CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption299


__ADS_3

Anita diam tak bergerak saat turun dari mobil di depan rumah Fara.Ia seperti tak mendengar saat Jimmy berulangkali memanggilnya.Matanya hanya tertuju kepada sosok wanita yang sedang menggendong bayi laki laki di halaman rumah yang cukup besar,di sebelahnya seorang pria yang mungkin sebaya dengan Jonathan juga sedang melihat ke arahnya.


Setelah saling memandang beberapa lama,akhirnya wanita yang tak lain adalah Fara menyerahkan putranya pada pria di sebelahnya dan berlari memeluk Anita.Setelah puas menangis,Fara menampar pelan pipi sahabatnya itu.


"Tambah ayu Cah(tambah cantik)," katanya.


Anita balas menampar pipinya.


"Tambah garing,kakeyan dipepe po (tambah kering(kurus),kebanyakan dijemur apa)?"


Fara tertawa sampai terkikik,Steve yang sudah dari tadi menghampiri istrinya segera mengajak mereka masuk. Ia membawa kedua tamunya itu masuk ke ruang keluarga.Di situ ada seorang anak kecil, yang berumur sekitar empat tahun sedang bermain puzzel.


"Ra,ini anakmu?" tanya Anita.


"Iya,ini anakku dengan suamiku terdahulu. Brian,salim sama tante Anita," kata Fara.


"What do you should say,Honey(apa yang harus kau katakan,sayang)?" tanya Steve.


"How do you do Aunty?" kata Brian.


"How do you do,Brian," kata Anita seraya mengelus dagu Brian.


Anita dan Jimmy duduk bersebelahan, sementara Steve memangku putranya.


Anita meminta Steve untuk memberikan anak itu padanya untuk menggendongnya.


"What your name,Darling?" tanya Anita seraya mencium pipi cubby itu.


Bayi itu tersenyum dan memainkan rambut Anita.


"Charlie Aunty," kata Fara.


Jimmy tersenyum melihat Charlie terkekeh kekeh saat Anita menggelitikinya.Fara segera menggendong Charlie karena sempat menendang perut Anita.


"Perutmu itu sudah terlalu besar, nanti bisa kena tendangan Charlie,dia nggak bisa diam.Tapi tumben lho dia mau digendong kamu,biasanya kalau belum pernah ketemu dia nggak mau," kata Fara.


"Insting lah,yang gendong orang cantik," kata Anita.


Fara mencebikkan bibirnya.


"Sayang,aku ingin membicarakan masalah projeck dengan Steve.Kamu ngobrol saja sama Fara," kata Jimmy seraya bangkit dari duduknya dan membawa laptopnya.


Anita mengangguk lalu mendekati Brian. Steve mengajak Jimmy ke ruang kerjanya.


"Brian,bisa bahasa Indonesia? Ini puzzelnya susah nggak?" tanya Anita.


"Ofcourse Aunty,Brian bisa bahasa Indonesia,karena Brian orang Indonesia. Nanti Brian ajari Charlie juga," jawabnya polos.


"Good,sweat heart( bagus sayang)," kata Anita.


Fara memanggil seorang pelayan dan memintanya mengajak Brian dan Charlie main sebentar.


"Ra,aku tidak bisa lama di sini. Semalam Jimmy menceritakan semua yang dia tahu padaku,tapi aku ingin mendengar langsung darimu. Bagaimana ceritanya kau bisa menikah dengan b4jingan seperti itu? Apa mas Farhan dan kamu kena guna guna waktu itu?" cecar Anita.


