
Sampai di rumah Anita jim memarkir mobil sportnya di samping rumah karena lebih ramping dan Lucas memarkirkannya di halaman rumah Anita.Jim segera mengambil kunci dan membuka pintu.Dalam hati Jack hanya tersenyum melihat Bossnya begitu paranoid dan posesif pada Anita.Sementara itu Lucas yang baru masuk ke dalam rumah melihat lihat kira kira apa yang harus dilakukan dengan rumah Anita yang kecil.Ia segera menyingkirkar sofa di depan TV dan mendorongnya ke sudut lain ruang tamu dan menepikan beberapa lemari ke pinggir. Julian segera mengambil dua karpet teba yang ada di aras lemari kamar tamu lalu menggelarnya di depan TV.Jack yang baru datang dari minimarket membeli cemilan san sekantung plastick minuman ringan segera duduk di situ.
"Jack belum selesai, minggir," kata Julian. Jack segera berdiri dan membantu Julian menggeser karpet yang satu lagi.
"Cukup,tiga karpet cukuplah buat rebahan. Asal kalian jangan nakal kalau tidur," kata Lucas.Jim yang rebahan di atas sofa ruang tamu ditemani Anita cuma terkekeh melihat kesibukan mereka.
"Siapa suruh ikutan nginep.Anita kan sudah bilang rumahnya kecil," katanya.
Julian duduk bersandar di sofa yang di bawa dari depan TV. Tiba tiba ia melihat bayangan seseorang menghampiri pintu depan.Julian memicingkan matanya.
"Jim,kau kedatangan tamu" panggil Julian pelan.Jim segera menoleh ke arah pintu.
"Siapa?" tanya Jim.
"Doglas," jawab Julian.
__ADS_1
"Brengsek, mau apa dia kemari." Jim sontak berdiri.
Anita langsung berdiri dan memeluknya.
"Jangan berkelahi Jim, kumohon bicaralah baik baik.Kalau kalian ribut di sini,akan banyak yang datang," kata Anita.
"Tenanglah, aku tidak sekonyol itu Anita," jawab Jim.Ia segera melepaskan pelukan Anita dan membuka pintu sebelum Doglas mengetuknya.Julian mengikuti di belakangnya.
"Jim, maaf mengganggu malam begini," kata Doglas sebelum terlontar pertanyaan dari mulut Jim.
"Aku mengikuti kalian dari alun alun tadi.Maaf aku hanya ingin bicara denganmu.Karena kupikir tak akan ada kesempatan lain waktu," jawab Doglas.
"Hmmm, duduklah." Doglas duduk di kursi teras dan Jim duduk di kursi yang lain tak jauh darinya.Julian hanya berdiri saja menyandarkan bahunya pada penyangga pintu.
"Bicaralah, apa kau akan mengulangi sumpah serapahmu yang dulu? Atau ingin mengutukiku lebih buruk lagi?" tanya Jimmy.
__ADS_1
"Aku ingin meminta maaf, karena sudah salah menilaimu.Setelah bertemu dengan kalian, tanpa sengaja aku bertemu dengan Aris," kata Doglas.
"Hei apa kabarnya? Apa kau punya nomor ponselnya?" tanya Jim.
"Aku lupa menanyakannya, tapi aku memberinya kartu namaku.Semoga dia menelponku.Dia menceritakan kejadian waktu itu, aku memintanya menceritakan kembali karena dia ada di tempat kejadian waktu itu," kata Doglas.
"Hei, kau adalah teman baikku.Kenapa kau bisa senaif itu mempercayai omongan orang? Dan kenapa baru sekarang kau cari tahu?" tanya Jim dengan wajah datar.
"Saat itu aku termakan omongan ayahnya Baruna.Kata Aris bukan kau yang mendatangi Baruna.Tapi Baruna yang mendatangimu dan menyerangmu dengan beberapa Bodyguard ayahnya," kata Doglas penuh sesal.
"Itu karena dia Bodoh,dia mengikat Aris supaya tidak membantuku.Dia tidak tahu kalau aku banyak mengikuti kegiatan beladiri di luar sekolah." Jim tertawa sinis.
"Kata Aris,sebenarnya bukan dirimu yang membuat Baruna koma waktu itu," gumam Doglas.
"Bodyguard Baruna memukulku dengan tongkat softball tapi aku menghindarinya. Karena Baruna di belakangku, entah bagaimana bisa mengenai tengkuk dan kepala belakangnya.Aku hanya menghajar wajahnya hingga babak belur sebelumnya," Jim tersenyum sinis.Doglas menunduk karena rasa bersalah.Untuk sekian lama keduanya saling terdiam.
__ADS_1