
Anita menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya ke belakang.Jim yang baru selesai ganti pakaian segera menghampiri dan memeluknya dari belakang.Bau harum tubuh Anita membuatnya terus berlama lama.
"Jiim, ayo.Sini kusisir rambutmu," Anita berbalik menghadap suaminya.Jim duduk di kursi karena Anita kesulitan menjangkau kepalanya.Karena Jim memang jauh lebih tinggi dari Anita. Anita mengambil tas selempang miliknya dan memeriksa isinya.
"Hubby, bawa uang berapa? Uangku cuma tinggal duaratus soalnya."
" Limaratus, nanti pasti lewat ATM.Di mobil juga pasti ada lima juta, tenang saja," jawab Jim.
Anita segera memakai sepatu flatnya.Ia melihat ke arah Jim yang sedang asyik dengan ponselnya.Memang benar apa yang selalu dikatakannya,Jim memang selalu sempurna dalam setiap penampilannya. Anita baru sadar kalau dari tadi Jim memanggilnya setelah ciuman kecil mendarat di pipinya.
“Ayo berangkat, apa aku harus menunggumu bengong sampai siang?” kata Jimmy.Anita tersenyum malu, ia segera mengikuti langkah suaminya menuju ke halaman rumah.
“Tuan, apa tidak sebaiknya kami ikut bersama Tuan? Biar kami mengikuti di belakang mobil Tuan?” tanya salah seorang pengawal.
__ADS_1
“Tidak perlu,sudahlah tidak masalah kami pergi sendiri. Aku tidak merasa punya musuh,tenang saja,” jawab Jim seraya membukakan pintu mobil untuk Anita.Setelah istrinya duduk di kursi depan sebelah kanan, ia pun memutar dan duduk di belakang kemudi.Jim segera melajukan mobilnya menuju ke ATM terdekat untuk mengambil uang dan memasukkan sebagian ke dompetnya dan sebagian diberikan pada Anita.
“Nggak muat di dompetku,” katanya seraya melajukan kembali mobil sportnya menuju ke luar kota. Jim tersenyum senang melihat wajah Anita berbinar senang.
“Sayang apa kau merasa senang?” tanya Jim.
“He em, segar rasanya mataku,” jawab Anita.
“Lain kali aku akan mengajakmu menginap di puncak.Aku punya satu villa di sana.”
“Jangan kasih tahu Jack dan Julian kalau gak mau mereka ngintilin kita.Apa lagi si Lucas, dia itu bawaannya nempel terus sama aku.” Jim dan Anita tertawa.
“Jim...”
__ADS_1
“Hmm,ada apa Sayang?”
“Kau masih berhutang padaku,” kata Anita.
“Hutang apa? Perasaan selalu kubayar lunas tiap malam.Apa masih kurang? Brankasku juga sudah kuberikan padamu,apa lagi?” tanya Jim.Anita mencubit gemas lengannya.
“Bukan itu...”
“Apaa? Senjataku pun sudah menjadi milikmu.”
“Kau belum menceritakan bagaimana kau bertemu dengan Jack.Kau selalu banyak alasan tiap kali kuminta cerita. Jack juga sama,kalau ditanya pasti suruh tanya kamu. Sebenarnya kenapa sih?” tanya Anita.Jim tertawa kecil.
“Tentu saja dia malu kalau cerita, itu sama saja menceritakan aib sendiri,” Jim tertawa lagi.
__ADS_1
“Jack yang dulu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu dia itu bisa dibilang berandalan,suka bikin onar, teman temannya juga nggak ada yang bener.Padahal orang tuanya bisa dibilang orang kaya dan terhormat di Massachusetts.Ibunya juga seorang wanita yang sangat lembut.Tapi ada satu hal yang membuatku merasa kagum padanya.Dia sangat mencintai kedua orang tuanya. Seberandal berandalnya dia, tiap hari selalu pulang ke rumah,” kata Jim.
“Aku berhasil masuk ke Harvard University, Daddy sangat senang.Tapi aku diam diam juga ikut tes di MIT dan diterima.Jack juga sama kuliah di situ dan mengambil jurusan yang sama denganku.Pada hari ke dua mulai kuliah itu aku bertemu dengan Jack karena kami berdua datang paling akhir pada jam kuliah itu.Masih tersisa tiga bangku kosong, dan semua diambil olehnya.Kebayang nggak bagaimana menyebalkannya dia?” Jim tertawa mengingat waktu itu.