"Dari awal pernikahanku dengan Hendrik itu sudah Aneh,wagu. Keluarganya mendesak keluargaku untuk menikahkan Hendrik dan aku,mereka ingin membalas budi pada almarhum Bapak.Aku juga merasa aneh karena tidak menolak walau pun aku tidak menyukainya.Itu karena Bune langsung mengiyakan tanpa bertanya padaku.Bukan Mas Farhan yang menjodohkan kami.Tapi Hendrik itu rekan bisnis mas Farhan.Setelah aku melahirkan Brian,Hendrik dapat proyek di Bali.Dia di sana sekitar tiga bulanan. Kembali dari Bali dia sangat ngotot pergi ke Amerika, katanya dia dapat tawaran bagus dari sana.Ibu mertuaku juga setuju dia pergi bahkan sangat mendorong dia untuk pergi.Dia melarangku ikut karena Brian masih kecil.Singkatnya setelah Brian berumur satu tahun aku ngotot minta ikut,akhirnya dia menyetujui aku datang ke Newark City.Selama hampir setahun kehidupan kami baik baik saja. Sampai suatu waktu Hendrik jadi sering lembur,pulang tengah malam,bahkan sering tugas lapangan dan dinas luar kota.Awalnya seminggu,lama lama jadi satu bulan,dua bulan.Dia hanya mengirimkan uang yang lumayan besar tiap bulannya dan menelponku sekali sekali.Sampai suatu hari saat aku pulang dari supermarket,aku melihat Hendrik berjalan sambil memeluk pinggang seorang wanita cantik berambut pirang dan masuk ke apartemen tak jauh dari situ.Bahkan aku sangat kaget waktu mereka sempat berciuman.Anita,dunia seakan runtuh waktu itu.Aku pulang dan menangis seperti orang gila,aku sampai lupa kalau Brian ada di dekatku.Setelah fikiranku tenang,aku chat Hendrik supaya menyempatkan pulang.Malam harinya ia pulang dan kukatakan,kalau dia dinas ke luar kota aku mau ikut.Dia marah marah seperti orang kesetanan.Bahkan dia sampai menyuruhku pulang ke Indonesia. Setelah itu dia pergi dan tidak pernah kembali.Bahkan dia mungkin mengganti nomor telponnya.Dia juga tidak pernah lagi mengirimkan uang padaku.Aku telpon mas Faris dan kuceritakan semuanya.Mas Faris mengirimiku uang duapuluh ribu dollar dan menyuruhku pulang.Tapi aku katakan aku tidak berani pulang.Aku takut Bune kaget dan sakit. Aku katakan aku akan cari kerja di sini sambil cari cara bagaimana supaya saat aku pulang Bune tidak curiga ada sesuatu.Akhirnya mas Faris setuju, sekian lama akhirnya aku dapat kerjaan di sini buah cafe yang buka pagi sampe malam.Mulanya aku ambil double sift,tapi akhirnya aku kasihan sama Brian yang hari harinya ada di tempat penitipan anak dan jarang bertemu denganku.Akhir nya aku hanya ambil satu sift,untunglah managernya baik padaku.Setiap kali ada desert lebih,dia selalu memberikan kepada Brian.Kadang saat aku mau pulang ia menyuruh membuatkan smooties atau cup cake kesukaan Brian."


"Kenapa ada laki laki pengecut seperti itu? Fara maafkan aku ya,aku tidak ada waktu kamu kesusahan.Aku berjanji padamu, suatu saat akan kubuat dia berlutut dan mohon ampun padamu.Aku akan meminta Jimmy membalasnya untukmu," kata Anita.


"Jangan,Ta.Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengan orang itu.Dia mau hidup mau mati,aku tidak ingin peduli. Sekarang ada Steve yang mendukungku. Itu sudah cukup,dia juga sangat menyayangi Brian,sudahlah lupakan saja," kata Fara.


"Ngomong ngomong,bagaimana kau bertemu Steve?" tanya Anita.


"Sebenarnya Steve tinggal di apartemen elit tak jau dari tempatku tinggal.Tiap weekend dia bersepeda di taman dekat situ.Dia itu bekerja di sebuah perusahaan konstruksi, yang ternyata adalah perusahaan cabang milik ayahnya di kota Newark.Steve orang yang sederhana dan baik sekali.Mulanya aku tidak tahu kalau dia itu seorang CEO dan Arsitek handal. Aku berfikir dia itu anak kuliahan, karena gaya berpakaiannya sangat santai.Kami hanya tahu muka dan tidak berusaha untuk saling menyapa.Sampai suatu hari,sore itu aku pulang kerja,di depan cafe tempatku bekerja,aku melihat Hendrik dan wanita itu turun dari mobil, dan aku berusaha menghampirinya untuk memintanya mengurus surat cerai.Tapi Hendrik mendorongku dan hampir tertabrak mobil,saat itulah Steve menolongku.Saat itu aku hanya bisa menangis dan Steve memelukku.Aku baru sadar setelah sekian lama dan melepaskan pelukannya.Malu juga sih, tapi Steve itu orang yang sangat lembut. Kulihat mobil yang ditumpangi Hendrik sudah tidak ada lagi.Saat itu aku kaget, karena Steve sangat fasih berbahasa Indonesia.Ia menawarkan diri untuk mengajakku ke tempat yang nyaman,tapi aku menolaknya karena harus menjemput Brian.Akhirnya ia mengantar aku menjemput Brian,dia tahu tanpa aku katakan jemput di mana," Fara tertawa, Anita juga ikut tertawa.


