
Haruka menangis sesengukan sambil memeluk Anita.
"Haruka,ada apa? Apa kau sedang mengidam sesuatu?" tanya Anita.
Wanita keturunan Jepang Indonesia itu mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Aku hanya ingin mengenal wanita yang memiliki hati Hiroshi.Apa aku salah Anita? Hiro melarangku mendekatimu,tapi setelah aku melihat bagaimana dirimu, Jimmy tampak begitu mencintaimu, keluarga dan kerabatnya juga sangat perhatian padamu.Aku tahu Hiro masih begitu mencintai dirimu,aku sangat sakit hati tapi rasanya aku juga menyukaimu," Haruka tertawa miris.
Anita terperangah mendengar apa yang dikatakan Haruka.
"Apa maksudmu Haruka,kalian bahkan sudah mempunyai anak.Hiro pasti sudah membuka hatinya untukmu.Tidak mungkin..."
Haruka mengusap air matanya.
"Riu dan bayi yang kukandung ini adalah hasil inseminasi buatan.Bukan dari kami berhubungan badan.Bahkan menyentuhku saja Hiroshi tidak sudi ," Haruka menangis tersedu.
"Haruka!" tiba tiba saja pintu yang tidak tertutup rapat terbuka dan Hiroshi masuk dan menarik tangan Haruka dengan paksa.
"Jangan percaya apa yang dia katakan," kata Hiroshi lalu pergi dari hadapan Anita.
Anita masih terpaku di tempatnya dengan mulut masih ternganga.
"Ta."
Tiba tiba saja Lenny dan dua anaknya sudah ada di depan Anita.
"L Len," Anita tergagap lalu mengusap wajahnya.
"Kenapa? Baru melihat hantu?" canda Lenny.
"Eh,nggak.Kapan sampai sini? Kenapa tidak mengabariku?"
"Eh,sudah.Tapi diabaikan.Jangan jangan ponselmu disita sama Jimmy," kata Lenny.
"Iya,aku belum memintanya kembali. Harus istirahat fokus sama babies," jawab Anita.
"Bayimu di mana?"
"Dibawa berjemur sama pengasuhnya, paling sekarang lagi diculik sama kakek neneknya," jawab Anita seraya mengajak Lenny dan kedua anaknya ke teras belakang.
Beberapa pelayan segera menyuguhkan aneka makanan ringan dan beberapa minuman kemasan.
"Eh ada Tante Lenny," kata Jimmy yang sedang menggendong bayi perempuannya dengan wajah sumringah.
"Bahagia ya punya princes,aduh mirip sekali sama kamu Ta,tapi hidungnya lebih bangir.Jim ini hidungmu kayanya," kata Lenny.
Ketiganya tertawa.
"Untung dikasih cewek satu,kalau nggak pasti Jimmy merengek minta kamu hamil lagi."
"Nggak juga sih,kalau nggak dikasih perempuan ya ga pa apa.Paling siap siap jadi wasit.Kalau ada satu cewek kan ada yang ngerem cowok cowok berkelahi. Secara umur mereka hanya selisih sedikit , jadi kejadian gitu pasti ada.Aku dan kak Jo dulu juga sering gitu padahal umur kita terpaut agak jauh," kata Jimmy.
"Eh, iya.Anak kalian banyak ya, tahu tahu lima aja.Nambah lima lagi seru Nih.Bapak nya yang jadi keeper."
Jimmy tertawa.
"Hadeh, ada anak anaknya Jack juga. Belum lagi nanti anaknya Lucas, anaknya Hans, anaknya Corvin, anaknya Marcel, anaknya Julian.Bapaknya Bandel masa kecilnya, anaknya juga pasti sama," jawab Jimmy.
"Yang bule itu ya, mereka ganteng lho. Hot Daddy banget."
"Heh,gua juga Hot Daddy," kata Jimmy.
"Ingat sama Puaji,keselek selek dia," kata Anita.
