
Jimmy mengajak Faris masuk ke dalam ruang rawat Anita. Ia mengambilkan kursi untuk Faris dan meletakkannya di dekat bed rumah sakit.Jimmy mengganjal punggung Anita dengan bantal.
“Sayang maafkan aku.” Jimmy duduk di tepi ranjang dan meletakkan tangan Anita yg sedang diinfus diatas pahanya.
“Ya, jangan berkelahi karena kau merasa cemburu.Apa penjual es Oyen juga akan kau pukul kalau akrab denganku,” kata Anita.Faris tersenyum.
“Anita, apa kau sudah merasa baikan? Aku baru ingin mencari informasi tentangmu di sini, Tuhan begitu pengasih aku melihatmu sebelum memulai.Kenapa sejak pamit pulang kampung,ponselmu tidak bisa dihubungi.Ibu selalu bertanya dan memintaku mencari informasi tentangmu,” kata Faris.
“Maaf Mas, ponselku hilang di kereta waktu itu.Dan aku tidak punya catatan semua kontak di situ.Setelah itu aku sibuk karena diterima kerja. Harusnya aku segera pergi ke kantor provider minta kartu baru nomor yang sama.Tapi aku tidak melakukannya. Tolong katakan kepada ibu Sepuh aku minta maaf tidak pernah mengunjunginya,” jawab Anita.
“Tidak apa, yang penting kita sudah ketemu dan kau sudah baik baik saja.Pak Jimmy sebenarnya Anita kenapa?” tanya Faris.
“Dia hampir kehilangan bayi kami karena kelelahan.Ini juga salahku karena membiarkan dia kembali membantu di perusahaan. Karena aku takut dia bosan, maka kuizinkan dia membantu mempersiapkan pemeriksaan. Aku kurang peka karena tidak memperhatikan tanda tanda kehamilannya,” jawab Jimmy.
__ADS_1
“Aku juga salah Jim,aku...”
“Sudahlah Sayang,jangan saling menyalahkan.”
“Izmi Reanita, kenapa kau tidak jujur padaku waktu kutanya apa hubunganmu dengan Pak Jimmy?” tanya Faris.
“Apa? Apa dia menyangkalku? Apa aku kalah ganteng dengan Pak Faris hmm?” Jimmy mendekatkan wajahnya ke wajah Anita.
“Eh, nggak.Aku Cuma kaget dan bingung saja.Situasi dan tempatnya tidak mendukung. Tidak lucu kalau pemeriksa dan terperiksa berkelahi di sana bukan karena pemeriksaan, malu maluin nanti he he,” jawab Anita. Jimmy mengusak lembut rambut Anita.
“Pak Jimmy harus berbesar hati karena terlalu banyak yang menyukainya ke mana pun dia pergi.Termasuk kedua orang tuaku,biar kuceritakan,” kata Faris.
“Tidak Mas, biar aku saja.Kalau kamu yang cerita tidak akan nyambung dan dia akan semakin banyak tanya,” kata Anita.Jimmy mengerucutkan bibirnya.Wajah tampan yang tadinya kusut menjadi sangat imut.
__ADS_1
“Jim,apa kau ingat waktu aku pindah sekolah ke Solo saat kenaikan kelas tiga? Bukannya saat kelulusanmu kau sudah tidak bertemu denganku lagi?” tanya Anita.
“Iya, apa kau diculik olehnya dan dia memaksamu pindah sekolah?” balas tanya Jimmy. Anita tertawa lalu mencubit pipinya.
“Fitnah, itu” gumam Faris.
“Saat aku mulai masuk sekolah, Aku ketemu dengan teman sekelas yang sangat manis dan selalu saja mengajakku bicara.Kami cepat akrab dan akhirnya menjadi sahabat baik hingga kami lulus SMA,dia itu Fara adiknya Mas Faris.Dia sering mengajakku main ke rumahnya karena rumahnya dekat dengan SMP tempatku pindah.Saat itu Mas Faris kelas tiga SMA,dia sering membantu kami kalau lagi ada tugas yang berhubungan dengan seni budaya seni rupa. Singkatnya aku menjadi sangat akrab dengan semua keluarga Fara.Waktu itu aku pernah beberapa bulan tinggal di rumahnya karena banyak orang asing yang mencariku ke rumah Bude.Aku jadi takut pergi ke sekolah,takut ke luar rumah dan keluarga Budeku setuju untuk menitipkan aku di rumah Fara sampai aku hampir lulus SMP.Jim aku haus,” Anita menunjuk botol air mineral di atas meja dekat lemari pasien. Jimmy segera meraih dan memberikannya kepada Anita.
“Apa kalian pernah pacaran?” tanya Jimmy curiga.
“Aku mau tapi dia yang tidak mau.Orang tuaku sangat senang kalau Anita mau nenjadi menantu di rumahku,” sela Faris.
Jimmy mengerutkan alisnya.
__ADS_1
“Saat aku lulus SMP, Mas Faris melanjutkan kuliah dengan ikatan dinas di Jakarta.Jadi sampai aku lulus SMA kami juga jarang ketemu.Mas Faris sering dipindah tugaskan, Fara kuliah di Jakarta dan aku kuliah di Jogja.Tapi saat bisa libur barengan kami juga janjian untuk pulang ke Solo. Bahkan Fara yang sering ngenep di Jogja beberapa hari.” Jimmy menghela nafas panjang.Ia baru menyadari kalau waktunya terbuang begitu banyak tanpa Anita.