
Sepanjang hari itu Anita menemani Hiroshi untuk sekedar membicarakan masa lalu dan teman teman mereka.
Anita melihat ponselnya karena ada pesan masuk.
“Hiro Rosid sudah ada di pantai menungguku. Ini sudah sore Hiro aku harus segera kembali. Kau pulihkan dirimu, besok bisa menyusul ke Jogja ya,” kata Anita.
Hiro bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Anita.
Dengan perasaan bingung Anita menyambut uluran tangan itu.Tiba tiba Hiroshi memeluk Anita erat erat.
“Hiro?”
“Selalu ingatlah Anita,aku sangat mencintaimu. Sampai kapan pun, datanglah padaku saat dirimu membutuhkan seseorang disaat kamu bersedih atau tidak ada lagi yang menginginkanmu.”
“Hiro,tentu saja.Jangan menangis seperti anak kecil, aku hanya kembali ke Jogja.Akan kubereskan dulu barang barangku.”
Anita mengusap air mata Hiroshi lalu beranjak ke kamarnya untuk mengemasi beberapa potong pakaiannya.
Hiroshi memanggil Priyono untuk mengantar Anita ke dekat pantai.
Anita menelpon Rosid setelah Priyono pergi.
“Bu Anita,” panggil Rosid saat melihat Anita duduk di sebuah bangku di dekat pujasera.
Anita segera menghampiri dan masuk ke dalam mobilnya.
“Sudah lama Sid?”
“Tidak Bu, saya baru sampai.Langsung pulang?” tanyanya.
“Iya,” jawab Anita.
__ADS_1
Anita membuka tasnya untuk mengambil air mineral yang tadi dibawanya.
Ah,mukenaku tertinggal,pikirnya.Sudahlah kalau aku kembali malah akan membuat Hiroshi merengek lagi.
Anita memejamkan matanya karena masih sangat mengantuk.
Anita membuka matanya saat ada yang mengguncang bahunya.
Seorang wanita yang mengenakan setelan jas dan celana hitam.Cantik namum dapat dibilang juga berwajah tegas.
“Kamu siapa?” tanya Anita.
“Silahkan turun Nona?”
Anita melihat Rosid sedang berbicara dengan seorang pria yang mengenakan pakaian yang sama dengan wanita yang ada di hadapannya itu.
Ia segera ke luar dari mobil dan bermaksud menghampiri Rosid, tapi wanita di sampingnya itu mencegahnya.
“Ikuti saya Nona.”
“Ini adalah rumah majikan saya Nona,Tuan Besar Agustian.Mulai hari ini Nona akan tinggal di sini.Nanti Tuan akan menemuimu,” kata wanita itu.
“Kamu pasti salah orang, aku tidak kenal Tuanmu,” protes Anita.
“Tentu saja tidak salah orang Nona, Izmi Reanita Ardiansyah.Putri bapak Ardiansyah Rustam dan ibu Ana Istiani.Kakak kandung dari Aksal Rahadi Ardiansyah,” kata wanita itu.
“Cukup, siapa kalian? Aku mau pulang, Rosid ayo kita pergi.”
Anita membuka pintu mobil, tapi dihalangi oleh wanita itu.Rosid yang mendengar teriakan Anita segera menghampiri.
“Bu Anita,” katanya.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa nyasar ke sini? Ayo kita ke Galeri,” kata Anita.
“Bu Anita maafkan saya.Tapi ini adalah tugas terakhir saya,mengantarkan Ibu ke tempat yang seharusnya.Untuk ke depannya mungkin kita tidak akan bertemu lagi.Saya mohon maaf Bu,” kata Rosid yang kemudian beranjak dan duduk di belakang kemudinya.
“Rosid apa maksudmu Sid? Kenapa kau tinggal aku di sini?!” teriak Anita.
Mobil Rosid melaju kencang melalui jalan yang panjang lalu menghilang di balik gerbang.
“Ikut saya Nona, akan saya tunjukkan kamar Anda,” kata wanita itu.
Dari pakaiannya Anita bisa menebak kalau mereka adalah pengawal.
Ahirnya Anita mengikutinya, mereka menaiki tangga ke lantai dua.Rumah yang sangat besar itu sangat sepi.Hanya ada beberapa pelayan rumah dan sekitar sepuluh pengawal yang berpakaian sama dengan wanita yang berjalan di depannya itu.
“Ini kamar anda Nona,di dalam lemari itu ada pakaian anda dan yang sebelah itu adalah kelengkapannya.Perlengkapan mandi juga sudah disiapkan.Kalau Anda butuh pelayan bisa pencet tombol biru di dinding itu.Kalau butuh sesuatu di dapur, atau memanggil koki silahkan pencet tombol merah.Kalau Anda merasa tidak enak badan, tombol warna hijau akan langsung terhubung ke poliklinik” kata wanita itu.
“Tolong katakan padaku,siapa majikanmu itu dan kenapa membawaku ke mari? Aku tidak mengenal seseorang yang bernama Agustian,” kata Anita.
“Nanti Nona akan tahu dan bisa menanyakan langsung padanya.Saat ini Tuan Besar sedang ada urusan di Solo, nanti malam baru sampai sini.Nona istirahat saja, saya permisi.”
Anita tidak bisa berkata apa pun saat wanita itu ke luar dan menutup pintu.
Yaa Tuhan,apa aku sedang disekap pikirnya.Anita duduk di ranjang dan melihat isi kamar yang sangat luas dan mewah. Tiga kali lebih luas dari kamarnya yang ada di rumah Jimmy.Ada sebuah pantry kecil dengan kompor listrik,kulkas besar, microwave.
Anita merasa penasaran dengan almari pakaian yang tadi dikatakan pengawal wanita itu.
Ia segera menghampiri dan membukanya, mulut Anita terbuka lebar saat melihat ratusan pakaian yang sepertinya pas untuknya.
Oh my God, berarti dia tahu aku sedang hamil dan ukuran pakaianku.
Anita jatuh terduduk di depan lemari it
__ADS_1
Siapa dia,siapa dia?
Pertanyaan itu terus bersarang di kepala Anita.