Lenny tertawa ngakak.
"Jangan aduin ke Papa ya," kata Lenny pada kedua anaknya yang dibalas cengiran oleh sang kakak,sementara adiknya hanya bengong tidak mengerti.
Lenny nengambil alih Cherry ke dalam gendongannya.
"Sayang, aku mau pergi sama Om Alan,sama Kak Ryohei, mau lihat lokasi buat klinik mereka.Ada beberapa tempat, kalau cocok mau nego sekalian.Aku tinggal sebentar ya,ga pa pa kan?" kata Jimmy seraya mencium pucuk kepala Anita.
"Hmm,ga pa pa."
"Kalau butuh apa apa ada Hans dan Irene, mereka ada di ruang kerjaku.Ren aku tinggal dulu ya,enjoy aja," kata Jimmy lalu melangkahkan kakinya pergi.****
Sore itu terasa sangat panas,matahari di musim kemarau terasa begitu terik.
Anita naik ke teras atas rumahnya untuk mengambil kasur bayi milik putrinya yang tadi ketumpahan minuman Jasson karena terlalu bersemangat menemani adiknya dan berebutan mendekat dengan Excel.
Anita terdiam beberapa saat waktu melihat seseorang berdiri di tepi pembatas balkon membelakanginya.
Tangan kirinya masuk ke saku celananya sedangkan tangan kanannya sibuk mengapit sebatang rokok.
Melihat punggungnya saja ia tahu betul siapa pria itu.
Anita mundur beberapa langkah saat tiba tiba saja pria itu membalikkan badan.
Pria itu tersenyum dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Hi Hiro," gagap Anita.
"Hai," jawab pria itu seraya duduk di kursi taman tak jauh dari tempat Anita berdiri.
"Duduklah,Anita.Tidak inginkah bicara denganku sekedar menanyakan kabarku? Kita sudah lama tidak bertemu pun sekedar berkirim kabar.Apa kau tahu kalau aku selalu menunggu kau menghubungiku.Nomorku masih sama, tapi aku selalu kesulitan menghubungimu."
Hiroshi mematikan rokoknya di atas asbak kaca di atas meja.
__ADS_1
"Hiro, kau sudah menikah.Kupikir kau sudah menemukan kebahagiaanmu. Haruka dia wanita yang cantik secara fisik walau pun aku belum mengenalnya tapi dari tutur katanya dia wanita yang lembut."
"Kau bahkan tidak mengucapkan selamat padaku."
"Maaf Hiro,aku sedang kalut waktu itu karena kedua putraku sakit panas dan kejang.Selamat atas pernikahanmu Hiro, aku senang karena kau juga sudah memiliki buah cintamu.Riu sangat sangat mirip denganmu," kata Anita.
"Dia memang mirip bahkan sifatnya akan 95% sepertiku.Aku sudah menyempurnakan penelitianku dan itu berhasil.Janin yang dikandung Haruka berjenis kelamin perempuan.Sebenarnya aku ingin dia sepertimu,memiliki wajah dan sifat yang sama sepertimu.Tapi sayang sekali untuk mengambil DNAmu sangat tidak mungkin.Jadi aku hanya menggabungkan DNA milikku dan Haruka saja," jawab Hiroshi.
Anita menjatuhkan kasur bayi yang ada di tangannya.
"Ja jadi apa yang dikatakan Haruka itu benar? Hiro, aku seakan tidak mengenal dirimu lagi.Kenapa kau lakukan ini Hiro, di mana perasaanmu? Kalau kau tidak ingin memperlakukan Haruka dengan semestinya,kenapa kau nikahi dia?"
Tiba tiba saja ada sesuatu yang mendesak dalam dada Anita hingga air matanya lolos begitu saja.
"Keluargaku memaksakan perjodohan ini dan aku sudah mengatakan pada Haruka konsekuensinya mau menikah denganku karena hati dan jiwaku sudah mutlak menjadi milikmu,milik Izmi Reanita dan selamanya akan seperti itu."
