
Anita membuka matanya karena terdengar suara Irene membangunkannya. Ia merintih karena punggungnya terasa sakit.
Irene membantunya bangkit dan berpindah ke tempat tidur.
"Ren, tolong ambilkan obatku. Ah, perutku terasa sangat kaku, kakiku juga."
Irene segera mengambil obat dan segelas air putih. Anita segera meminum suplemen yang disodorkan Irene kepadanya.
"Terimakasih ya, aku harap kau tidak keberatan aku mintai tolong. Aku tidak kenal siapa pun di sini, " kata Anita.
"Tidak apa Nona, saya memang ditugaskan menjaga Nona. Nona belum makan, apa perlu saya ambilkan? Ini sudah malam jadi di bawah sudah tidak ada orang."
"Tolong hangatkan roti isi di kulkas itu saja," jawab Anita.
Anita melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan jam sembilan malam lebih.
Bagaimana aku bisa tidur selama itu, aku pasti susah tidur setelah ini, pikirnya.
Irene menyodorkan roti isi yang sangat harum setelah dipanaskan.
"Ren, tolong ambilkan paper bag yang kamu bawa tadi di meja sofa itu. Selain coklat apa lagi yang dia berikan padaku? Bagaimana dia tahu tentang coklat itu? " tanya Anita.
"Tuan pasti sudah mencari tahu tentang itu Nona, dia menyukaimu," Jawab Irene.
Anita membuka paper bag itu dan mengambil isinya. Ternyata sepuluh buah novel Halequin keluaran terbaru. Novel HarleQuin yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Dia manis sekali, bagaimana dia tahu kebiasaan lamanya. Akhir akhir ini dirinya tidak punya waktu untuk mencari dan membaca novel jenis itu.
"Ren, bisakah kau tanyakan padanya apa aku bisa menemuinya saat ini? Dia pasti sudah tidak jetlag lagi kan? Apa ini terlalu malam? Sebentar saja, sepuluh menit saja, " pinta Anita.
"Entahlah Nona, akan saya tanyakan sebentar." Irene ke luar kamar dan pergi entah ke mana.
Anita meminum susunya setelah menghabiskan roti isinya. Beberapa saat kemudia Irene datang dan menghampirinya.
"Tuan Muda tidak bersedia Nona, dia sedikit tidak enak badan. Katanya besok siang dia akan menemuimu," jawab Irene.
__ADS_1
"Oh, begitu. Ya sudah, nanti tolong minta kan izin pada Tuan Basar ya.Aku bosan di rumah ini, aku ingin minta izin untuk ke luar sebentar. Kau bisa pergi, juga pengawal lain kalau dia takut aku kabur," kata Anita.
"Nona, akan kucoba tapi sepertinya akan sulit dikabulkan," jawab Irene.
"Baiklah kau bisa pergi Ren, aku mau istirahat," kata Anita sedikit kesal.
Irene akhirnya pergi dengan menyaksikan raut muka yang tidak menyenangkan dari Anita.
Sialan, aku mau dijadikan apa di sini? Tempe busuk? Kalau tidak dikasih ke luar, aku cari celah untuk kabur saja, pikir Anita.
Pintu kamar diketuk, Anita beranjak membuka pintu karena tidak seperti biasanya mereka langsung masuk.
"Ya? "tanya Anita karena tidak mengenali siapa yang ada di depan pintu.
" Tuan Muda ingin bertemu Nona," Jawab pria yang memakai jubah putih seperti seorang dokter.
"Oh, jadi dia berubah pikiran?" gumam Anita.
"Mari ikut saya," katanya.
Pria itu berjalan meninggalkan Anita dan menyusuri koridor lantai dua hingga sampai ke kamar yang paling ujung. Anita merasa berdebar saat tiba di depan pintu. Pria itu membuka pintu dan mereka masuk ke dalam kamar yang gelap.
"Kenapa lampunya tidak dinyalakan? " tanya Anita.
"Aku minta maaf, tapi kepalaku sakit kalau lampunya menyala. Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyanya.