"Berarti dia itu setipe sama Jimmy, diam diam stalker tahu tahu nubruk aja," keduanya sama sama tertawa.

__ADS_1


"Tapi Jimmy lebih parah kayanya. Masa orang kaya istrinya gak boleh punya ponsel."


Keduanya tertawa lagi.


"Aku ada ponsel,tapi isinya hanya nomornya dia sama asistennya. Medsosku juga dipantau sama dia. Pertemanan dengan medsosnya nggak bisa kuhapus.Nggak tahu kenapa bisa begitu," kata Anita.


"Aku pernah meminta nomor ponselmu, tapi dia bilang hubungi nomor ini saja. Sebenarnya aku jadi pingin ketawa,aku ini perempuan lho, gak bakal membawa lari dirimu juga.Ta,nanti di Indonesia hubungi aku ya,ini aku kasih nomor ponselku," kata Fara seraya menuliskan nomor ponsel dan ID medsosnya di kartu nama Steve.


Anita menerima kartu nama itu dan menyimpannya di dompet lipatan paling dalam.Fara tertawa keras melihat tingkah sahabatnya itu.Itu pasti karena dia takut diambil suaminya.


"Yaa ampun Ta,kenapa ceritanya jadi beda saat kamu nangis menceritakan tentang Jimmy padaku dulu.Kau bilang kau nenyukainya tapi dia tidak menyukaimu.Sekarang kenapa jadi dia yang paranoid?"


"Cerita aku dan Jimmy lebih berkelok kelok dari Bengawan Solo. Fara,katakan padaku kau sedang memikirkan hal apa? Kau memiliki keluarga yang bahagia, kenapa badanmu sekurus ini?" tanya Anita.


"Aku,yah aku memang sangat mencemaskan Steve Anita.Sejak beberapa bulan lalu aku merasa sering melihat Hendrik tapi tidak pasti,tidak jelas.Waktu pertama kalinya di supermarket,aku belanja sambil refreshing lah di Hipermarket,sama Steve,Charlie juga Brian.Seperti biasa Charlie duduk di Troli yang didorong Steve,Brian dan aku yang ambil barang. Aku benar benar melihat Hendrik,saat hendak kukejar Steve melarangku.Just let him go,katanya.Sejak saat itu seakan ada yang menguntitku.Aku jadi takut pergi sendirian,ke mana mana bawa sopir dan pengawal.Steve dan mertuaku juga khawatir.Setelah itu beredar rumor di surat kabar surat kabar lokal kalau perusahaan mertuaku adalah penipu, menggelapkan pajak dan lain lain.Sejak saat itu banyak proyek yang dibatalkan atau dihentikan.Saat ini pun kami masih sulit.Aku khawatir ini ada kaitannya dengan Hendrik,tapi apa dia bisa sehebat itu mengacaukan sebuah perusahaan orang asli sini," kata Fara.


"Jimmy janji padaku akan mengurus semuanya Fara,kamu jangan khawatir. Kalau dia ingin membantu,pasti akan dibantu sampai tuntas.Jimmy itu seorang pebisnis juga seorang IT, tidak sulit baginya untuk menemukan jejak digital, dan dia tahu semua itu memang dilakukan oleh Hendrik dan kekasihnya. Apa kau tahu kalau pacarnya adalah CEO dan pewaris dari OCD Konstruction. Mereka memang kenal di Bali, semua sudah terlacak oleh teman Jimmy. Jadi dia memang sudah lama menipumu. Tapi kau tidak perlu sedih,karena itu kau bisa kenal Steve.Aku memintanya untuk membalaskannya untukmu," kata Anita.


Fara tiba tiba menangis dan memeluk Anita.


"Terimakasih Nita,kalian membantu Steve bangkit itu saja aku sudah senang. Jangan melakukan hal hal yang membahayakan," katanya.


