CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption179


__ADS_3

Anita memegangi perutnya yang semakin sakit.


“Yuki,aku tidak bisa jalan lagi. Minta Hans mengambil kursi roda di bagian poliklinik perusahaan,” kata Anita.


“Ada darah,Nona kamu pendarahan.” Dengan gemetar Yuki menelpon Hans.Anita melihat ke arah kakinya ya telah mengalir darah segar.


Ia mulai menangis karena mendadak merasakan takut.


“Yuki aku kenapa? Yuki aku takut,” isak Anita.


“Anita ada apa?” Julian menghampiri Anita yang sedang menangis seraya menyandarkan punggungnya di tembok dekat tangga.


“Oh my God.” Julian melepaskan jasnya lalu mengikatkannya ke pinggang Anita.


Dengan panik ia mengendong Anita menuruni tangga dan memasukkannya ke mobil Hans yang sudah terparkir di lobi perusahaan.


“Yuki,cepat naik biar aku yang nyetir.” Julian langsung duduk di belakang kemudi dan menyetir dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit keluarga Anggoro.


Sementara itu tak jauh dari tangga,Faris mengamati kejadian itu dengan perasaan was was.Ia tampak menghubungi seseorang.


“Dirga,ikuti mobil yang barusaja ke luar.Iya mobil limo hitam.Ke mana dan apa yang terjadi laporkan padaku.”


Faris menutup telponnya dan kembali ke ruang rapat untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Reanita, apa yang coba kau sembunyikan dariku? Jangan kau pikir aku tidak tahu kesedihan di balik senyum ceriamu,” gumam Faris.


☆☆☆☆

__ADS_1


Julian mengumpat kesal karena berkali kali terkena lampu merah. Ia mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.


“Mer, aku lagi di jalan. Anita pendarahan cepatlah kamu bersiap di ICU.Aku juga tidak tahu dia kenapa,kalau aku tahu tidak akan cari kamu.” Julian menutup telponnya.


“Tuan, Nona pingsan,” kata Yuki.Julian langsung tancap gas begitu lampunya hijau.


Sampai di depan rumah sakit mereka di sambut oleh dokter Merry dan dokter Nesya. Dengan cekatan petugas medis memindahkan Anita dan membawanya ke ruang ICU.Julian dan Yuki duduk di depan ruangan itu dalam diam.Keduanya berkecamuk dengan pikiran masing masing.Tiga puluh menit kemudian dokter Nesya ke luar.


“Julian,ikut aku sebetar.” Tanpa sepatah kata pun Julian mengikuti dokter Nesya ke ruangannya.


“Di mana Jimmy?”


“Idiot itu masih sibuk,katakan padaku saja kalau butuh sesuatu.Apa yang terjadi pada Anita?,” jawab tanya Julian.


“Dia hamil dan hampir kehilangan bayinya.Terlambat sedikit saja kemungkinan tidak terselamatkan.Pendarahan sudah bisa dihentikan.Tapi dia butuh transfusi segera,” jawab Nesya.


“Golongan darahku AB,apa golongan darah Anita?” tanya Julian.


“Brengsek, kenapa mereka itu begitu berjodoh.Jimmy juga O resus Negatif.Kalau terpaksa kita harus hubungi keluarganya.” Julian mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Jimmy.


“Julian, kau ada di mana?” terdengar suara Jimmy.


“Idiot,aku ada di rumah sakit mengantar istrimu.Suami macam apa kau ini? Kalau tidak segera ke sini akan kubawa kabur dia.” Julian menutup telponnya tanpa mau mendengarkan Jimmy lebih lanjut.


“Ini salahku,aku membuatnya bekerja keras dan kelelahan beberapa hari ini,” gumam Julian.


“Sepertinya dia tidak menyadari kehamilannya,” kata Nesya.

__ADS_1


“Nes tolong lakukan yang terbaik.Aku akan cari informasi secepatnya.Kalau perlu akan kuambil yang di Jakarta itu,” kata Julian lalu menghubungi seseorang.


Pintu ruangan Nesya terbuka, Jimmy dan Lucas langsung masuk dan duduk di hadapan Nesya.


“Bagaimana dia? Apa yang terjadi padanya?” tanya Jimmy panik.


“Jimmy, apa yang terjadi kemarin? Dia sedang hamil dan mendapat guncangan hebat di rahimnya.Kalau tidak cepat dia pasti kehilangan bayinya,” jawab Nesya.


“Apa? Tapi tadi pagi dia bilang menstruasi,” kata Jimmy.


“Apa kemarin malam kalian berhubungan?” tanya Nesya lagi.


“Iya, dan aku tidak bisa mengendalikan dia,” jawab Jimmy.


“Brengsek, itu tidak mungkin. Jimmy kenapa sekarang kau senang sekali memojokkan Anita?” marah Julian seraya mencengkeram kerah baju Jimmy.


“Julian lepaskan,jangan berkelahi di sini.Jimmy, kau kan bisa menolaknya dengan membujuknya.Aku tidak percaya seorang Jimmy tidak bisa melakukan itu,” gerutu Nesya.


“Sorry,semua karenaku.Aku memberikan obat dalam minuman mereka.I just... Aku hanya ingin mereka berbaikan,” tiba tiba Lucas angkat bicara.


“Bukk.”


Julian melayangkan tinjunya ke muka Lucas.


“Kalau sampai terjadi apa apa pada Anita, aku tidak akan mengampunimu Lucas,” kata Julian.


Nesya berdiri dan mendorong Julian ke pintu.

__ADS_1


“Kalau tidak bisa menjaga emosimu ke luarlah dulu cari angin.Ini tidak menyelesaikan masalah, Anita harus memdapatkan transfusi secepatnya.”


Tanpa membantah Julian akhirnya pergi dari tempat itu.


__ADS_2