CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption297


__ADS_3

Jimmy dan Anita menghabiskan waktu sore di Harbor Walk dengan santai sambil menikmati kopi instan hangat dan Bakpia yang tadi dibelinya di supemarket.


"Sayang,kita benar benar jadi turis," kata Jimmy.


"Iya,tidak ada mobil atau pengawal. Kalau mau ke mana harus jalan kaki atau naik taksi," kata Anita.


"Kamu bawa uang berapa?" tanya Anita seraya merogoh saku celana Jimmy dan mengambil dompetnya.


"Sekitar limaribu,ada duapuluh ribu kutaruh di tas laptop di hotel," jawab Jimmy.


"Aku punya sepuluh ribu,sisa dari buat beli pakaian tadi," kata Anita.


"Lho dibayar pake cash ya?"


"Iya."


"Makanya lama banget bayarnya, kenapa nggak pake kartu sih?"


"Kartu dan dompet ketinggalan di tas pakaian,untung di tas ada amplop yang kemarin.Sebagian kutaruh di brankas kamarmu,sisanya sekitar limapuluhan.Jim, aku merasa bahagia bisa pergi berdua saja denganmu," kata Anita.


"Tentu saja,kita bisa saling bergantung dan saling membutuhkan karena kita tidak mengenal orang lain di sini," kata Jimmy.


"Ayo kita jalan,keliling keliling saja," kata Jimmy seraya menggandeng tangan Anita.


Anita memasukkan bakpia tersisa ke dalam tas plastik dan memasukkan ke dalam tasnya dan membawa kopi instannya yang masih tersisa.


"Jim,kapal yang lalu lalang itu bagus bagus ya.Tidak seperti di Indonesia," kata Anita.


Jimmy tertawa hingga terkikik,tentu saja pikir Jimmy.Ia memeluk Anita yang bersandar di pagar pembatas pelabuhan. Menyingkirkan anak rambut yang berantakan di wajahnya dan mencium lembut bibirnya.


Anita mendorong sedikit bahunya, karena malu ada orang lain juga berjalan lalu lalang di situ.


"Biarkan saja,ini negara liberal kog," Jimmy tertawa.


"Biar pun begitu,mereka juga punya perasaan kali."


Anita membalikkan badannya melihat ke arah pelabuhan.


Sementara Jimmy yang berdiri di belakangnya memeluknya, mendekapnya dan menyandarkan dagunya di atas kepala Anita.


Yah,Jimmy memang jauh lebih tinggi dari Anita.


"Jim,I love you," kata Anita seraya mendongakkan wajahnya.


"So do I,my Love," kata Jimmy seraya mencium pipi Anita.


Untuk sekian lama mereka hanya berdiri saling menghangatkan sambil melihat ke arah lautan dan kapal kapal yang berlalu lalang.


Saat matahari terbenam Jimmy mengajak Anita kembali ke Hotel. Malam itu udara sangat dingin,jadi Jimmy dan Anita hanya menghabiskan waktu di kamar hotel sambil mengobrol dan memandang ke arah pelabuhan yang begitu jelas dari kamar mereka.Tentu saja,kamar mereka ada di lantai lima hotel tersebut.Jimmy memang sengaja memilih kamar istimewa di lantai itu.John memberikan beberapa pilihan dan Jimmy memilih yang itu dan ternyata Anita sangat menyukainya.


"Jim,apa kau dan Jack masih bertengkar? Kau tidak pernah memukul Jack,kenapa kemarin kau memukulnya?" tanya Anita.


"Tidak,kami,itu hanya masalah antara laki laki Anita.Aku hanya merasa dihianati olehnya,dan itu membuat hatiku sangat sakit.Jack itu sudah seperti kakakku,dia memang lebih baik dalam hal menangani emosi," jawab Jimmy.


"Apa yang dia lakukan sampai kau merajuk seperti ini?" tanya Anita seraya mengalungkan tangannya di leher Jimmy.