"Tidak Ra,keluarga Anggoro cukup punya banyak relasi di sini.Kalau untuk mengacaukan sebuah perusahaan kecil sangat mudah bagi Jimmy.Oh ya,aku lapar.Apa kau tidak punya cemilan?" tanya Anita.


Fara tersenyum,ia tahu hamil besar itu sering lapar.


"Aku tadi masak gudeg,lengkap sama telur dan ayam bacem.Resepnya bune ini, aku belajar buat sudah cukup lama.Tadi Steve juga beli Iga bakar sama rendang, ini beli di restoran orang indonesia lho. Nggak besar sih,mereka biasa jualan online," kata Fara.


"Oh,mungkin sama dengan yang dibeli Jimmy kemarin.Fara,kamu beli ayamnya di mana?" tanya Anita.


"Ayam sendiri,pak Maman yang nyembelih.Dia cleaning service di rumah ini.Aku memang sengaja cari TKI, dia pintar pelihara ayam.Kalau musim dingin ya harus kasih penghangat Ta, kalau musim dingin ya kadang nggak pelihara ayam sama sekali."


"Apa Steve seorang muslim?"


"Iya,ibunya juga muslim.Tapi aku kurang tahu soal ayahnya.Soal itu urusan dia, yang penting dia juga tidak mencampuri urusan religiku.Aku bersedia menikahi Steve karena aku tahu kita seiman, itu yang penting.Ini amanat Bapak yang tidak boleh aku langgar," jawab Fara.


"Yo wes kono (ya sana)."


Anita segera melakukan aksi comot sana sini.Icip dikit nambah lagi.


"Sayang gak ada krecek Ra," kata Anita.


"Di sini gak ada yang jual lah."


"Ngerti gitu aku bawa dari Jogja," kata Anita.


"Waduh,jauh amat.Di solo banyak koq."


"Aku dibelikan rumah sama ayah mertua di Jogja.Dijadikan mas kawin lagi,guede Ra,bisa ditinggal orang sekampung. Iso ditanduri jagung barang ( bisa ditanami jagung juga). Segera pulang ke Solo, mampir ke rumah di Jogja.Kamu harus segera membawa pulang Steve dan memberitahu ibu.Gak usah terlalu detil, bilang saja kalian nggak cocok lalu memutuskan untuk pisah.Kalau kau katakan semuanya ya bisa bisa sakit jatung Bune kumat."


"Nanti aku bicarakan sama Steve,aku juga bingung mulai dari mana ngomong sama Bune.Kalau aku ujug ujug pulang, bawa Steve sama Charlie,Bune juga bisa pingsan," kata Fara.


"Haduh Ra,pusing aku.Minta Mas Faris saja yang cerita,kamu bicara sama Mas Faris,setelah itu baru kamu pulang. Kasih foto fotomu sama Steve,Charlie sama Brian.Biar nanti ditunjukkan ke Bune. Kalau Bune melihat hidupmu lebih bahagia,pasti tidak masalah buat Bune," kata Anita.


"Biar urusan perusahaan stabil dulu, kasihan ayah mertua kalau ditinggal Steve sekarang."


"Paling tidak Bune tahu ceritanya dulu, aku khawatir Hendrik pulang ke Indonesia dan sengaja cari masalah di sana.Kalau Jimmy sudah melakukan rencananya,aku yakin akibatnya gak tanggung tanggung.Ia hanya perlu menelpon relasi yang berhubungan dengan perusahaan tempat Hendrik bekerja,dan mereka akan selesai.Dia pasti melakukan berbagai cara untuk mencari masalah kalau terhimpit. Bisa saja dia menemui ibu dan menceritakan yang bukan bukan.Kau harus start duluan Fara," kata Anita.


Fara terdiam beberapa saat.


"Ya,sepertinya aku harus bicara sama Mas Faris dulu," kata Fara.


"Wah,ngomong apa nih? Serius sekali," kata Steve tiba tiba muncul bersama Jimmy yang sedang menggendong Charlie di atas pundaknya.


Anak kecil itu memeluk kepala Jimmy dan meletakkan dagunya di atasnya.

__ADS_1


Ia tertawa tawa karena geli oleh rambut Jimmy.


"Jim,turunkan.Nanti jatuh ke lantai," kata Anita.


Fara sampai melongo melihat anaknya bisa begitu akrab dengan Jimmy.


