
Anita menghabiskan waktu di hari itu dengan berada di taman belakang. Menyiram anggrek, memberi makan ikan dan menggunakan kamera digital miliknya untuk memotret beberapa tempat di rumahnya.Termasuk kamar dan kamar lamanya.
Sudah cukup, ini akan mengobati kerinduanku suatu saat gumamnya.
“Apa Nona begitu mengagumi rumah ini sampai harus memotretnya?” tiba tiba Hans sudah berada di belakang Anita.
“Hans, kenapa sekarang kau ini seperti hantu? Jalan tanpa suara tahu tahu sudah ada di belakangku,” marah Anita.
“Apa tadi Nona mencariku?” tanya Hans.
“Habis magrib temani aku ke kota ya, aku ingin jalan jalan dan makan di restoran hotel Summer,” jawab Anita.
“Perjalanannya satu setengah jam Nona, kenapa tidak berangkat sorean,” protes Hans.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau, tolong carikan sopir saja buat mengantarku,” kata Anita.
“Baiklah Yang Mulia,sesuai perintahmu,” cibir Hans.
“Hans, mulai sekarang jangan bawa pengawal ya.Pengawal hanya untuk istrinya Jimmy, sedangkan aku masih belum sah menjadi istrinya,” kata Anita.
“Perintah untuk kami adalah mengawal dan menjaga Nona Anita, bukan mengawal istri siapa.Lagi pula, waktu itu Nona menikah dengan siapa kalau masih merasa bukan istrinya Tuan?Terus yang ada di perut Nona itu anak siapa? Ondel Ondel?,” jawab Hans.
“Sialan kamu Hans, kenapa sekarang pandai sekali menjawab orang? Dulu ke mana suaramu itu? Kalau tidak diketok nggak bakalan ngomong,” kesal Anita.
“Tentu saja belajar darimu,Nona.Dulu aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Tuan Jack yang sangat pelit ngomong.Tuan Jimmy juga lebih suka ngomel kepada kami sejak bersama Nona.Dan sekarang aku pandai bicara juga karena ketularan siapa?” jawab tanya Hans.
__ADS_1
“Huh,alasan apa itu? Baiklah, tunggu nanti habis magrib ya.”
Anita segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan rebahan sebentar.☆☆☆
Hans membukakan pintu mobil untuk Anita.Yuse membawakan tas yang Anita bawa dan meletakkannya di jok sebelah Anita.
“Hans,apa tidak masalah kalau aku tidak ikut?”tanya Yuse.
“Tidak, Bustam dan beberapa pengawal ikut bersamaku.Kau bantu Pak Corvin saja,dia butuh bantuanmu,” jawab Hans seraya menutup pintu mobilnya.
Hans melajukan mobilnya sedikit cepat, karena suasana gelap tidak menguntungkannya.Ia menghubungi Dicky dan memasang lokasi GPSnya.
Hans melirik ke arah Anita melalui sepion,Anita yang lebih banyak diam dan melihat ke luar jendela.Ia cukup menyadari keanehan istri majikannya itu sejak kejadian Anita overdosis obat tidur kemarin.
“Nona, apa kau perlu ponsel baru?” tanyanya.
“Pakailah ini, kemarin aku minta Marcel untuk membelikan yang baru untukmu.” Hans menyodorkan sebuah smartphon kepada Anita.
“Kau simpan saja dulu Hans,aku akan cari nomor baru.Atau nanti aku coba ke kantor provider untuk aktifkan nomor lamaku,” kata Anita.
“Apa ada masalah dengan nomor yang sekarang Nona?”
“Tidak, aku Cuma kurang nyaman memakainya.Ponselku juga jatuh, mungkin kena LCDnya.Sudahlah, aku lebih nyaman tidak bawa ponsel.Hans antarkan aku ke rumah Julian dulu ya,” kata Anita.
“Akan kutelpon dia.”
__ADS_1
“Tidak usah,aku ingin mengejutkannya,” kata Anita.
Hans meletakkan kembali ponselnya dan membelokkan mobilnya ke arah jalan menuju ke rumah Julian.
Sampai di sana ia diperiksa di pintu gerbang, saat sampai di pintu Dorris menyambut mereka.
“Dorris,apa lukamu sudah membaik?” tanya Anita.
“Sudah Nyonya, apa Anda ingin bertemu Tuan?Maaf Tuan sedang meeting di ruang pribadinya dan tidak bisa diganggu saat ini,” kata Dorris.
“Akan kutunggu,Hans pinjam ponselmu.”
“Baiklah, akan kuambilkan minuman,” kata Dorris lalu pergi.Anita menekan tombol Dial ke nomor Julian,dering ponselnya terdengar ada di kamar Julian.Anita bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar Julian.
“Shit! Tidakkah kau tahu waktu,sialan. Ada perlu apa Brengsek,” umpat Julian.
Anita tertegun mendengar suara kasar Julian,ia juga tertegun melihat apa yang dilakukan Julian di dalam kamarnya yang pintunya sedikit terbuka.
Julian sedang mencumbui seorang wanita cantik yang sudah terkoyak pakaiannya dan hampir telanjang.
Anita mematikan ponsel Hans dan mundur beberapa langkah ke belakang.Dengan jelas ia mendengar umpatan Julian dan bantingan benda sampai pecah.Anita berbalik dan lari turun ke ruang tamu menemui Hans.
Hans menatap heran ke arahnya. Dorris yang datang membawa minuman pun tak kalah terkejut melihat wajah pucat Anita.
“Hans ayo pergi,” kata Anita.
__ADS_1
“Nona,aku minta maaf,” kata Dorris.
“Jangan katakan padanya kalau aku datang kemari,” kata Anita lalu bergegas menuju ke mobilnya.