Mau tidak mau Jimmy harus menceritakan perihal Marlon sahabat Jack yang selalu membuat keributan setiap kali bertemu dengannya. Marlon adalah satu angkatan di bawah Jack dan Jimmy di MIT.Ia mengenal Jack sejak kecil,tapi mereka akrab saat Jack bergabung di markas Gengster saat Jack kabur dari rumah.Saat itu Jack memang bisa dibilang berandalan, arogan,tidak tahu aturan dan senang berkelahi.


Anita tersenyum mendengarkan cerita Jimmy,muka suaminya itu tampak begitu geram mengingat masa masa itu.


"Jimmy,setiap orang memiliki sisi gelap dalam hidupnya.Kalau dia ingin memperbaiki sesuatu,kau juga jangan menolaknya.Jack orang baik,bahkan teman yang jahat sekali pun bisa menjadi baik. Temui dia sekali saja,baru putuskan harus bagaimana," kata Anita.


"Akan kupikirkan nanti,sekarang kita fokus pada perjalanan kita dulu, jangan pikirkan orang lain.Apa kau ingin menelpon Fara, tadi dia chat,tanya kapan kita jadi datang," kata Jimmy.


"Bolehkah kutelpon dengan ponselku?" tanya Anita.


"Ponselku saja,jangan berhubungan dengan orang luar tanpa sepengetahuanku Anita."


Jimmy segera mengambil ponselnya, dan mencari nomor Fara.Ia memberikan kepada istrinya saat terdengar suara seorang wanita dari sana.Jimmy mengeraskan suaranya.


Tangan Anita gemetar saat mendengar suara halo berkali kali.


"Halo,ini saya bicara dengan siapa? Pak Jimmy?"


"Iki aku Ra(ini aku Ra)," kata Anita dengan suara serak.

__ADS_1


"Ta,Nita! Harus bayar berapa juta buat telpon kamu Ta?"


Terdengar suara Fara yang menangis tersedu sedu.


"Sepurane Ra,aku ora maksud ngunu, nomerku memang sering ganti(maaf Ra, aku nggak bermaksud begitu. Nomorku memang sering ganti)," kata Anita.


"Dikejar rentenir po?Begitu dapat nomormu aku seneng setengah mati,tapi pas kutelpon nomer yang anda tuju sedang males menjawab, opo kuwi."


Jimmy tertawa sampai terkikik,ia segera mengalihkan ponselnya dari panggilan suara menjadi panggilan video.Keduanya saling melihat dan saling terkejut.


"Faraaa! Ratau mangan opo kowe? Nyapo kuru tenaan (Nggak pernah makan apa? Ke napa kurus sekali)," teriak Anita.


"Wes,wes(sudah sudah).Kapan ke sini Ndul? Tak tunggu sampe jamuran kamu nggak telpon telpon," kata Fara.


"Gimana Jim,Lusa ya?" tanya Anita kepada Jimmy.


"Iya,nanti kutanya John dulu pesawatnya ready atau nggak.Baru dipastikan lagi," jawab Jimmy.


"Dengar kan Ra,aku sekarang lagi di Boston. Besok pagi baru pulang ke rumah.Kalau mau berangkat baru kutelpon lagi ya," kata Anita.


"Ya udah,nginep seminggu ya?"


"Gundulmu, habis dari tempatmu aku mau ke New York.Nggak bisa lama lama Ra, suatu saat kalau aku ke sini lagi gantian kamu yang nginep di rumah ya," kata Anita.


"Yah,kapan lagi dong kita ketemu? Sudah sekian tahun Ta?"


"Maaf,waktunya harus dibagi.Ya udah besok kalau sudah fix aku kabari. Sekarang aku mau tidur,hampir tengah malam nih," kata Anita.


"Ya udah,jaga baik baik yang di dalam perut ya.Bye,jangan lupa segera kabari."


"Okay," Jawab Anita lalu telpon terputus.


Jimmy melihat ke arah istrinya yang tampak masih termenung.


"Kenapa?" tanya Jimmy seraya memeluk istrinya.


"Keadaan Fara jauh dari bayanganku, dia sudah seperti kakakku,aku tahu dia susah makan saat sedang memikirkan hal hal berat.Ada apa ya?" gumam Anita.


