CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption278


__ADS_3

Anita meletakkan tasnya di atas tempat tidur dan duduk sambil melepas sepatunya sementara Jimmy berdiri di depannya.


“ Katakan apa yang terjadi tadi,apa yang kalian bicarakan sampai kau seperti ini?” tanya Jimmy.


“Jim, aku hanya tiba tiba tidak enak badan.Aku minta tolong Ihsan untuk menanyakan tempat usaha milik kakak sepupunya yang katanya sedang tidak dipakai,” jawab Anita.


“Anita, apa perlu kau bekerja? Biarkan aku saja yang bekerja, kau hanya perlu di rumah, atau kalau bosan bisa cari kegiatan lain, kau bisa ajak Siska pergi makan atau shoping.Akan kupanggil Irene ke mari untuk menemani ke mana pun kau ingin pergi.”


“Jim, aku bisa ke mana mana sendiri. Tidak perlu pengawal, di Jogja aman,aku biasa keluyuran sendiri di sini. Tidak ada yang perlu kau cemaskan,” kata Anita.


“Anita, harus ada yang bersamamu saat aku tidak ada.Sopirmu pun harus orang yang terlatih supaya tidak menghawatirkan saat kamu dalam bahaya. Aku menghabiskan banyak uang bukan untuk menjaga diriku tapi menjaga dirimu.Jangan menolak OK,aku tidak ingin terjadi apa apa padamu dan anak kita,” kata Jimmy.


Jimmy mengangkat telponnya,beberapa saat kemudian terdengar suara Dicky.


“Halo,ono opo Boss (ada apa Boss)? Aku baru balik ke pulau ketemu istri sudah ditelpon lagi,” katanya.


“Apa bisa Irene dikasih ke gua aja Njul? Gua butuh dia buat majikan cantik, Nyonya Jimmy,” jawab Jimmy.


“Boleh aja, tar gua suruh dia balik ke sana.Cuma dia aja?”


“Aku ingin seorang lagi, seseorang yang kemampuannya hampir sama seperti Hans apa Lu ada?”


“Ada, tapi laki laki Boss,” jawab Dicky.


“Nggak pa pa, nanti buat jaga istriku kalau ke luar rumah.Irene harus bersamanya saat aku tidak ada, aku khawatir dia sakit atau apa saat aku tidak bersamanya,” kata Jimmy.


“OK, akan kusuruh berangkat secepatnya,” sanggup Dicky.


“Ya udah gua nggak ganggu Lu lagi, kecuali terpaksa,” kata Jimmy.


“Huh, sama juga gondrong.Salam buat istri Lu, salam Sayang.”


“Antem gundulmu(pukul kepalamu),” kata Jimmy seraya mematikan telponnya.


Jimmy melihat sekelilingnya ternyata Anita sudah tidak di tempatnya.Ia melihat ke arah Jendela ternyata Anita ada di balkon luar.


Ia segera menyusulnya ke sana.


“Sejuk ya di sini, ada pohon mangga besar di situ, apa Nyonya mau? Buahnya sudah banyak yang mengkel,” tanya Jimmy.


“Aku sedang malas makan Tuan,perutku juga rasanya tidak nyaman,” jawab Anita.


“Akan kuminta Wayan panggil dokter.” Jimmy mengangkat telponnya.


Anita segera menggenggam tangan Jimmy dan mengambil ponselnya.


“Jimmy, tolong jangan membawa ponsel saat bersamaku,” Anita meletakkan ponsel itu di atas meja kecil yang ada di sudut balkon.


Jimmy yang tampak bingung dengan perubahan wajah Anita hanya mengiyakan dan berdiri di samping Anita yang memandangi ramainya kota Jogaja di kejauhan.


“Sayang, aku tak akan melarangmu melakukan apa pun selama tidak mengganggu kesehatanmu, tidak membuatmu kelelahan.katakan padaku kau punya rencana apa?” tanya Jimmy.

__ADS_1


“Masih belum,ada beberapa rencana tapi belum fix mau yang mana,” jawab Anita.


“Baiklah, Anita aku ingin meminta sesuatu padamu.”


“Ya,” jawab Anita.


“Jadikan aku orang pertama yang tahu masalahmu.Jadikan aku sandaranmu saat kau membutuhkan seseorang untuk menangis.Katakan padaku kalau kau terluka karena diriku yang bodoh ini,” kata Jimmy.


“Ya,” jawab Anita.


Jimmy terdiam mendengar jawaban Anita yang hanya bilang iya.


Dalam hati ia merasa sedih dan bingung bagaimana mengembalikan Anita yang hangat dan selalu melihat ke arahnya saat berbicara. Sejak ia kembali, Anita jarang sekali berbicara sambil menatap ke arahnya, bahkan lebih sering menundukkan wajahnya saat berbicara dengannya.


“Anita, hal apa yang belum kuberikan padamu?” tanya Jimmy.


“Tidak ada, kau sudah memberikan terlalu banyak padaku.Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai istrimu itu saja.Jangan memberiku apa apa lagi.Aku akan membersihkan diri dulu,apa kau tadi sudah makan siang?” tanya Anita.


“Belum,aku ingin makan denganmu,” kata Jimmy.


“Baiklah, aku mandi dulu setelah itu kita makan sehabis shalat.


Anita beranjak masuk ke kamar sementara Jimmy duduk di kursi dan mengambil ponsel Anita.