"Dari tadi dia minta ikut Jimmy,aku gendong tidak mau," kata Steve.


"Sini,ikut Aunty OK.You both have your lunch (kalian berdua makanlah)."


Jimmy menurunkan Charlie dan memberikannya pada Anita.Fara mengambilkan biskuit untuk cemilan Charlie. Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh dari arah ruang tamu.Ternyata Mertua Fara dan kedua orang tua Jimmy yang datang.


"Loh,kog bisa barengan?" tanya Jimmy.


"Habis lihat lahan yang katanya buat lokasi proyek barumu yang ada di Jersey dan Newark," jawab Julian Anggoro.


"Lah,Daddy jadi ikut ikut.Katanya gak boleh..."


"Terlanjur nyemplung," kata Julian Anggoro.


"Hi, are you Anita( apakah kamu Anita)? Saya Alex Watson,ayah Steve.Nice to see you (senang bertemu denganmu)," kata mertua laki laki Fara.


"How do you do Mr.Alex.Nice to see you too."


Anita mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh pria itu.Anita juga mengulurkan tangannya pada mertua perempuan Fara yang dari tadi terlihat tidak sabar untuk menyambut dirinya.


"Tante,saya Anita teman SMP sama SMA nya Fara.Dia sudah seperti kakak saya," kata Anita.


"Anita,seperti bayanganku kau sangat cantik.Mendengar cerita tentangmu saja Tante sangat menyukaimu. Terimakasih untuk semuanya," kata wanita itu seraya mengusap air matanya.


"Aty,Aty," tiba tiba Charly mengeluarkan suaranya yang lucu sambil menepuk nepuk pipi Anita yang dari tadi menggendongnya. Jimmy tersenyum melihat pipi Anita jadi comot oleh biskuit basah yang dipegang Charlie.


"Fara,dia ngomong apa?" tanya Anita.


"Mungkin dia manggilmu Aunty, karena dari tadi dicueki dia sampai menepuk pipimu.Charlie comeon,ikut Mom."


Fara segera mengambil Charlie dari gendongan Anita.


"Lets heve our lunch( ayo kita makan)," kata Alex.


Anita menemani Jimmy makan siang, ia hanya makan sedikit karena tadi sudah icip semua masakan yang ada di situ.


"Jimmy,Anita.Habis ini kita kembali ke Hotel," kata Julian Anggoro.


"Lho,Anita mau menginap di sini kog" kata Anita.


"Besok kamu datang lagi ke sini,lusa kita ke New York.Kalau kamu nginep di sini pasti begadang," kata Julian Anggoro.


"Mesti lah Daddy Mertua,saya sudah berapa tahun tidak bertemu Fara.Please ya,Nita pingin ngobrol sama Fara.Kapan lagi,belum tentu Nita ke sini lagi," mohon Anita.


"Dear,kondisimu tidak baik.HBmu rendah, Sayang. Kau harus cukup makan,cukup tidur. Besok Mom akan temani kamu ke sini. Ayo kita kembali ke Hotel dan Mom akan memeriksamu," kata Ariana.


"Mom."


"Anita,tidak apa.Besok pagi kau ke sini,kita ke supermarket belanja dan membuat makanan. Apa kek gitu.Aku tidak mau kita bersenang senang habis itu kau masuk rumah sakit. Kalau pun tidak bisa ketemu,kita bisa video call kan," kata Fara.


"Baiklah,besok kita buat sesuatu.Nanti kupikirkan dulu," kata Anita akhirnya.


Setelah makan dan ngobrol santai akhirnya mereka pamit kembali ke Hotel. Di luar dugaan Charlie menangis keras saat Anita dan Jimmy masuk ke dalam mobil.


"Cimii,cimiii," teriaknya.


"Yaa ampun Jim,lihat itu masih kecil pinter purik(nangis)" kata Anita.


Akirnnya Jimmy ke luar lagi untuk menghampirinya dan bermain main sebentar dengannya.Setelah Charlie bisa dibujuk oleh neneknya,Jimmy pun pamit pergi.

__ADS_1


Steve memeluk bahu Fara yang mulai berkaca kaca.Ia tidak mampu menahan hatinya karena Charlie sangat menyukai Jimmy.


Steve mengatakan kalau Charlie menyukai Jimmy karena lebih ganteng darinya.Fara tertawa dan mencubit lengannya.


__ADS_2