahun tahun bekerja di sini.Harusnya kau sangat faham file dikumen.Kenapa tidak kasih tahu Li Zen?” tanya Anita.
Arini hanya menunduk tanpa membantah.Beberapa saat kemudian beberapa orang OB datang dan memindahkan semua dokumen ke ruang meeting.
“Dokumen Expor Impor taruh berkelompok, satu bulan satu karton, urutkan tanggal dan nomornnya, sama juga dengan dokumen pembelian lokalnya. Laporan laporan lainnya. Berikan label pada kartonnya supaya mudah dicari.Diah, kamu siapkan soft copy file, mereka pasti minta.Berikan pada Li Zen untuk dicocokkan dengan print outnya,” kata Anita.
“Iya,” jawab Diah.
“Zen, datanya satu tahun ke belakang, dan juga tahun berjalan.Dari Januari sampai bulan lalu.Bulan ini sebelum tutup juga harus diperiksa jangan sampai ada salah entry,” kata Anita.
“OK,” jawab Li Zen.
Arron segera mendekati Anita dan memberinya sebotol air mineral dingin kepadanya.
__ADS_1