Ia mengutak atikya sebentar, ternyata Anita menghapus aplikasi wechatnya.Ia juga mengosongkan kontaknya.


Hanya ada aplikasi Komik dan majalah majalah online.


Ia terkikik saat melihat komentar Anita yang kesal karena lama tidak update. Sebenarnya komik itu sudah tamat, hanya saja Jimmy memang sengaja update seminggu sekali.***


Dua hari berlalu,Ihsan memberinya kabar kalau hari ini dokter Haris sedang kosong. Anita pergi menemui Ihsan di rumah eyangnya di di dekat kampusnya yang sekarang ditempati tantenya.Anita pergi dengan naik taksi karena tidak mau ada yang lapor ke suaminya kalau dia menemui psikiater.


Pagi ini Jimmy dan Hans pergi menemui notaris untuk jual beli gudang dan Pak Edy pergi dengan Rosid untuk suatu urusan.


Ihsan tersenyum saat Anita turun dari taksi.


"Yaelah San,nggak usah nunggu di gerbang juga kali," kata Anita.


Ihsan terkikik.


"Tar kalau nyasar ke tetangga kan repot," katanya.


Ihsan membukakan pintu mobilnya untuk Anita dan membawanya ke tempat praktek dokter Haris di dekat rumah beliau.


Ihsan tersenyum karena dokter Haris juga sedang duduk di depan kliniknya sambil minum kopi.


"Pagi setengah siang Dok," kata Ihsan seraya menyalami dokter Haris yang berdiri menyambut mereka.


"Sudah saya tunggu dari tadi sampai cemilan saya habis,kopi saya juga sudah cangkir yang ke dua.Saya kawatir bentrok sama tamu saya nanti siang," kata dokter Haris.


"Maaf saya tadi tidak lihat ponsel,jadi kaget. Kak Nita Juga tadi langsung berangkat kan setelah saya telpon?" tanya Ihsan.

__ADS_1


Anita hanya tersenyum tipis.


"Mari ke ruangan saya," kata dokter Haris.


Anita dan Ihsan mengikuti ke mana dokter Haris pergi.


"Dokter Ihsan tolong tunggu di luar,saya akan mendengar keluhan pasien,jadi.."


"OK,saya mengerti."


Ihsan beranjak dari ruangan itu dan menutup pintunya.


Dokter Haris membuka Map Hijau yang berisi data pribadi Anita yang diserahkan Ihsan satu hari sebelumnya.


"Nyonya Anita,tolong sampaikan keluhan Anda.Saya tekankan,kalau Anda ingin merasa lebih baik maka Anda harus jujur kepada saya," kata dokter Haris.


"Iya,Dokter," kata Anita.


Anita mulai menceritakan beberapa hal yang membuatnya gelisah.Menceritakan kejadian kejadian yang menjadi awal mula penyebab dirinya gelisah dan terkadang sulit untuk mengendalikan diri.


Dokter Haris mendengarkan dan mencatat setiap poin penting yang disampaikan oleh Anita.


"Nyonya,saya akan menganalisa keluhan dan gejala yang Nyonya Alami.Saya akan memberi sedikit sugesti kepada Anda.Apa kah Nyonya seorang muslim?"


"Iya Dokter," jawab Anita.


"Setiap gejala itu muncul,katakan pada diri Anda kalau itu bukan masalah besar dan telah berlalu,katakan pada diri anda berulang ulang.Cobalah mengingat ketulusan suami Anda,apa saja dan katakan pada diri Anda kalau suami Anda sangat mencintai Anda.Itu juga katakan berulang ulang,dalam hati juga boleh. Pada saat menjalankan ibadah sholat misalnya,setelah sholat perbanyak membaca istigfar.Berdoa memohon pertolongan kepada Allah.Tuhan,tolonglah saya,karena hanya Engkau yang terbaik untuk memohon pertolongan.Selanjutnya silahkan memohon apa pun kepada yang Maha Kuasa," kata dokter Haris.


"Iya Dokter," kata Anita.


"Kalau masih belum membaik,Anda bisa datang lagi kepada saya.Ini jadual praktek saya di beberapa rumah sakit.Silahkan datang sesuai waktunya,Anda bisa memilih sendiri.Saya rasa saat ini cukup dulu,sepertinya saya agak familiar dengan Anda Nyonya,apakah Anda mengenal dokter Hiroshi?" tanya dokter Haris.


Anita agak terkejut mendengar pertanyaan dokter Haris.


"Eh,iya.Dokter Hiroshi adalah sahabat saya,dokter Siska juga," jawab Anita.


"Oh,begitu," kata Dokter Haris.


Ah,kau adalah wanita yang mebuat Hiroshi sakit beberapa waktu yang lalu,kata dokter Haris dalam hati.


"Baiklah Dokter,berapa biaya konsultasi hari ini?" tanya Anita.


"Itu kita bicarakan pada konsultasi berikutnya saja," jawab dokter Haris.


Anita mengeluarkan sebuah amplop yang sudah ia isi dari rumah.


"Tolong terima ini dulu Dokter,seandainya masih kurang nanti akan saya tambahkan setelah diperhitungkan," kata Anita.


"Baiklah Nyonya."


Dokter Haris mngantar Anita sampai ke depan klinik,Ihsan yang sedang menunggu dan ditemani istri dokter Haris pun tersenyum melihat Anita ke luar dari klinik dokter Haris.

__ADS_1


__ADS_2