CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption171


__ADS_3

Julian memarkir mobilnya di garasi dan membawa Anita masuk ke dalam rumahnya.


“Yusna,siapkan kamar tamu untuk Nona Anita.Dan ini, suruh Doris belikan di Mall Central,butik langganan ibuku.” Julian memberikan selembar kertas kepada pengurus rumahnya.


“Akan kubuatkan bubur, duduklah,” kata Julian.


“Biar saya buatkan Tuan?” kata Yusna.Julian segera menyerahkan bahannya kepada pengurus rumahnya itu lalu duduk di sebelah Anita.


“Bolehkah aku minta air? Akan kuminum obatnya,” kata Anita.


Julian segera bangkit untuk mengambilkan air dalam gelas.


“Julian terimakasih dan maaf membuatmu repot,” kata Anita seraya meminum obatnya.


“Aku tidak merasa repot,” jawab Julian.


“Ini buburnya Tuan,kamar tamunya juga sudah siap,” kata Yusna.Julian hanya mengangguk.


“Ayo kusuapi,” kata Julian.


“Biar kumakan sendiri.Ini masih sangat panas,aku mau mandi dulu.Julian,aku tidak membawa baju ganti satu pun.Bisakah kau menolongku?” Anita menuliskan sesuatu di kertas dan menyodorkannya kepada Julian beserta kartu debitnya.


Julian tersenyum mengejek.


“Aku sudah suruh seseorang membelikkan beberapa potong pakaian untukmu,” kata Julian.


“Kalau begitu nanti berikan struknya padaku,akan kutransfer uangnya,” kata Anita.

__ADS_1


“Ngomong lagi kucium lho,” kata Julian.


Anita bergegas pergi ke kamar tamu sebelum Julian benar benar kesurupan.


Ia segera membersihkan diri dan mengambil piyama yang ada di dalam paperbag di atas kasur lalu kembali duduk di sofa menghampiri Julian.


Anita memakan bubur di atas meja yang masih hangat.


“Kenapa tidak dihabiskan?” tanya Julian.


“Nggak bisa,perutku mual. Nanti muntah kalau diteruskan. Nanti kumakan lagi, harus dìkit dikit kalau makan,” jawab Anita.


“Mana obat tidurku?”tanya Anita.


Julian merogoh saku jasnya yang ditaruh sembarangan di atas sofa.


“Minum setengah tablet saja,” Julian mengambil gunting steril di dalam kotak obat untuk membaginya.


“Nggak, ini obat dosis tinggi.” Ngotot Julian. Akhirnya Anita menurut dan minum hanya setengah tablet.


“Julian,aku mau tidur dulu.Aku berharap besok rasa lelahku hilang dan melupakan semuanya,” kata Anita.


“Anita,kalau benar Jimmy tidak menginginkanmu lagi pergilah denganku.Ayo kita menikah dan hidup jauh darinya.Aku akan membawamu ke mana pun kau ingin pergi.Di mana pun kau ingin tinggal,” kata Julian serius.


“Jangan membuat masalah dan menyepelekan keluarga besarmu.Hiduplah dengan baik, hidup denganku berarti menyulut api di dalam jerami. Aku belum berpikir akan melakukan apa dan harus bagaimana kedepannya. Aku pasti bisa melupakan semua hal yang berhubungan dengan Jimmy termasuk dirimu,” jawab Anita.


“Aku akan memaksamu kalau kau tidak mau.Aku tidak peduli walau dikeluarkan dari keluarga Anggoro.Aku punya banyak usaha lain di luar keluarga Anggoro, aku pasti bisa memanjakanmu seperti Jimmy. Tidak masalah hatimu belum untukku,aku akan menunggu saat itu.Sekarang tidurlah,kau akan kelelahan nanti,” kata Julian.

__ADS_1


“Anita.” Julian menguncang bahu Anita karena diam saja.


“O my God,ternyata sudah tidur.Hebat juga obat itu, minum separuh saja sudah seperti ini.Pantas saja apoteker tadi berkali kali memperingatiku.”


Julian segera menggendong Anita ke dalam kamar tamu dan menyelimutinya.


Setelah berdiri beberapa lama akhirnya Julian ke luar dan menutup pintunya.


Ia beranjak ke kamarnya dan membersihkan diri setelah itu ia memeriksa rekaman CCTV yang tadi diambilnya.Beberapa kali ia mengumpat dan mengutuki Jimmy.


Beberapa saat kemudian Julian mendengar keributan di depan rumahnya.Ia segera melihat CCTV melalui ponselnya, Ia melihat Jimmy datang bersama Marcel dengan wajah yang sangat sulit diartikan.


Berkali kali bel pintu berbunyi, Julian bergegas ke luar dari kamarnya.


“Doris jangan bukakan pintunya,biar aku yang menemuinya.”


Julian membuka pintu dan Doris mengikuti di belakangnya.


“Katakan di mana dia?” tanya Jimmy dingin.


“Kau mau apa?Kalau sudah tidak menginginkannya aku akan membawanya pergi darimu.Aku mencintainya jauh sebelum dirimu kau juga tahu itu,” balas tanya Julian.


“Dia istriku,kau tidak perlu ikut campur urusanku.Aku akan membawanya pergi,” kata Jimmy.


“Cih,kau mencarinya setelah puas meniduri wanita itu.Apa kau tahu dia menangis sepanjang jalan,dia sakit tidak hanya fisiknya.Pergilah jangan ganggu dia.”


“Julian! Aku akan pecahkan kepalamu kalau kau menghalangiku dan menyembunyikannya dariku.”

__ADS_1


Tiba tiba Jimmy menodongkan sebuah pistol ke arah kepala Julian.


Doris yang ada di belakang Julian pun melakukan hal yang sama dan mengarahkan senjatanya ke arah Jimmy.


__ADS_2