"Hiro,kenapa kau masih saja seperti ini? Takdirku bersama Jimmy,ubahlah pola pikirmu Hiro,kau berhak mendapatkan hidup yang lebih baik dan bahagia bersama orang lain.Hiro kumohon jangan seperti ini,Anita ini tidak lebih baik dari Haruka atau wanita lain.Hiro bukalah mata hatimu," mohon Anita.
Hiro tersenyum getir.
"Perasaanku sudah mati,Anita.Aku hanya menunggu seorang saja dalam hidupku. Walau hanya sekedar menanyakan aku sedang apa saat ini atau apa aku masih hidup.Aku melakukan cara ekstrim untuk mendapatkan keturunan karena mereka menuntut keturunan dariku.Haruka menerima syarat itu,jadi tidak perlu merasa kasihan padanya."
Hiroshi bangkit dari tempat duduknya dan berlalu dari tempat itu.
Anita memandang punggung Hiroshi hingga menghilang dibalik pintu lift.
Anita memegangi tiang penyangga saat tubuhnya terhuyung.
Ia mangusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Hiro,kalau mencintaiku membuatmu menjadi monster,aku memilih tidak usah mengenalmu," gumam Anita lalu pergi dari tempat itu.***
Hari hari pun berlalu,tanpa terasa empat tahun telah berlalu.Hiroshi telah sukses mengembangkan kliniknya begitu pesat. Begitu juga dengan Jimmy yang begitu sukses mengembangkan usahanya.Ia melarang Anita bekerja dan fokus memperhatikan perkembangan anak anak mereka.Ia hanya membantu perusahaan saat ada pemeriksaan dari instansi pemerintah untuk menyiapkan dokumen atau sekedar memeriksa kembali.Laura dan Yuki tentu sangat bisa diandalkan dalam urusan itu.Li Zen dan Arron juga sudah menguasai peraturan peraturan yang berlaku di Indonesia mengenai laporan audit perusahaan. Ia hanya datang sesekali saat dibutuhkan.
Pagi itu suasananya sangat sibuk di rumah besar Anggoro.Ariana, Julian Anggoro dan Jimmy sudah pergi pagi pagi karena ada urusan penting masing masing.
"Sayang,ayo cepat.Sudah hampir telat ke sekolah.Cherry,usap mulutmu,belepotan begitu." Anita mengambilkan tisyu.
"Mom,Alvin malas ke sekolah," kata Alvin seraya membetulkan letak dasinya.
"Cherry juga," kata Cherry.
"Lho,kenapa? Kan di sekolah banyak teman.
" They are stupid (mereka bodoh)," kata James.
"James,kenapa bicara seperti itu.Mami tidak pernah mengajari menghina orang lain Sayang.Tidak baik berkata seperti itu. Walau pun kalian sangat pandai,tapi merendahkan orang lain tidak dibolehkan ya.Mengerti Sayang?" tanya Anita seraya mengelus kepala James.
Harus segera mencarikan guru untuk memberikan pelajaran di rumah seperti Jasson dan Excel,pikir Anita.
Mereka mudah bosan karena bisa menyelesaikan tugas sekolah dengan cepat,bahkan buku LKS sudah mereka kerjakan sampai akhir semester.
Ketiganya masuk ke dalam mobil dengan wajah tak bersemangat.
Anita menyalakan mobilnya namun sepertinya si Hitam Jaguar sedang malas juga untuk dinyalakan.
"Tuh kan Mi,kita nggak usah sekolah saja," kata James.
"Ke mana Pak Edy Mi?" tanya Alvin.
"Nganter Daddy ke Pusat pengendalian satelit.Ya sudah kita naik motornya Pak Pur saja."
Anita ke luar dari dalam mobil dan menaiki motor matic tua milik pak Pur kepala pelayan rumahnya diikuti oleh ketiga putranya.Cherry dan Alvin di belakang dan James di depan.