Anita melihat sosok Tuan Muda itu sedang duduk bersandar di tempat tidur nya dari cahaya luar yang masuk melalui jendela.
"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas oleh olehnya.Dan aku juga ada sedikit hal yang ingin kusampaikan. Tuan, ada hal hal tentang diriku yang mungkin tidak kau tahu. Aku sedang mengandung anak dari seseorang, aku juga sering melakukan sesuatu yang bisa mencelakai orang lain. Aku juga bukan wanita yang baik untuk dijadikan istri.Jadi alangkah baiknya kau pikirkan lagi untuk menikahiku. Keluargamu adalah orang terpandang, kurasa tidak sulit untuk mencarikanmu istri seribu kali yang lebih baik dariku," kata Anita.
"Aku menyukaimu dan menginginkanmu, itu saja sudah cukup alasan untuk menikahimu."
"Sebenarnya aku datang ke Jogja untuk menata kembali hidupku, melupakan hal hal menyakitkan dan membesarkan anak anakku. Aku sudah tidak punya keinginan untuk menjalin hubungan perasaan dengan pria mana pun.Dibuang satu kali sudah cukup, aku punya kemampuan untuk membesarkan mereka.Ayahmu membawaku ke sini adalah hal yang di luar ekspektasiku.Dia akan melaporkan ku ke polisi karena melakukan percobaan pembunuhan atau aku bebas dengan syarat menikah denganmu. Aku berharap kau mempertimbangkan reputasimu,aku sungguh tidak pantas menerimamu. Aku sudah siap kalau pun Tuan Agustian melaporkan ku ke polisi, aku memang pantas."
Anita menyeka air matanya yang tiba tiba ke luar.
__ADS_1
Keduanya saling diam beberapa saat.
"Itu saja Tuan, aku pergi dulu. Beristirahatlah, maaf aku mengganggumu," kata Anita seraya berbalik pergi.
"Tunggu, Anita. Jangan pergi!"
Teriakan itu membuat Anita tidak mampu lagi melangkahkan kakinya. Suara yang begitu familiar di telinganya.
"Bagaimana dengan bayimu kalau kau di penjara?"
"Anak ini akan kuberikan pada kakek dan neneknya. Paling tidak mereka tidak diabaikan oleh ayahnya yang sudah bahagia bersama wanita yang dinikahinya."
"Lalu bagaimana kalau mereka menanyakan ibunya? Setidaknya kau bisa membesarkan mereka denganku."
"Tuan, aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku.Biarlah mereka mengatakan kalau ibunya sudah tidak ada, dan melihat mereka dari jauh sudah cukup bagiku. Lagipula mungkin aku akan dipenjara sangat lama. Sudahlah, aku pergi dulu," kata Anita.
"Tidak Anita, ugh uhuk uhuk."
Tiba tiba Tuan Muda yang tadinya duduk tenang, berusaha bangkit untuk menggapai Anita.
Anita yang panik segera mencari saklar lampu dan menyalakannya.
Anita berlari menghampiri pria itu dan betapa terkejutnya saat melihat wajahnya.
"Jimmy! " teriak Anita yang melihat Jimmy memuntahkan darah berkali kali dari mulutnya.
Ia segera menggapai tombol putih yang ada di sisi nakas.
"Jimmy! Jimmy! "
Anita memeluk Jimmy dan seketika melupakan amarahnya. Tangisnya pun pecah saat mendengar bisikan lemah Jimmy.
"Jangan terlantarkan anak kita. "
Beberapa saat kemudian kamar itu penuh dengan tenaga medis yang segera menangani Jimmy.
__ADS_1
Anita hanya bisa mundur sambil menangis. Hatinya terasa sakit melihat kondisi tubuh Jimmy yang begitu kurus dan hampir tidak ia kenali.
Mata Jimmy terpejam, nafasnya yang tersengal tidak teratur membuat Anita terkulai lemas di sisi ranjang. Tanpa sadar ia menggenggam tangan Jimmy tidak mempedulikan dokter yang memintanya menjauh.