
Siang itu Anita sibuk menyiapkan bahan bahan untuk membuat pie apel dan pie nanas.Ia menyiapkan semuanya sendiri dan tidak mengizinkan siapa pun membantunya termasuk Arman.
Anita memanggil Hans yang datang ke dapur untuk mengambil Jus di kulkas.
“Hans, apa kau mau pergi?” tanya Anita.
“Apa Nona ingin di antar ke mana?”
“Tidak.Kau mau ke mana?”
“Mau ke rumah besar untuk memeriksa sistem dengan pak Corvin. Mungkin besok agak siangan baru kembali.Kalau Nona butuh sesuatu minta Bustam dan Yuse untuk mencarikan.Nona jangan ke luar rumah,” kata Hans.
“Baiklah.Hans, kenapa kemarin kau meninggalkanku bersama Julian?” tanya Anita.
“Saya mengawasi kalian diam diam, Tuan Julian meminta pada saya untuk dikasih kesempatan menyelesaikan masalah dengan Nona.Saya fikir juga OK kalau niatnya begitu,Tuan Julian bukan penjahat,saya tidak khawatir. Hitung hitung biar Nona juga puas maki maki dia.” Hans terawa kecil.
“Kau juga mau balas dendam ya, harusnya kemarin kau tonjok mukanya sampai babak belur,” kata Anita.
“Kata kata Nona lebih menyakitkan daripada pukulanku he he,” kata Hans lalu pergi.
Anita meneruskan mempuat pie dan Jus jeruk peras dengan jumlah yang banyak.Sehabis Isya baru selesai membuat sepuluh loyang pie dan satu galon jus jeruk.
__ADS_1
“Arman, aku mau naik dulu.Tolong kalian bagikan ke semua orang tanpa terkecuali.Katakan pada mereka aku membuatnya susah payah, aku pasti sedih kalau tidak dimakan,” kata Anita.
“Ngomong ngomong ada apa nih Nona buat segini banyak?” tanya Arman.
“Ulang tahun si Bogel, kucingnya Aksal,” jawab Anita.Arman tampak kaget dan Anita tertawa melihat ekspresinya.
“Cuma pingin aja Man,bayiku kali yang pingin,” kata Anita lalu pergi.
Sampai di kamar Anita segera membersihkan diri.Setelah shalat isya Anita rebahan di atas ranjang hingga terlelap.
Anita terbangun dan gelagapan, ia melihat jam dinding sudah tengah malam.Ia melihat situasi ke luar jendela,sepi sekali.Tidak ada penjaga berlalu lalang seperti biasanya.
Ia berlari kecil melihat ke ruang pengawas dan ruang istirahat para penjaga, semua tertidur.Anita bergegas ke ruang server CCTV dan mencoba mematikannya.
“Sial, aku tidak tahu passwordnya,’ gumam Anita.
Akhirnya Anita langsu mencabut kabel power dan kabel linenya.
Anita bergegas mengambil koper dan tasnya yang ia sembunyikan di kamar lamanya.Memakai Hoodie dan masker yang dibelinya beberapa waktu yang lalu.
Anita menuju ke garasi untuk memakai salah satu mobil Ranger hitam yang biasa dipakai para pengawal.
__ADS_1
Ia tahu kuncinya selalu ada di dalam mobilnya.Anita mengemudikan mobil itu menuju gerbang, susah payah ia mendorongnya dan setelah mobil di luar Anita nenutupnya kembali.
Ia melajukan mobilnya agak cepat menuju ke tempat pemberhentian bus cepat.Sekita setengah jam Ia sampai ke tempat itu.Anita memarkir mobil itu agak jauh dan berjalan kaki ke tempat pemberhentian Bus.
Anita duduk sendirian di kursi panjang pemberhentian bus itu.Sebenarnya ia agak merasa takut karena masih jam satu dinihari.Sekitar setengah dua ada bus cepat jurusan Jogja Magelang yang berhenti.Anita segera naik dan dibantu kondektur menaikkan kopernya. Hanya ada sekitar duapuluh orang penumpang.Ia segera mencari bangku kosong yang agak di depan. Bagi Anita dulu sudah biasa naik bus seperti ini, tapi ia tidak pernah naik bus jarak jauh di malam hari, itu membuatnya sedikit horror.
“Mau turun mana Mbak?” tanya kondektur yang mendatangi Anita.
“Jogja Pak,Saya bayar dua kursi ya. Saya kurang nyaman kalau tempatnya kurang luas,” kata Anita.
“Boleh,biar saya naikkan kopernya,” kata kondektur itu.
“Biar di sini saja Pak,nanti kalau jatuh laptop saya pecah.”
Anita mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan, pria itu memberikan kembaliannya.
Waktu berlalu sangat panjang, karena tidak sedetik pun ia mampu memejamkan matanya.
“Selamat tinggal semuanya, entah berapa tahun lagi aku akan kembali. Atau mungkin tidak akan kembali lagi.”
Air mata Anita kembali berlinang, ia mengambil tisyu dan botol air mineral dari dalam tasnya.
__ADS_1