CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption282


__ADS_3

Sore itu Ariana bergegas menemui Anita di kamarnya. Wayan membantu Ariana membawakan alat USG yang dibawanya dari rumah sakit keluarga Anggoro.


Anita yang sedang duduk menikmati teh hangat bersama Jimmy di balkon segera melihat ke kamar karena mendengar panggilan dari ibu mertuanya itu.


"Here,let me see the babies( Sini,biar kulihat bayinya)," kata Ariana.


Anita membaringkan tubuhnya sementara Jimmy membantu menyiapkan alat USGnya.


Ariana membuka copy rekam medis milik Anita yang juga dia dapat dari dokter Nesya.


"What do you feel in last three day,Dear (apa yang kau rasakan tiga hari terakhir ini,Sayang)?" tanya Ariana.


"Punggung sering sakit Mom,ini di perut bagian bawah sering kaku,terkadang keram," jawab Anita.


Ariana mulai menggerakkan alat USGnya.


"Nice,pertumbuhan mereka cepat sekali. Vitaminnya harus diminun terus."


"Iya Mom," jawab Anita.


"Kurangi minum gula ya,Sayang.Banyak minum air hangat.Minum jus atau susu, don't put too much sugar(jangan kasih gula terlalu banyak)."


"Why?" tanya Jimmy.


"Kalau bayinya terlalu besar,akan over capacity.Postur tubuh Anita tidak mendukung,Mom tidak mau ada masalah sampai bayi ini lahir,jadi kalian harus menjaga kondisi supaya stabil."


"Ok,Jimmy akan bantu menjaga makanan Anita."


Ariana menekan perut bagian bawah dan Anita mengerang kesakitan.


"It's OK,Honey.Jangan khawatir,bayinya baik baik saja.Seringlah jalan jalan di pagi hari. Jim,Mom ingin bicara denganmu,” kata Ariana seraya mengajak Jimmy ke luar.


Ariana membawa Jimmy ke ruang istirahat dokter yang merawat Jimmy waktu itu.


“Have a sit(duduklah).”


“Mom,ada apa?”


“Jimmy, berapa kali kalian berhubungan dalam satu minggu?” tanya Ariana serius.


“Mom,apa perlu kita bahas ini?”


“Sure(tentu).”


“Kami melakukannya setiap hari,kadang aku memintanya dua kali,” jawab Jimmy.


“Duk!”


“Aduh,what's wrong Mom?” Jimmy mengusap dahinya yang dipukul ibunya dengan stetoskop.

__ADS_1


“Mulai sekarang hanya boleh dua hari sekali.”


“What?”


“Kalau kau ingin Anita dan bayinya tidak masalah, just do what I Say(lakukan yang aku katakan),” kata Ariana.


“Iya,iya,” gerutu Jimmy.


Ariana meminta Wayan untuk menyimpan alat USG nya di ruangan itu.


Jimmy menemani Anita di kamar sampai jam makan malam tiba.


Jimmy mematikan ponselnya karena tidak mau mengganggu kebersamaannya bersama istrinya.


Terdengar ketukan pintu, Jimmy segera membukanya.Rupanya seorang pelayan memintanya turun untuk makan malam.


Anita yang mendengar percakapan Jimmy dan pelayan segera bangkit dan menyisir rambutnya.


“Ayo.”


Anita menggandeng lengan Jimmy dan mengajaknya turun.


Jimmy yang seperti tersihir berjalan menuruni anak tangga dengan memandangi wajah istrinya yang tampak begitu ceria.


“Jimmy, apa kau ingin kita jatuh bareng bareng?” tanya Anita.


Jimmy yang menyadari bahwa dirinya meleng dari tadi segera memperhatikan langkahnya.


“Ada apa Kak Jo? Kenapa kau berkaca kaca gitu?” tanya Jimmy.


“Aku sedih karena nanti harus balik, sebenarnya aku ingin sekali rumah kita, orang tua kita deket deketan. Sebenarnya aku merasa iri, Daddy begitu lama pulang ke sini karena urusan istrimu.Mom juga santai aja di Indonesia lumayan dua mingguan dan tidak ada tanda tanda ingin balik Italy segera,” kata Jonathan.


“Bukannya mereka sering mengunjungimu?” tanya Jimmy.


“Waktu kamu masih di sana saja Daddy sering datang.Kalau datang pun pasti ngomel soal Mika.Datang sehari dua hari langsung balik.Repotlah,urusan bisnis lah, banyak yang harus ditangani lah. Sekarang di Indonesia hampir sebulan nyante wae.Jadi berasa anak tiri gue,” keluh Jonathan.


