
Jim mengambil uang sepuluh juta dari brankasnya.Ia terdiam saat melihat memo kecil yang ada di dalamnya.Tulisan tangan Anita.
"Ambil uang Jim 200 ribu, beli sosis bakar 5 ribu, Cilog 5 ribu, milkshake coklat 10 ribu, sisanya dipegang Anita 180 ribu," Jim tersenyum, sampai akhirnya ia terkikik sendiri. Ia mengambil gambar dengan ponselnya lalu mengirimnya ke group yang anggotanya hanya dirinya,ayahnya dan Jonathan kakaknya.Dengan menambahkan keterangan.
"Aku tidak perlu kerja keras, istriku aku kasih debit Card tidak pernah digunakan.Aku kasih brankas yang tiap bulan kuisi 500 juta hanya ngambil 200 ribu.cuma buat beli sosis sama cilog lagi hahaha," Jim menambahkan emotikon tertawa.
Beberapa saat kemudian terdapat balasan dari Jonathan.
"Nemu di mana istri seperti itu? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau sudah menikah? Brengsek lo, gue kerja keras di sini lo seneng seneng di rumah.Mana fotonya, kirim padaku. Aku juga mau punya istri seperti itu."
Jim tertawa, ia segera mengirim foto akad nikah waktu itu.
"Busset, Ini Anitamu itu?" tanya Jonathan.
"Yup.Baru menikah secara agama, nanti kalian datang saat menikah secara hukum. Masih nunggu jadwal dari KUA," jawab Jim.
"Jimmy," ayah Jim membalas.
" Hi Dad."
"Belikan dia barang barang yang dia sukai atau sesuatu yang dia inginkan," kata Julian Anggoro.
"Aku sudah tanya, dia bilang hanya ingin bersamaku," jawab Jimmy.
__ADS_1
"Dasar payah, ajak dia jalan ke Mall atau ke mana.Apa yang dipegangnya dan apa yang lama dilihatnya itulah yang menjadi keinginannya," kata Julian Anggoro.
"Baiklah nanti akan kucoba."
"Istrimu really amazing, cantik seperti peri. Ah kalau saja.." kata Jonathan.
"Apa? Mau mati lo?" balas Jim. Jo membalasnya dengan emotikon lucu.
"Aku lebih ganteng darimu," godanya.
"Aku sumpahin ubanmu tambah banyak," balas Jim.
"Jimmy, ikat dia jangan sampai lepas darimu," kata Julian Anggoro.
"Jiim, kenapa kau cengengesan di situ? Apa ada yang lucu?" tanya Anita.
"Udah dulu ya, dia memanggilku.Bye Jo, Daddy." Jim segera mengembalikan memo Anita dan menutup kembali brankasnya.
Ia menghampiri Anita, menepikan laptopnya lalu membaringkan kepalanya.
"Chat dengan siapa? Seneng banget kelihatannya?" tanya Anita.
"Daddy, harus rajin ibadah biar jadi penembak jitu," jawab Jim.
__ADS_1
"Bukannya kau sudah pandai?Keahlianmu menembak bukannya sudah tidak diragukan?" tanya Anita.
"Nembak dirimu biar cepet dapat baby," jim tertawa.Anita mencubit gemas pipinya.
Jim mengambil kalender di atas nakas, ia tampak sedang menghitung sesuatu dan mengambil bolpoin untuk melingkari beberapa tanggal.
"Ada apa? Waktunya bayar tagihan?" tanya Anita.Jim tidak menjawab, ia malah menatap gelisah ke arah Anita.
"Sayang, apa kau benar benar bersedia segera punya baby?" tanya Jim cemas.
"Hmmm,tentu.Aku siap seandainya dikasih Tuhan.Aku sangat bahagia seandainya diberi kepercayaan mengandung anakmu." Anita menyentuh pipi suaminya yang segera memejamkan matanya.
"Terima kasih Anita,sungguh aku sangat menginginkannya." Jim memeluk erat tubuh istrinya.
"Apa aku perlu konsultasi ke dokter?" tanya Anita.
"Tidak, kita pakai caraku dulu, kau harus minum vitamin penyubur dan penguat kandungan dalam waktu seminggu ini." Jim memgambil beberapa vitamin yang tadi dibelinya di apotek atas resep yang diberikan dokter Nasya kepadanya.
"Besok atau lusa adalah masa suburmu.Aku akan periksa tanda tandanya," Jim menunjukkan kalender yang dipegangnya.
"Siapa yang mengajarimu?" tanya Anita.
"Mom yang mengajari,aku bertanya padanya. Ibuku juga dokter kandungan Anita. Nanti pada sàat masa persalinanmu sudah dekat, dia akan tinggal beberapa lama di sini," jawab Jim.
__ADS_1
Anita memeluk suaminya.Ah Jimmy Anggoro.. Kau membuatku sangat bahagia, teriaknya dalam hati.Jim mencium bibir Anita dengan lembut.