
Anita menghampiri ketiga orang pria tampan yang sedang asyik membicarakan sesuatu. Jim menoleh ke arahnya karena menyadari kedatangannya.Ia melihat ke arah piring berisi ikan bakar yang dibawa oleh Anita.
"Bagaimana rasanya? Semoga kau menyukainya,aku tidak mencicipinya tadi." Jim menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Enak,aku tadi sudah coba," Julian mengambil piring dari tangan Anita. Jack mencicipi ikan bakar di tangan Julian.
"Taste good,Perfecto," katanya. Mereka bertiga tertawa.Jim menepuk tempat kosong di sebelahnya supaya Anita duduk di situ. Anita mendekati Jim lalu duduk di pangkuannya.
"Thanks," kata Anita.
"Untuk apa?"
"Sudah menyelesaikan masalah ayahku.Aku tidak tahu sampai kapan sanggup melunasinya. Kau harus tetap mengizinkanku bekerja setelah kita menikah.Supaya aku bisa melunasi hutangku padamu," jawab Anita. Jim tersenyum,aku hanya mencoba menyelamatkan hidupku Anita, pikirnya.
"Aku tidak mau dibayar dengan uang.Setelah menikah,aku hanya minta dua ronde setiap malam sebagai bayarannya," jawab Jim.Muka Anita merona mendengar jawaban kekasihnya.Julian terbatuk batuk.
"Brengsek.Jack ayo pergi,daripada ngiler mendengar obrolan mereka di sini.Kita ini masih belum tujuh belas,"Jack tertawa kemudian mengikuti Julian masuk ke dalam rumah.
"Jim kau ini." Anita mencubit gemas pipi kekasihnya.
__ADS_1
"Anita,aku bahagia sekali hari ini.Ayahmu mau menerimaku menjadi menantunya.Seandainya dia menolakku,apa kau mau lari bersamaku?" Jim mendongakkan wajahnya menunggu jawaban Anita.Gadis itu tiba tiba mengecup bibirnya.
"Ehem," terdengar suara seseorang dari arah pintu.Jim dan Anita bersamaan menoleh ke arahnya.
"Ayah," Anita segera turun dari pangkuan Jim. Ardian segera menghampiri mereka, Anita merasa malu karena ayahnya pasti sudah melihat apa yang mereka lakukan barusan.
"Ayah sudah memberi restu,kenapa masih mau lari?" Jim tertawa kecil.
"Rencananya saya akan ambil paksa kalau tidak dapat restu dari ayah.Anita akan saya bawa lari ke USA atau ke Italy.Setelah punya banyak anak baru saya bawa pulang menemui Ayah." Ardian tertawa,ia merasa calon menantunya sedang melucu.Jim ikut tertawa karena merasa benar benar konyol memikirkan hal seperti itu.
"Nanti setelah menikah kau boleh membawanya lari.Ikuti kemana pun suamimu pergi Nita,jangan suka ngeyel.Ayo kita makan, kalian sudah lapar kan?"Ardian menggandeng tangan putrinya, Jim mengikuti di belakangnya.Di meja makan,Anita duduk di sebelah Jim dan ayahnya.
Mata Anita bersinar sinar melihat makanan faforitnya.
"Insting kali ya Om Budi, hari ini aku pulang,"
kata Anita.Ia berkali kali menelan ludah, hmm enak.
"Sayang,aku mau," bisik Jim di telinga Anita.
__ADS_1
"Yakin mau? Sudah pernah makan yang seperti ini?" Jim menganggukkan kepalanya.
"Nita, aku juga mau. Jack, mau?"tanya Julian.
"Mau," jawab Jack. Anita segera mengambilkan untuk Jim kemudian untuk Julian dan Jack.
"Nita,kita makan di piring yang sama ya,"pinta Jim.Anita melirik ke arah yang lain.
"Nggak enak dilihat mereka.Malu sama ayah ibu," bisik Anita.
"Ya sudah aku tidak mau makan,"Jim merajuk dan Anita mulai kesal dengan kekanakannya.
Ardian yang melihat situasi itu segera mengambil piring milik Anita.
"Nita,jangan bertengkar di meja makan. Memberikan hal kecil saja tidak bisa, anggap saja kami ini tidak ada," kata Ardian. Jim terasenyum senang. Anita mengambilkan nasi untuk kekasihnya itu.
"Ayo suapi aku," pintanya.Anita menyuapkan sesendok penuh ke dalam mulut Jim hingga pria itu terbatuk batuk.Ardian mengambilkan segelas air putih untuknya.Jim segera meminumnya.Anita menepuk nepuk punggungnya karena ia masih terbatuk batuk.
"Ya ampuun, kalian ini mau makan atau mau perang?" kata Julian.Aksal cuma bisa geleng kepala melihat kelakuan kakaknya.
__ADS_1