
Sore itu Jimmy dan Anita disibukkan dengan Fitting pakaian untuk acara nikahan.Pegawai butik datang setelah makan malam.Masih banyak yang perlu dibenahi.
Jimmy mengangkat ponselnya saat ada panggilan masuk.
“Sayang,aku akan menemui ayahku dan ayahmu.Ada hal penting yang ingin mereka bicarakan.Kalau sampai malam belum kembali,kau tidur duluan ya,” kata Jimmy seraya mencium keningnya.
“Kau juga jangan terlalu malam,Jim.Kau baru sedikit membaik,pakai sweatermu ya,” jawab Anita seraya menghampiri lemari pakaian Jimmy.
Ia mengambilkan sweater warna biru gelap milik Jimmy.
“Jangan menungguku,kau harus banyak istirahat,” kata Jimmy lalu ke luar dari kamar mereka.
Anita ditemani Irene melanjutkan urusannya dengan pegawai butik hingga jam sepuluh malam.
Anita meminum susu hangat yang dibuatkan Irene.
“Pergilah Ren, aku juga mau istirahat. Kau pasti lelah mengurus semua, makasih ya,” kata Anita.
“Baik Nona, kalau ada sesuatu panggil saja saya,” kata Irene lalu berlalu pergi dari kamar Anita.
Anita merebahkan diri di kasurnya, sangat empuk dan luas.
Ia mengusap bagian yang tadi ditiduri Jimmy.Tidak berbekas tapi bau Jimmy masih berbekas di situ.
Anita terlelap setelah sekian menit, kantuk yang luar biasa menghampirinya. ☆☆☆☆
Anita terbangun saat matahari sudah tinggi, ia melihat jam dinding sudah jam delapan.Tapi ia sangat terkejut karena ia tidak sedang berada di kamarnya.Kamar berwarna pink pastel dan tidak begitu luas.
__ADS_1
Apa ini? Sepertinya aku pernah di sini pikirnya.
Setelah mengamati ruangan itu dengan seksama, akhirnya ia sadar kalau ruangan itu adalah kamarnya sendiri, air matanya mengalir saat matanya tertuju ke laci meja riasnya.
Di dalam laci itu ada barang barang yang ditinggalkannya. Dengan tangan gemetar ia mencoba membuka laci itu. Suara tangisnya semakin jelas saat laci itu terbuka, ia tidak melihat ponsel itu. Mungkin seseorang telah membawanya. Barang yang lain masih ada di tempatnya. Pintu kamar tiba tiba dibuka, Jimmy tampak panik melihat Anita bersimpuh dan menangis di depan meja riasnya.
"Anita, Sayang.Maaf aku melakukan ini tanpa membicarakannya lebih dulu denganmu, " Jimmy memeluk erat istrinya.
"Kenapa kau membawaku pulang? Aku tidak mau ada di sini, Jimmy, " Anita menangis semakin keras.
"Jim, what's going on (ada apa)? " tiba tiba Jack muncul di pintu.
"Jack, don't allow anyone getting Upstair (jangan biarkan ada yang ke lantai atas), " kata Jimmy.
Jack mengangguk mengerti lalu menutup pintu kamar.
"Katamu kita akan menikah, aku ingin menikah di Jogja. Kenapa sekarang kita ada di sini? Aku tidak mau di sini Jimmy. "
"Sayang, aku punya alasan untuk menolak keinginan Ayah dan Daddy untuk menikahkan kita di Jogja. Karena kau harus pindah domisili dulu dan acara itu diundur lagi. Aku sudah mengurus paspor dan visamu dan itu perlu waktu lumayan lama baru dapat. Aku tidak mau ada masalah dengan itu. Yang kedua, aku tidak mau menunda untuk mendapatkan surat nikah, jadi walau pun kita harus langsung menikah di kantor KUA aku tidak peduli lagi. Jadi aku putuskan untuk membawamu pulang, besok kita menikah di sini. Anak kita perlu membuat akta kelahiran dan sebagainya, aku tidak mau menundanya lagi karena alasan apa pun," kata Jimmy seraya mengusap air mata Anita.
"Jimmy, aku malu ada di sini. Aku sudah mencelakai banyak orang, mencelakai ibu juga pengawal pengawalmu.Di mana harus ku taruh mukaku, ibu sakit karenaku," tangis Anita.
Jimmy membawa Anita ke tempat tidur.
"Mereka hanya tidur sebentar, Anita Sayang. Aku akan menghukum mereka semua karena istriku hilang," Jimmy tersenyum dan memeluk Anita.
"Jangan, mereka tidak bersalah. Kalau kau lakukan aku akan lari darimu," ancam Anita.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Kenapa kau suka sekali lari dariku. Kenapa kau tidak merasa lelah, dari dulu aku mengejarmu seperti orang gila sampai sampai aku diseret Daddy ke psikiater. Bahkan Daddy juga sampai ikut ikutan mengejarmu, Anita. Jangan pernah lari lagi OK, " kata Jimmy.
Anita tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Jimmy.
Terdengar ketukan pintu, Jimmy membukakan pintu. Sementara Anita segera memalingkan badannya saat tahu ibunya yang datang.
Ana tampak tercengang melihat Anita tidak menyambutnya. Jimmy mengambil nampan yang ada di tangannya.
"Ini untuk Anita Bu? " tanya Jimmy. Wanita itu mengangguk dan air matanya mengalir begitu saja.
"Sayang, jangan begitu pada ibu," kata Jimmy seraya membelai rambutnya.
"Ibu maafkan Nita, Nita tidak pantas menjadi putri Ibu. Anak mana yang sanggup berbuat jahat pada orang tuanya. Nita akan segera pergi setelah acara nikahan besok. Maaf Nita masih merepotkan Ibu, " kata Anita.
Ana menangis tersedu sedu, ayah Anita yang sedari tadi berdiri di depan pintu segera memeluk bahu istrinya.
"Nita, tidak ada yang keracunan di sini. Ibu sakit bukan karena keracunan obat, tapi mikir Nita pergi dari rumah dalam keadaan seperti itu. Ibu nangis tiap hari minta ayah segera mencarimu. Sekarang Nita pulang malah mau pergi lagi. Ibu ingin Nunggui Nita sampai melahirkan," kata Ardian seraya duduk di samping putrinya.
"Tapi kata Tuan Agustian.."
"Dia itu pinter ngomong, Daddy hanya ingin menjatuhkan mentalmu karena tahu kelemahanmu adalah Ibu. Sekarang makanlah, biar kusuapi, ini rendang kesukaanmu. Atau ingin makan yang lain. Sayang, hari ini kerabat kerabat jauh akan datang, ibu dan kakakku Jonathan juga akan datang. Kau tidak boleh kusut karena nangis terus gini."
Jimmy menyuapkan makanan ke mulut Anita, ia tersenyum melihat Anita mulai melunak.
"Ayah, Ibu. Biar Anita di kamar dulu, nanti akan saya ajak dia ke luar, " kata Jimmy.
Ardian mengajak istrinya ke luar dari ruangan itu. Ardian memeluk bahu istrinya karena masih melihat kesedihan di wajahnya
__ADS_1