CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption273


__ADS_3

Pagi hari setelah sholat subuh,Anita turun ke dapur untuk membuatkan Jimmy bubur sumsum.Ia menolak saat ibunya membantu.Pagi itu sangat sibuk, beberapa koki memasak untuk sarapan para tamu sebelum mereka pergi.


"Nona,ini saya buatkan rendang.Ini tidak pedas,dagingnya juga sangat empuk jadi tidak masalah dimakan sama bubur," kata Arman yang tiba tiba muncul di belakangnya.


"Iya Man,tolong suruh bawa ke Tuan di atas.Dan ini juga ya,buburnya juga."


Anita meninggalkan dapur dan menuju ke kamar ibu Sepuh.Faris membukakan pintu setelah beberapa saat Anita mengetuk.


"Bune,Apa Bune kelelahan di rumah Nita? Ngapunten nggih (maaf)," kata Anita saat ibu Sepuh menghampiri dan mengajaknya duduk.


"Ora Nduk (tidak Nak), Ibu senang bisa datang ke sini dan mengenal keluargamu. Lain waktu kamu yang ke rumah ya,Ibu wes ora kuat perjalanan jauh."


"Iya,Ibu doakan Nita sehat biar bisa ke sana.Nita juga doakan Ibu selalu sehat dan itu anak Ibu yang ganteng itu cepetan suruh nikah."


"Golek ke (carikan)," kata Faris.


"Wegah (gak mau).Nanti kalau kalian bertengkar,aku dibawa bawa," jawab Anita.


Faris hanya tersenyum.


"Mbak Ratna kae Mas,cari.Jadi laki laki itu yang agresif,jangan minta didekati terus sama perempuan," kata Anita.


"Lho nanti kalau aku agresif malah podo kabur,dikira gila," jawab Faris.


"Wes,sekarepmu lah(terserah lah). Bune, ini ada sedikit dari Nita,tolong jangan ditolak ya."


Anita meraih tangan ibu sepuh dan memberikan sebuah amplop yang lumayan tebal.


"Uang jajan Bune," kata Faris.


"Rausah Nduk (ndak usah Nak).Bune gak sekolah koq dikasih uang jajan.Ibu sudah dapat jatah dari Faris,Fara,Farhan sama Mbak Riri tiap bulan.Sudah kebanyakan," kata Ibu sepuh.


"Kalau ibu ragelem yo Nita nangis nang kene,iki duwitku dewe Bune,hasil kerja(kalau ibu ndak mau nita nangis di sini,ini uangku sendiri,hasil kerja). Trima ya Bune," rengek Anita.


"Trima saja lah Bu,dia pasti nangis beneran lho," kata Faris.


"Yo wes," kata ibu Sepuh.


Anita memeluk Ibu Sepuh dengan sangat gembira.


"Bu Nita pergi dulu mau nemenin Jimmy makan,dia kalau makan mesti nunggu saya.Ajak ibu sarapan Mas," kata Anita.


"Nanti lah, masih terlalu pagi," kata Faris.


"Bu,saya pergi dulu," pamit Anita seraya mencium tangan ibu Sepuh.Wanita tua itu mengiyakan lalu mencium kepala Anita.

__ADS_1


Anita melangkahkan kakinya ke koridor rumahnya yang sekarang memiliki sekitar sembilan kamar tamy.Perasaan campur aduk mulai menyelimuti hatinya saat kakinya berhenti di depan pintu kamar Ihsan ,dengan ragu tangannya mengetuk juga.


Ihsan yang tampak sudah rapi membukakan pintu dengan raut muka bertanya tanya.


"Masuklah Kak," katanya.


Anita masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa.Di ruangan itu ada dua ranjang yang berukuran sedang.Mata Anita mencari cari di mana Siska.


"Kak Siska sedang mandi," kata Ihsan yang langsung menangkap arti gestur Anita.


"San,aku minta maaf atas ketidak nyamanan yang aku buat semalam, dan terimakasih bersedia datang jauh jauh untukku," kata Anita.


"Kak Nita ngomong apa sih? Tentu aku dan Kak Siska harus datang ke pernikahanmu. Kau adalah kakakku,Kak Siska Juga.Aku sudah biasa lihat kalian bertengkar sampe heboh seperti kemarin, cuma sayang sekali harus di depan orang orang yang tidak aku kenal," kata Ihsan.


Pintu kamar mandi terbuka, Siska ke luar dengan rambut yang masih basah dan mata sembab.


"Ta..." katanya.


Anita hanya melihat sebentar lalu memalingkan wajahnya ke arah Ihsan.


Siska duduk di sebelah Ihsan.