"Aku sudah meminta temanku untuk menyelidikinya.Akan kuberitahu hasilnya di rumah.Jangan pikirkan yang jelek jelek. Kalau Fara butuh uang,akan kubantu.Kalau butuh pekerjaan yang layak akan kubantu, kalau punya masalah apa pun akan kubantu selesaikan.Jadi jangan khawatir ya.Sekarang ayo tidur,besok pagi kita pulang."


Anita segera merebahkan diri dan menyusup ke dalam selimutnya. Jimmy memeluknya walau pun sedikit terganjal perutnya.


"Jim."


"Hmm."


"Terimakasih."


"Ya,tidurlah.Jangan mikir macam macam, nanti bayi kita juga bisa terpengaruh ikutan rewel," jawab Jimmy tanpa membuka matanya.


Anita memandangi wajah suaminya yang sedang tidur.Selama ini ia jarang memperhatikan kalau suaminya itu memang sangat tampan.Dulu waktu masih sekolah Jimmy tidak setampan ini pikirnya.


Ah tentu saja,ia tersenyum sendiri. Yang ada di depannya saat ini adalah Jimmy dengan kedewasaan dan kematangannya, sedang yang dulu masih anak anak dan polos.


Tiba tiba Jimmy membuka matanya dan tersenyum.Anita yang kaget segera pura pura tidur.


"Ayo kita lakukan sesuatu supaya kau bisa tidur."


"Hmm apa? Tidurlah,nggak pa pa. Nanti juga tidur sendiri," jawab Anita.


Tanpa menghiraukan kata kata Anita ia segera mencium bibir Anita dengan sangat lembut.Tanpa sadar Anita pun mengikuti gerakannya.


Malam itu menjadi malam yang sangat panjang hingga keduanya kelelahan dan tidur sangat pulas hingga pagi menjelang.***


Pagi itu setelah berbenah dan berkemas Anita duduk di kursi dekat jendela kaca besar yang langsung mengarah ke pelabuhan.


"Jim,apa kau sudah pesan taksi?" tanya Anita.


"Makanlah sarapanmu dulu,nanti biar kutelpon John saja," jawab Jimmy.


"Aku hanya minum tehnya,sandwich nya nggak berani makan," kata Anita.


Terdengar bunyi bel pintu,Jimmy segera menghampiri layar monitor di dekat pintu. Ia segera membukanya karena ternyata John yang datang.


"How many days you will stay Boss (Berapa hari kau akan tinggal Boss?)" tanyanya.

__ADS_1


"Bagaimana kau ada di sini,I almost call you( aku hampir menelponmu).I will check out soon and go home (aku segera cek out dan pulang)."


"I also stay in front of your room with annother guard.That's big boss order (aku juga menginap di kamar di depan kamarmu. Ini perintah Big Boss)," jawab John.


"Hais,kenapa Daddy lebay begitu?" gerutu Jimmy.


"Lebay?"


Jimmy tertawa kecil.


"Too much thinking," kata Jimmy.


"No,Sir.Your bussines rivals think that you back here.You win two projeck tender yesterday,that make them worry( Tidak Tuan.Kau memenangkan dua tender kemarin,itu membuat mereka khawatir)," jawab John.


"Kalau begitu sebarkan rumor kalau aku hanya berminat dengan dua projeck itu saja.Yang lain aku tidak tertarik,tidak sulit kan John?" tanya Jimmy.


"No Sir, I will take it asap(Tidak Pak,aku akan menanganinya segera)," jawab John.


"Ayo sayang,kita pulang sekarang," Jimmy segera membawa beberapa paperbag pakaian ganti dan tas laptopnya.


"Let me help you,Sir(Biar saya bantu,Pak)," kata John.


"No need(tidak usah)," kata Jimmy.


Anita segera membawa tas pakaian dan tas selempangnya.


Mereka check out dan segera menuju Chambridge.Di depan dan belakang mobil yang ditumpanginya ternyata adalah mobil pengawal ayahnya.


Jimmy tidak habis pikir,kenapa ayahnya sampai seperti itu,padahal di Amerika tidak banyak yang mengenal dirinya.Memang banyak pebisnis besar yang menjadi kolega mau pun rivalnya,tapi dirinya hanya ke Amerika sebentar dan tidak bermaksud menetap.


