
Jim mendudukkan Anita di atas sofa dalam kamarnya.Ia segera mengirim pesan kepada Yuki untuk menyuruh pelayan membawakan makanan kesukaan Anita.
"Jangan tinggalkan mereka Sayang,biar aku makan sendiri.Sebaiknya aku tidak ada di sana, kehadiranku akan menimbulkan kekacauan," kata Anita.
Pintu diketuk dari luar,Jim membuka pintu dan mengambil makanan untuk Anita.
"Baiklah, aku akan memanggilmu nanti kalau memang benar benar dibutuhkan." Jim menyuapkan makanan ke mulut Anita.
"Ya. Sini biar kumakan sendiri, yang sakit kakiku bukan tanganku," Anita meraih piring dari tangan Jim dan menyuapi dirinya sendiri.
Jim menatap Anita yang sejak tadi tampak enggan menatap dirinya.
"Apa Li Zhen mengatakan sesuatu yang menyakitimu?" tanya Jim.
"Tidak apa, itu wajar.Wanita mana pun akan melakukan hal yang sama.Itu sebabnya aku tidak mau ada di sana," jawab Anita.
"Arron yang salah bukan dirimu.Anita, akan kutegaskan pada mereka kalau kau hanya milikku," Jim mengusap pipi Anita.
"Jangan bertengkar dengan saudaramu karenaku. Bawalah aku pergi dari sana tanpa menyakiti siapa pun Jim.Pakailah cara terbaik yang kamu bisa.Aku akan menuruti semua keinginanmu, karena aku adalah milikmu," kata Anita.
Jim mengangguk dan mencium pipi istrinya. Ia mengambil piring di tangan Anita yang telah kosong.
__ADS_1
"Baiklah,akan kutemui mereka.Akan kupimpin rapat dan menyelesaikannya secepat mungkin." Anita memegang pipi suaminya dan mencium bibirnya dengan lembut.Ia segera menyudahi ciumannya saat Jimmy mulai liar dan mendominasinya.
"Aku berubah pikiran," kata Jim dengan mafas yang tidak teratur.
"Pergilah, jangan membuat mereka menunggu." Anita menepikan tangan Jim yang sudah mulai nakal.
"Biarkan saja mereka menunggu." Jim melucuti pakaian istrinya tanpa perlawanan.
"Jangan lama lama, lima menit," kata Anita.
"Dua puluh menit, aku usahakan," jawab Jim. Ia segera melepaskan kemeja dan celananya kemudian membuangnya ke sembarang tempat.Anita mengikuti saja saat Jim mencumbuinya dengan intens. Ia tidak mampu menolak karena Jim memang mudah tersulut gairahnya.Tidak sampai duapuluh menit Jim sudah mendapatkan pelepasannya.
"Nanti lagi," katanya seraya menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Anita menakai kimononya dan mengambil pakaian mereka yang berserakan di sana sini. Dimasukkannya ke dalam keranjang dan mengambilkan kemeja dan celana denim untuk suaminya.
"Jim, kenapa kau mudah sekali terpancing? Aku tadi tidak bermaksud menggodamu.Apa kalau ada gadis cantik menyenggolmu kau juga akan memakannya?" tanya Anita.
"Jangan khawatir, cuma kamu yang bisa membuatku kesetrum walau hanya dengan senyummu," Jim terkekeh.
Anita beranjak dari tempatnya saat selesai membantu suaminya mengancingkan kemejanya.
"Mau ke mana?"
__ADS_1
"Mandi," jawab Anita.
"Ikut," Jim memeluk bahu Anita dari belakang.
"Pergi sono, nggak ngerasa ditunggu banyak orang?" Anita memdorong suaminya sampai ke pintu kamar.
"Nanti lagi ya??"
"Iya." Anita menutup pintu kamar setelah berhasil mendorong Jim ke luar kamar.
Anita berendam sebentar untuk mengusir rasa penat tubuhnya.Harum sabun mandi rose lavender membuatnya sedikit merasa santai.Ia segera memakai kembali kimononya dan beranjak ke kamar untuk mengeringkan rambutnya.
"Yuki!?" Anita kaget sekali melihat Yuki mondar mandir di dekat sofa.
"Syukurlah Nona sudah selesai," katanya.
"Ada apa?" tanya Anita.
"Tuan Jimmy berkelahi dengan Tuan Arron. Dia tidak terima Nona dikeluarkan dari perusahaan dan memukul Tuan Jimmy."
"Lalu?"
__ADS_1
"Tuan Jimmy membalasnya lalu Jack memisahkan mereka," jawab Yuki.Anita terdiam sesaat.
"Aku harus melakukan apa? Mereka itu laki laki, apa aku pukul saja dua duanya? Bagaimana kalau mereka berdua memperkosaku? Siapa yang akan menolongku?" tanya Anita sambil mengeringkan rambutnya.Yuki tersenyum mendengar pertanyaan Nonanya.