CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption213


__ADS_3

Dicky tertawa kecil melihat ponselnya, Prasetyo yang duduk di sebelahnya langsung mengetok kepalanya dengan bolpoin di tangannya.


“Ada apa? Kenapa tiba tiba cengengesan begitu? Biasanya kamu seperti itu kalau bersama Jimmy,” kata Prasetyo.


“Apa lagi yang buat Dicky tertawa sampai begini kalau bukan dia,” jawab Dicky seraya menunjukkan video kiriman anak buahnya kepada ayahnya.


“Dia pergi buru buru mau beli Bakso Tenis, sebenarnya meeting ini belum bisa dikatakan selesai.Main diakhiri saja.Awas kalau cari aku lagi buat jelasin ini itu,” gerutu Prasetyo.


“Aku tadi sempat ngintip Pa, konsentrasinya langsung kacau begitu lihat chat Anita,’Jim aku mau beli bakso Nuklir ya'.Aku yakin dia juga nggak ngeh kalau dijelasin ini itu,” kata Dicky.


“Tadi saya juga sempat kena semprot Nona karena langsung saya antar pulang.Sepertinya Boss juga gak bakalan luput kena semprot,” kata Corvin.Semua yang ada di ruangan itu tertawa.


“Aku nggak nyangka Pa,Jimmy benar benar gila karena perempuan itu dan bisa kembali bersama. Dulu aku pernah ditempeleng paman Julian gara gara bantuin dia kabur buat cari Anita ke Solo.”


“Biarkan saja dia, kita lanjutkan saja sendiri meetingnya,” kata Prasetyo.


“Baiklah,biarkan Jimmy santai sebentar.Tolong siapkan laporan pencapaian dari tugas masing masing dan masalah yang mungkin timbul.”


Prasetyo kembali membuka rapat kecil yang diminta oleh Jimmy sebelumnya.


Sementara itu Jimmy segera menemui Anita saat tiba di rumah.Ia mencari Anita di seluruh rumah dan panik sendiri saat tidak menemukannya. Ia segera menelpon pengawalnya untuk menanyakan keberadaan istrinya.


“Nyonya ada di taman belakang Tuan,” kata pengawalnya setelah memeriksa CCTV.

__ADS_1


Jimmy bergegas ke taman belakang dengan memawa bakso pesanan Anita.


“Sayang, ini baksonya,” kata Jimmy seraya memeluk istrinya yang sedang sibuk menyiram anggrek.


“Hmm, cepat sekali,” Anita menatap bakso yang dibawa Jimmy.


Jimmy memasukkan isi bungkusan itu ke dalam mangkuk yang sudah dibawanya dan ia àgak terkejut melihat ekspresi kecewa dari Anita.


“Aku mau bakso Nuklir bukan bakso tenis,” kata Anita.Lho koq tahu kalau ini baso Tenis, pikir Jimmy.


“Tadi bakso Nuklirnya rame banget, jadi aku belikan ini.Sama saja kan Sayang,”rayu Jimmy.


“Nggak sama,kurang gede baksonya. Aku nggak mau,” kata Anita.


“Mau bakso yang sebesar apa, sepertinya bakso Nuklir juga hampir sama dengan bakso tenis.”


“Aku mau bakso sebesar bola basket, nanti akan kucari sendiri sampai dapat.Tuh makan sendiri.” Anita ngeloyor pergi dan Jimmy mengikutinya.


Anita masuk ke dalam kamar dan tengkurap begitu saja di atas ranjang. Jimmy menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya dan menghela nafas panjang saat melihat air mata istrinya.


“Akan kusuruh Daren menjual beberapa lembar sahamku untuk membuat bakso sebesar bola basket,” kata Jimmy.Anita tetap tak bergeming mendengar candaan Jimmy.


Jimmy segera mengangkat telponnya.

__ADS_1


“Hans, belikan baso Nuklir sekarang. Belikan yang paling besar yang mereka punya,” kata Jimmy.


“Meeting belum selesai Boss,” jawab Hans.


“Bodo amat, pergi sekarang atau kita berdua akan dipecat.”


Jimmy menutup telponnya lalu menekan nomor lain.


“Man, kemasi pakaianmu sekarang. Kamu pergi dari rumahku,” kata Jimmy.


“A apa Tuan? Apa saya diberhentikan kerja?” tanya Arman terbata bata.


“Kamu pindah ke sini, ke rumah Anita. Buatkan adonan bakso yang enak. Buatkan yang besar, sebesar bola basket.”


“Waduh, dicetak pake apa Tuan?” tanya Arman.


“Gak mau tahu,tar malem sudah harus nyampe sini.”


“Baik Tuan,” kata Arman pasrah.


Diam diam Anita tersenyum mendengar suara panik Jimmy.


“Tunggu ya,Sayang.” Jimmy mengelus rambut panjang nan lebat milik istrinya. Rambut hitam pekat itu terasa halus dan lembut di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2