Jimmy tertawa kecil.


“Gue juga jadi anak angkat sekarang, lihat nih jidat gue benjol digetok pake stetoskop. Mommy sekarang kejem banget sama gue. Sekarang anak kandungnya ono noh, yang duduk di pojokan lagi makan kerupuk dicelupin ke kopi,” kata Jimmy yang menunjuk ke arah Anita.


Jonathan tertawa keras saat melihat apa yang dilakukan Anita.


Yang lain otomatis melihat ke arahnya.


“Loh,koq sama.Makanya Daddy nggak marah walau dikata katai Anita.Dilempar asbak juga nggak protes, coba orang lain, pasti nggak ada ampun,” Jonathan tertawa lagi.


“Jo ngetawain apa kamu?” tanya Julian Anggoro.


Jonathan segera menunjuk ke arah Anita yang seakan acuh saja pada orang orang di sekitarnya.

__ADS_1


Julian Anggoro tersenyum.


“Bawaan orok,” katanya.


“Jimmy,Jona, yang lain ayo makan. Kalian dari tadi ngomong terus,” kata Ariana.


Makan malam itu berlangsung cukup hangat. Setelah itu mereka ngobrol di taman samping rumah.


Pukul sebelas malam Lucas dan Rony mengantar Jonathan dan Daren ke Jakarta dengan Helikopter.Karena pesawatnya jam tiga pagi mereka istirahat sebentar di rumah Januandy yang ada di dekat Bandara.


Sementara Jack menerbangkan sendiri bersama Julian kembali ke kota JB karena keesokan harinya ada pekerjaan penting.


Anita masih duduk di sofa ruang tengah karena belum bisa tidur. Jimmy dan kedua orang tuanya pun masih ikut menemani.


“Anita, apa kalian tidak ingin jalan jalan ke luar negri? Mumpung perutmu itu belum terlalu besar, pergunakan uang suamimu itu untuk liburan,” kata Julian Anggoro.


“Saya masih ada urusan yang belum selesai.Ayah mertua tidak perlu nunggu saya, silahkan balik duluan.Nanti saya dan Jimmy menyusul,” kata Anita.


“Pe de amat, memang siapa yang mau nunggu kamu,” kata Julian Anggoro.


Jimmy tertawa kecil, entah kenapa ayahnya itu senang sekali memancing emosi istrinya.


“Sayang, Mom kembali ke Roma minggu depan.Becouse rumah sakit kekurangan orang setelah Mom tinggalkan, ada beberapa dokter yang cuti melahirkan dan berhalangan.Mom adalah vice president(wakil direktur)di rumah sakit. So, Mommy harus segera kembali.Nanti Mom akan tinggal lebih lama saat kamu melahirkan OK?” tanya Ariana lembut.


“It's OK Mom, I will take care my self (tidak apa apa Bu, saya akan menjaga diri saya)” kata Anita.


“Good Darling.” Ariana menbelai rambut hitam panjang Anita.


“Kalau Jimmy macam macam kau bisa telpon Mommy,” tambah Ariana.


“Iya,” jawab Anita.


“Emang es campur macam macam. Daddy juga balik sama Mommy?” tanya Jimmy.


“Daddy balik belakangan, masih tunggu rancang bangun rumah sama taman bermain di sini selesai baru balik sana,” jawab Julian Anggoro.


“Waduh, babynya aja belum lahir. Serahkan saja pada Marcel Dad.Nggak kolaps tuh perusahaan di sono? ” protes Jimmy.


“Daddy mau balik kapan saja serah gue dong,” balas Julian Anggoro.


Jimmy tersenyum, benar juga yang dikatakan Jonathan.Ayahnya tidak ambil pusing dengan perusahaan yang ada di sana.


“Jim, aku udah ngantuk.Aku ke atas dulu ya,” kata Anita.


“Lho aku juga ikut, enak saja ditinggal. Mom, Dad.Jimmy tidur dulu,mata dia tinggal segaris,” kata Jimmy.


“Ya, kalian istirahatlah, sudah lebih tengah malam,” kata Julian Anggoro.


“Jim! Remember what I said(Ingat yang kukatakan),” kata Ariana.

__ADS_1


“Iya iya Mom,haduh,” keluh Jimmy seraya membawa Anita naik ke lif.


__ADS_2