
Sementara itu di rumah besar Anggoro terjadi perdebatan sengit antara Corvin dan Hans karena keteledoran mereka.Julian Anggoro hanya diam menyaksikannya.
“Corvin,waktu itu kalian pergi tanpa berfikir kalau Nona kalian bisa melakukan hal yang ekstrim seperti itu.Sekarang kita cari solusi saja bagaimana menemukan Nona.Paman, apa Satelit masih belum bisa diakses?” tanya Dicky.
“John,tolong hubungi pusat pengendalian satelit untuk memberi kode akses yang baru untuk mereka. Anita tak akan pergi jauh, aku kenal dia lebih dari siapa pun,” kata Julian Anggoro.
“Tuan,sebenarnya saya tahu di mana Nona,” kata Hans.
“Brengsek, apa yang kau katakan? Jadi kau sengaja membiarkan Nona pergi?”
“Corvin, tenanglah.Biar Hans menjelaskan semuanya,” kata Dicky seraya memegangi Corvin yang hendak memukul Hans.
“Sejak awal saya selalu mengamati gestur Nona.Akhir akhir yang membuat Nona selalu berubah ubah emosi dan tindakannya membuat saya lebih waspada walau pun akhirnya kecolongan.Maafkan saya Tuan Besar, dua hari sebelum Nona pergi, saya meminta teman saya seorang tenaga medis wanita untuk memasangkan alat pelacak di lengannya.Saya memberinya obat bius aromatic saat Nona sedang tidur di hotel waktu itu.”
“Bruak!”
“Hans,beraninya kau!”
Corvin menarik kerah baju Hans dan mendorongnya hingga jatuh.
Dicky dan Marcel segera memisahkan keduanya saat Hans mulai bereaksi untuk membalas.
“Corvin,tolong kendalikan emosimu.”
__ADS_1
“Ya Tuan Besar, saya hanya kecewa karena Hans bersikap kurang ajar kepada Nona,” jawab Corvin.
“Bukan begitu maksud saya,” sangkal Hans.
“Baiklah,baiklah.Hans aku percaya kau melakukan ini untuk keamanan Anita. Sekarang katakan padaku apa tindakanmu selanjutnya?” tanya Julian Anggoro.Hans memberikan sebuah amplop coklat yang memang sudah ia siapkan sebelum dipanggil.
Julian Anggoro membuka amplop coklat itu dan memeriksa isinya.Ia tersenyum dan menepuk bahu Hans.
“Good,sesuai dugaanku dia ada di Jogja.Dari mana kau mendapatkan foto foto ini?” tanya Julian Anggoro.
“Saya menyewa satelit orang lain untuk mengambil gambar berdasarkan alat pelacak itu.Saya juga mengirim teman saya untuk diam diam menjaga Nona.Dia berhasil menyusup menjadi karyawan galeri tempat Nona bekerja sekaligus menjadi supir freelance dokter Siska yang sengaja dia cari untuk mengantar Nona,” jawab Hans.
Dicky tersenyum.
“Tuan, saya biarkan Nona karena saya tidak mau melihat Nona menyakiti dirinya sendiri.Saya beberapa kali melihat Nona menangis sambil menusuk nusuk tangannya sendiri dengan ujung pisau.Overdosis obat tidur kemarin membuat saya berfikir keras kenapa dia seperti itu.”
“Hans,kau adalah putra Robin temanku.Aku percaya padamu, Robin memilihmu daripada putranya yang lain untuk diberikan padaku pasti bukan tanpa alasan.Corvin, apa satelit sudah bisa diakses?” tanya Julian Anggoro.
Corvin mengutak atik laptopnya sebentar.
“Sudah Tuan,” jawab Corvin.
“Sekarang tunjukkan padaku di mana Anita saat ini berdasarkan pelacak itu,” kata Julian Anggoro.
__ADS_1
Hans segera menyalakan laptopnya dan menyambungkannya ke proyektor.
“Di mana itu Hans?” tanya Dicky.
“Nona ada di daerah Kaliurang,” kata Hans.Ia segera melakukan Cropping lokasi dan menperbesarnya ribuan kali.
“Dia ada di rumah besar ini,” kata Hans.
“John cepat cari informasi rumah siapa itu,” kata Julian Anggoro.
Asisten Julian Anggoro itu dengan cepat mengutak atik laptopnya. Dua puluh menit kemudian.
“Tidak ada yang spesifik, tapi ada keterangan rumah ini milik Danuarta,” kata John.
Julian Anggoro tampak sedikit tegang, wajahnya yang tenang tiba tiba berubah mengeras.
“Kurangajar,” gumamnya.
“Rey,hubungkan aku dengan Ryohei Danuarta.Kalau tidak bisa, hubungkan aku dengan Alan Danuarta,” kata Julian Anggoro penuh amarah.
“Yes Sir,” kata seorang asisten Julian Anggoro yang lain.
Suasana menjadi semakin mencekam setelah panggilan tersambung.Tuan besar Anggoro ke luar dari ruangan itu karena tidak mau pembicaraan itu didengar banyak orang.
__ADS_1