
Anita berusaha menenangkan perasaanya. Dalam hati dia hanya menyayangkan, kenapa saat dirinya begitu dekat, Jim tak lagi hangat seperti sebelumnya.Besok aku harus pulang ke rumahku, pikir Anita.Gadis itu menegakkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.Ia menyalakan lampu dan membuka lemari pakaiannya.Anita berusaha mencari baju miliknya yang ia pakai waktu datang ke mari.Diambilnya kursi plastik yang ada di sudut ruangan untuk ia jadikan pijakan.
"Klek" tiba tiba lampu ruangan itu mati. Ada bayangan seseorang yang membuat Anita kaget dan kehilangan keseimbangan. Anita berusaha memegang sesuatu supaya dirinya tidak terjatuh.
Jim menangkap tubuh Anita sebelum jatuh ke lantai.Kepala Anita berdenyut,ia tahu Jim yang memeluknya dalam gelap dan keduanya tidak saling bicara.Jim memggendong Anita dan membaringkannya di ranjang miliknya.Pria itu melumat bibir Anita dengan lembut,tidak ada perlawanan yang dilakukan Anita.Ia hanya diam membiarkan pria itu menikmati nikmatnya menghisap bibirnya yang kenyal.Buliran bening mengalir dari kedua sudut matanya.
"Buka mulutmu," suara Jim terdengar serak.
Tanpa membantah Anita membuka mulutnya.
Pria itu segera memainkan lidahnya di dalam mulut Anita.Cukup lama hingga akhirnya Anita membalas pagutannya. Jim mengakhiri ciumannya dan membenamkan wajah Anita ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu Anita?" gumam Jim tanpa mau melepaskan pelukannya.Anita masih diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun.Jim cukup mengerti Anita sangat kesal pada dirinya.
"Tadi cari apa sampai manjat manjat kursi?" Jim bertanya sambil membelai dan mencium rambut Anita.
"Cari bajuku? yang kemarin aku pakai waktu datang ke sini," jawab Anita.
" Itu sudah menjadi milikku, bukannya sudah aku tukar dengan satu lemari, kalau masih kurang kita beli lagi." Jim beranjak untuk menyalakan lampu.
"Kemarilah, ayo kita makan berdua Sayang. Aku lapar sekali, belum makan dari siang." Jim memberi isyarat supaya Anita mendekat. Jim yang duduk di kursi memeluk pinggang Anita dan menyuapkan sepotong martabak ke mulutnya. Anita merasa senang setidaknya pria itu tahu makanan kesukaannya.
" Maafkan aku Sayang, jangan marah padaku.
__ADS_1
Aku hanya ingin tahu seberapa besar rasa rindumu padaku selama seharian."Anita mulai tersenyum,amarah dan sedih di hatinya mulai meleleh.Anita duduk di pangkuan Jim dengan posisi saling berhadapa , tangannya melingkar di bahu Jim dengan manja.
"Sudah tidak marah? Aku berusaha keras menahan diriku untuk tidak menjawab pesanmu.Karena aku ingin kau merindukanku Anita." Jim tertawa kecil, ia merasa benar benar konyol memancing amarah kekasihnya.
Anita menjewer telinga Jim bergantian.
" Jangan berani lagi? atau Anitamu ini akan lenyap ditelan bumi," ancam Anita. Jim segera memeluk erat tubuh Anita.
"Tidak,aku tidak berani lagi.Ampun Tuan Putri." Anita tertawa geli saat Jim membenamkan wajahnya di antara dua gundukan miliknya.Anita meremas rambut lebat pria yang sedang dipeluknya itu. Rambut hitam kecoklatan itu sedikit berantakan.
"Honey, cut your hair shorter.Kamu lebih tampan dengan rambut lebih pendek.Atau aku saja yang memotongnya," Anita menawarkan diri.
__ADS_1
"Aku selalu tampan dengan gaya rambut apapun,Sayang.Biar dirapikan di salon saja ya." Jim tersenyum geli, bagaimana jadinya kalau Anita memaksa merapikan rambutnya.