Sampai di gerbang asisten Corvin menawarkan diri untuk mengantar mereka.
"Nggak usah Pak Ferdy,saya juga ada perlu bicara sama guru mereka," tolak Anita.
"Pakai mobil saya saja Nyonya," kata pak Ferdy.
"Ini sudah terlambat Pak,pakai motor saja lebih cepat,lewat jalan tikus Pak," jawab Anita seraya melajukan motornya.
Ferdy segera memerintahkan dua anak buahnya untuk mengikuti mereka.
"Mi,kita tidak pakai helm lho," kata Alvin.
"Aduh kelupaan,gak pa pa asal nggak lewat jalan raya," jawab Anita.
"Pelan pelan Mi,jalannya banyak lubang," kata Alvin lagi.
"Awas Mi,ada nenek nenek.Miii, jangan ditabrak!" tiba tiba saja James yang duduk di depan berdiri hingga menghalangi pandangan Anita.
"Brukk!"
Motor Anita masuk lebang dan menabrak pembatas jalan.
Beberapa orang menolong mereka.Kepala Anita berdengung hingga ia bisa menormalkan pandangannya beberapa menit kemudian.Cherry dan Alvin menghampiri Anita sambil menangis. Sementara James ditolong oleh beberapa orang.Anita berteriak histeris karena banyak darah di wajah James.
"James! Ya Allah," Anita segera memeluk tubuh mungil itu sambil menangis histeris.
"Anita! Anita!" seseorang mengguncang bahunya.
"Hiro,tolong bawa kami ke rumah sakit," jerit Anita.
"Pak Bun,bawa anak anak masuk.Cepat bawa ke klinik. Terlalu jauh kalau ke rumah sakit," kata Hiroshi seraya memapah Anita masuk ke kursi belakang.
Ia segera mengambil kasa di kotak obat dan menempelkan di pelipis James.
__ADS_1
"Biar James bersamaku,ini tekan juga di kepalamu supaya darahnya tidak ke luar terus," kata Hiroshi.
Anita yang baru sadar kalau banyak darah di wajahnya segera mengambil kasa itu dan menempel dan menekan luka di kepalanya.
Sampai di klinik Anita merasa kepalanya sangat pusing dan segera ambruk tak sadarkan diri. Beruntung Siska dan Julian yang melintas di belakang mobil Hiroshi segera mengikuti mereka. Julian membopong tubuh Anita dan membawanya ke ruang IGD.
Siska segera memeluk Cherry dan Alvin yang menangis histetis melihat mami mereka pingsan.
"Heh,three masketeer.Kenapa bisa jatuh begini?" tanya Julian seraya mengelus kepala kedua bocah itu.
"James teriak ada nenek,ada nenek lalu kami jatuh," jawab Cherry.
"Tidak ada nenek nenek," kata Alvin.
"Sudah,sudah tidak apa apa.Sayang, bawa mereka pulang.Aku akan melihat keadaan Anita," kata Siska seraya menyerahkan mereka kepada Julian.
"Nggak mau Aunty,Cherry mau di sini nungguin Mami," teriak Cherry.
"Okey,okey.Masuklah,aku akan telpon Jimmy," kata Julian.Siska mengagguk dan berlalu untuk membantu dokter di IGD.
Julian segera menghubungi Jimmy mengabarkan kalau Anita dan James kecelakaan.
Ia juga menelpon asistennya kalau hari ini akan datang siangan.
Anita membuka matanya,kepalanya berdenyut sakit.
Ia melihat wajah tampan di sebelah brankar tersenyum ke arahnya.
"Hiro,James bagaimana? Apa lukanya parah? Di mana dia sekarang?" tanya Anita.
Air matanya sudah meluruh begitu saja.
"Tenanglah,James lukanya tidak dalam.Ia berada di ruang rawat bersama dengan pengasuhnya juga kakak kakaknya.Tunggu infusnya habis dia bisa rawat jalan," jawab Hiroshi seraya membetulkan infus Anita.