"Sis,aku minta maaf semalam melakukan hal bodoh seperti itu.Aku marah pada Julian tapi kau yang harus kena.Aku minta maaf,aku memang saahabatmu tapi tidak seharusnya terlalu mencampuri kehidupan cintamu.Kau berhak memilih siapa pun dan tidak seharusnya aku lelah sendiri memikirkan orang lain.Jangan hiraukan kata kataku kemarin,aku benar benar minta maaf," kata Anita.


"Aku mengenalmu bukan hanya kemarin, kau pasti punya alasan sampai semarah itu.Kalau kau bilang jangan,aku tidak akan terima Julian Ta," kata Siska.


Anita bangkit dari duduknya,Siska buru buru mengejar Anita.


"Ta,aku tidak masalah kau marah padaku. Sampai kapan pun kau tetap adikku."


"Terima kasih sudah datang jauh jauh, jaga dirimu Sis.Sebentar lagi aku pergi, jadi tidak bisa mengantar kalian."


"Baiklah,aku menunggumu di Jogja untuk mengurusi galeri kita ya," kata Siska.


Anita ke luar dari kamar itu tanpa menjawab perkataan Siska.


Anita langsung naik ke atas untuk menemui Jimmy.


"Dari mana Nyonya Jimmy,makanannya sampai dingin," kata Jimmy seraya bangkit dari duduknya untuk memeluk Anita.


Tanpa menjawab Anita memanaskan semua makanan dalam microwave.


"Ayo kita makan dan segera pergi,aku sudah menemui para tamu dan berterima kasih," kata Anita.


"Kalian mau pergi ke mana?" tanya Julian Anggoro yang tiba tiba muncul bersama ayah dan ibu Anita.

__ADS_1


"Nita? Ada apa Nak? Kau baru beberapa hari datang,kenapa secepat ini ingin pergi?"


Ana mengusap air matanya.


"Ibu,aku hanya ingin membawanya jalan jalan sebentar.Tidak usah khawatir,dia pergi bersamaku.Hans yang akan menyetir,aku sudah baikan Dad.Tidak jauh hanya ke kota M dan menginap di Villa milik keluarga.Nanti Jack dan yang lain akan menyusul,aku sekalian mau meeting di sana sama mereka," jawab Jimmy.


"Baiklah,tapi besok sore kalian harus ke rumah besar.Seluruh keluarga berkumpul, kalian harus menyambut mereka," kata Julian Anggoro.


"Baiklah,mereka hanya memberi kita sedikit waktu Anita," kata Jimmy.


Anita hanya diam dan menyuapkan bubur ke mulut Jimmy.


"Pak Ardian,ayo kita temani para tamu sarapan," kata Julian Anggoro.


"Iya,Besan.Ayo Bu," kata Ardian.Ana melihat sebentar ke arah Anita lalu mengikuti suaminya pergi.


"Anita,sudah jangan dipikirkan.Orang lain mau kecemplung got kek,mau kecemplung sumur kek,udah biarin aja. Kau punya projec baru untuk mantan pacarmu ini," kata Jimmy.


"Apa?" tanya Anita.


"Membuat badanku seksi lagi seperti dulu," jawab Jimmy.


"Apaan sih,aku harus melakukan apa?"


Jimmy terkikik melihat Anita terpancing juga dengan kata katanya.


"Ya,harus sering sering dibuatkan makanan enak,sering sering dipeluk, dicium,ditungguin terus," kata Jimmy.


"Dih," kata Anita.


"Serius,kita honeymoon yuk.Ke Eropa, ke kota kota yang romantis,satu atau dua bulan,atau ke Jepang,atau ke Bali, terserahmu mau ke mana."


Anita tampak sedang berfikir,Jimmy tersenyum karena usahanya memperbaiki mood istrinya lumayan berhasil.


"Aku malas pergi jauh," kata Anita.


"Hmm sayang sekali kalau begitu, padahal sebentar lagi liga champion lho,kita bisa langsung nonton di stadion mereka. Atau nonton F1 atau MotoGP langsung di sirkuit? Ticketnya VIP deh, siapa tahu ketemu langsung sama Rossi," kata Jimmy.


"Heleh,kalau gitu kamu pergi honeymoon nya sama Jack aja.Masa honeymoon nonton bola,apa nggak sekalian saja nonton balap kuda?" kesal Anita.


Jimmy terkikik mendengar jawaban Anita. Muka istrinya itu sudah mulai enak dilihat. Jimmy bahagia bisa merasakan bagaimana susahnya punya istri yang sedang mengandung dan jadi tukang ngambek, moody dan tidak mudah ditebak maunya.


Kadang kadang ia merasa Anita berubah menjadi orang lain,dan dirinya harus bersabar menghadapi hal itu.


"Semoga Junior tidak nakal sepertimu," gumam Jimmy.

__ADS_1


"Apa?"


"Tidak nakal sepertiku," ralat Jimmy.


__ADS_2