
Hans duduk di belakang kemudi dan melihat Anita berusaha menyeka air matanya.Hans mengambil kotak tisyu di sebelahnya dan memberikannya kepada Anita.
Hans tidak mengatakan dan bertanya apa pun karena sudah tahu situasinya.
“Hans, temani aku makan ya,” kata Anita.
“Ya.”
Hans melajukan mobilnya menuju ke restoran hotel Summer.Anita memilih duduk di meja yang dekat dengan jendela.Restoran yang terletak di lantai paling atas itu menyajikan view yang sangat bagus.
Hans duduk di depan Anita dan hanya diam saja melihat Anita membolak balik menunya.
“Hans, kamu ingin makan apa? Pesanlah apa pun yang kau suka, aku yang traktir,” kata Anita.
“Tidak perlu bayar Nona, Hotel ini punya Tuan,” jawab Hans.
“Hei kau pikir aku tidak punya uang? Sebelum ketemu Jimmy pun aku sudah punya banyak uang, aku ini punya gaji tahu,” kata Anita. Hans hanya mencebikkan bibirnya.
Hans menuliskan pesanannya lalu memberikan buku memo itu kepada Anita.Setelah menuliskan pesanannya Anita memberikan memo itu kepada pelayan yang dari tadi menunggunya.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya pesanan mereka datang. Hans membulatkan matanya melihat makanan yang datang banyak sekali.
“Nona ...”
“Kita akan makan semuanya,” kata Anita.Hans menelan ludahnya, apa Nona sedang kerasukan mau makan segini banyak, pikirnya.
“Ini adalah makanan kesukaan Jimmy. Ini kesukaan Julian,Ini kesukaan Jack, Ini kesukaan Arron dan ini kesukaan Lucas” Anita mengambil sedikit sedikit makan dari beberapa piring yang disajikan.
Hans hanya memperhatikan apa yang dilakukan Anita.Ia menyodorkan air mineral saat melihat Anita kesulitan menelan makanan makanan itu.
Ia tahu, bukan karena makanannya berkualitas buruk, tapi majikannya itu sedang banyak pikiran.
__ADS_1
“Hans, kenapa tidak makan? Apa boleh aku cicipi makanan yang kau pesan?” tanya Anita.
Hans segera mendekatkan makanan di depannya kepada Anita.
“Kenapa tidak memesan makanan yang kau sukai Nona?”
“Makanan yang kusukai tidak ada di restoran ini, mungkin aku harus mencarinya ke tempat asalnya nanti,” Anita tertawa kecil.
Hans melihat ke arah ponselnya karena ada panggilan masuk.
“Nona, Tuan Julian menelpon,” kata Hans.
“Tidak perlu diangkat,aku juga tidak mau bicara dengannya.”
“Dia terus menelpon,Nona.”
“Matikan saja ponselmu.Hans aku mau menginap di hotel ini, kau dan pengawal tinggalkan saja aku di sini. Kalian pulanglah, mungkin aku akan tinggal beberapa hari,” kata Anita.
“Aku mau menginap di kamar reguler saja,nanti uangku cepat habis kalau menginap di kamar seperti ini,” tolak Anita.
“Sudah tidak ada kamar lagi, hotel ini ramai sekali.Ini di lantai tiga, biar kuantar Nona,” kata Hans.
Anita memanggil pelayan dan menyodorkan kartu debit miliknya.
“Sudah dibayar Nyonya,” kata pelayan itu sopan.Anita melihat ke arah Hans dan pria tampan itu menunjuk ke arah dua orang anak buahnya yang ia tugaskan untuk membayar semua tagihan saat ini.
Ponsel Hans kembali berbunyi.
“Tuan Arron,” katanya.
“Aku juga tidak mau bicara padanya. Mmm kau jawab saja,kalau dia bertanya kau jawab saja aku tidak bersamamu,” kata Anita.
__ADS_1
Hans menjawab telpon dari Arron dan mengatakan seperti apa yang dikatakan Anita.
“Apa tadi Nona menelpon Tuan Arron dengan ponselku?” tanya Hans.
“Iya, maaf.Ini yang terakhir aku pinjam ponselmu.Aku hanya ingin mengajak mereka makan.Tadi Li Zen yang mengangkat telponnya.Aku tidak akan lagi mencari mereka.”
“Aku tidak keberatan Nona,setidaknya beritahu aku supaya aku tidak bingung menjawabnya,” kata Hans.
“Aku tidak akan meminjamnya lagi. Hans aku mau ke kamar sekarang, kalian pergilah.” Anita bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hans menuju ke lift.
Ponsel Hans kembali berdering, Hans segera mengangkatnya karena dari tadi Julian tidak henti henti menelponnya.
“Hans, di mana kau sekarang?” tanya Julian.
“Saya dalam perjalan pulang Tuan,” jawab Hans.
“Berikan telponmu pada Anita,” katanya.
“Nona tidak bersamaku.”
“Brengsek, jangan main main denganku,” teriak Julian.
Hans mematikan telponnya dan memanggil beberapa anak buahnya.
“Bustam, tukar ponselmu denganku. Dan kau, tolong panggilkan manager hotel sekarang.Oh,tidak usah itu dia sudah kemari,” kata Hans.
“Tuan Hans, ada yang harus saya lakukan?” tanya Ruben, manager hotel Summer.
“Berikan tanda di depan pintu lift lantai tiga kalau lantai itu sedang dalam perbaikan dan kosongkan tempat itu sekarang.Istri Tuan Jimmy ada di kamar 1254, berikan dua penjaga untuk mencegah orang luar masuk ke lantai itu,” kata Hans.
“Baik Tuan,” kata Ruben lalu segera berkoordinasi dengan stafnya.
__ADS_1