"Kenapa aku ditransfusi?"
"Kau kehilangan banyak darah, dan harus mendapatkan sembilan jahitan di kepalamu. Aku harus menggunting sedikit rambutmu, tapi kau tetap cantik,tidak usah khawatir," seloroh Hiroshi.
Anita hanya tersenyum kecil menanggapi gurauan Hiroshi.
"Apa setelah infusnya habis aku boleh pulang?" tanya Anita.
"Apa kau merasakan mual?"
"Sedikit,pusing sekali," jawab Anita.
"Kau harus dirawat sampai darahmu normal,baru dilakukan tindakan lanjutan untuk melihat apakah ada masalah lain dengan kepalamu.Kenapa kalian pakai motor boncengan banyak orang begitu? Kenapa tidak pakai mobil? Kenapa tidak pakai helm?"
"Mobilku mogok,buru buru,lupa nggak pake helm," jawab Anita.
"Terlambat sekolah tidak akan dipenjara."
"Sudah terjadi,Hiro.Bagaimana pun, mungkin sudah waktunya kecelakaan.Apa pun penyebabnya," jawab Anita.
"Beristirahatlah,pencetlah tombol hijau kalau kau perlu apa apa.Aku akan periksa pasien lain dulu." Hiroshi memegang tangan Anita untuk membenarkan letaknya, karena Anita tampak tidak nyaman karena ada dua selang infus pada tangan kirinya.
Tiba tiba saja pintu terbuka,Jimmy menatap keduanya dengan tatapan menghunus. Jack yang berdiri di sampingnya segera menepuk bahunya saat melihat gelagat perang di wajah Jimmy.
"Jim, siapa yang memberitahumu?" tanya Anita saat melihat suaminya datang.
"Hans, segera urus kepindahan istriku ke rumah sakit keluarga Anggoro," kata Jimmy tanpa mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Hiroshi.
Hans yang berdiri di belakangnya menganggukkan kepalanya.
"Biarkan dia di sini sampai besok,biar darahnya normal dulu," kata Hiroshi santai.
"Klinik ini klinik spesialis jantung,istriku kecelakaan,kenapa harus dirawat di sini?" geram Jimmy.
" Apa kau tidak bisa baca kalau sekarang sudah ada poli umum dan poli penyakit dalam?" balas Hiroshi.
"**!*!" umpat Jimmy.
"Jim!" panggil Anita.
"Hiroshi, kau masih banyak kerjaan kan ?" usir Anita secara halus.
"Kenapa Chili? Dia selalu begitu tiap kali bertemu denganku bersamamu.Padahal aku.."
"Hiroshi Kun!" kata Anita dengan suara yang lebih keras hingga nafasnya sedikit tersengal.
"Baiklah,baiklah.Nanti aku akan melihatmu lagi," kata Hiroshi lalu pergi dari ruangan itu.
Jack segera mencekal lengan Jimmy saat pria itu hendak mengejar Hiroshi.
"Jangan seperti anak anak Jim,dia yang menolongku saat kecelakaan, karena klinik lebih dekat makanya dia membawaku ke sini," gumam Anita seraya memejamkan matanya.
Jimmy menarik nafas panjang lalu mendekati istrinya.
"Maafkan aku.Aku selalu emosi saat melihatnya mendekatimu.Hans, tolong urus kepindahannya besok pagi.Akan kutanda tangani surat pernyataan kalau memang perlu."
"Baik Tuan," jawab Hans.
"James sudah boleh pulang kan? Jack tolong bawa mereka pulang dulu.Please tell to Mom buat jaga mereka dulu.Mereka pasti merengek kalau tidak ada Anita di rumah," kata Jimmy.
"Sure," jawab Jack.
Setelah berbasa basi sebentar,Jack dan Hans pergi untuk melihat keadaan James.
__ADS_1