"Jim,kenapa bengong? Ayo turun," kata Anita.Jimmy terkesiap dan ke luar dari mobil.Ia segera meraih tangan Anita dan membantunya turun.


Di depan pintu utama Julian Anggoro berdiri nyambut mereka.


"Wah,ada apa nih? Kenapa wajah Daddy terlihat cemas begitu?" tanya Jimmy.


"Kenapa ke Boston saja mesti nginap? Pulang juga duapuluh nenit sampai," marah Julian Anggoro.


"Mumpung di sana,Anita pingin ke pelabuhan, karena cuaca bagus makanya kami nginep di sana.Daddy kenapa sih, kami belum sarapan, jangan marah marah," kata Jimmy seraya melewati ayahnya.


"Dasar,satu anak bandel ditambah satu menantu bandel,nanti tambah lagi dua cucu nakal,huh.Kamu tidak tahu Daddy khawatir kalau kalian nggak pulang," kata Julian Anggoro yang terus nyerocos sambil mengikuti Jimmy dan Anita ke ruang makan.


Anita mengambil nasi kuning dan sambal goreng hati sapi dan memakannya bersama Jimmy.Ia juga mengambil telur bacem kesukaannya.


"Kata John besok kalian mau ke New Jersey? Kita pakai pesawat Jose saja tidak perlu ribet," kata Julian Anggoro.


"Uhuk,kita ?" tanya Jimmy.


Anita menepuk nepuk punggung suaminya dan memberinya air putih.


"Iya,Daddy juga mau ikut sama Mommy. Kita bawa dua pilot dan tiga pengawal profesional. Nanti pilotnya Robin sama Carl,pilotnya Jose.John dan dua sniper anak buah John," kata Julian Anggoro.


Anita sampai bengong mendengar penjelasan Julian Anggoro.


"Kita hanya mau ke New Jersey bukan ke Afganistan,kenapa seperti mau perang Ayah mertua?" tanya Anita.


"Iya nih,kita mau bertamu bukannya mau nagih utang.Nanti tuan rumahnya kaget kita datang rame banget," timpal Jimmy.


"Aku tidak mau ambil resiko,kalau kalian mau pergi kemana pun di sini harus utamakan safety.Di sini senjata api tidak terkendali,apa tunggu tertembak dulu baru menyesal.Kalian membawa cucuku,aku tidak mau terjadi apa apa.Anita,suruh temanmu share lokasi tempat tinggalnya," kata Julian anggoro.


Jimmy segera menghubungi Fara dan memintanya share lokasi tempat tinggalnya.Jimmy memberikannya pada ayahnya setelah mendapatkannya.


Julian Anggoro segera memanggil John.


"Siang ini, kamu atau siapa berangkat dulu.Book kamar hotel untuk kita,this location.Findout nearest four or fife star hotel (daerah ini, cari hotel bintang empat atau bintang lima paling dekat).Ask about rent Car there to Mr.Joses assistant( tanyakan tentang penyewaan mobil di sana kepada asisten Tuan Jose).Are you mean it John (apa kau mengerti John?)" tanya Julian Anggoro.


"Yes Sir," jawab John lalu pergi.


"Dad,dia baru saja datang? John juga bukan robot," keluh Jimmy.


"John tahu apa yang harus dilakukan, kalau dia lelah pasti meminta anak buahnya yang pergi.Aku tidak pernah membatasi itu.Hari ini kalian istirahatlah,besok perjalanannya juga lumayan,jangan ke mana mana," kata Julian Anggoro lalu pergi.


Anita dan Jimmy saling pandang,raut muka Anita mendadak lesu. Bagaimana dia bisa mengobrol dengan Fara kalau begini ceritanya.


"Nanti biar aku yang ajak mereka jalan,nonton atau apa.Biar kamu bisa ngobrol sama Fara," kata Jimmy seakan bisa menangkap kecemasan istrinya.

__ADS_1


Anita mengangguk lalu melanjutkan makannya.


__ADS_2