CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption307


__ADS_3

Siang itu Lenny menjemput Anita ke rumah.Sementara Irene dan Edy sudah standby untuk mengantar ke mana pun Anita pergi.Anita mempersilahkan Lenny duduk di ruang tamu dalam kamarnya.Sementara Anita mengambil pakaian di ruang ganti.


"Ta,rumah yang kamu beli besarnya hampir sama dengan kamarmu ini," Lenny tertawa.


"Nanti sore ikut aku ke acara nikahan rekanku ya,Aji lagi nggak bisa nemenin. Malas kalau datang sendiri,bawa baju ganti deh,nanti aku dandanin," kata Lenny.


"Aku kan nggak kenal Len,nggak enak juga," kata Anita.


"Nggak pa pa kali,boleh datang dengan siapa saja koq.Mau ya," mohon Lenny.


"Iya deh,tapi sebentar saja kan?"


"Yo i," jawab Lenny.


Anita segera bersiap dan membawa dress untuk kondangan dalam paperbag.


"Len mau makan siang dulu di sini?" tanya Anita.


"Nggak usah,tar kita jajan aja di restoran Jepang.Aku yang traktir," jawab Lenny.Anita tersenyum dan mengangguk.


"Silahkan Nyoya," Irene membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Ren,aku sama Bu Lenny saja.Kalian tidak perlu mengantarku," kata Anita.


"Ini perintah Tuan,saya tidak berani melanggar.Silahkan Nyonya," kata Irene.


"Nanti aku yang telpon Tuan.Ayo Len," kata Anita seraya masuk ke mobil Lenny.


Lenny melajukan mobilnya dengan tenang,ia sedikit tidak peduli dengan pengawal wanita yang disiapkan Jimmy.


Sementara Irene segera mengangkat telponnya untuk menghubungi atasannya yaitu Corvin.


"Ikuti ke mana pun Nyonya pergi,bawa juga beberapa pengawal berpakaian preman supaya Nyonya tidak merasa terganggu," perintah Corvin.


Setelah sambungan telpon terputus, Irene segera bergerak sesuai perintah Corvin.


Hari itu Lenny dan Anita membeli beberapa perlengkapan yang masih kurang untuk rumah barunya,termasuk membeli berbagai macam tanaman anggrek kesukaannya.


"Bi Rose,buatkan jus tomat buatku tanpa gula ya.Buat Lenny Bi Rose juga tahu kan sukanya dia apa?" kata Anita setelah kelelahan menata anggreknya di depan rumah.


"Iya Bu," jawab wanita paruh baya itu.


Lenny dan Anita rebahan di sofa di taman belakang rumah sambil mengobrol.Terkadang keduanya tertawa mengingat cerita tentang teman teman mereka.


Lenny terkesan sangat santai karena anak anaknya sekolah di SD terpadu yang sekolah sampai sore dan sekolah mereka dekat dengan rumah orang tuanya.


"Hari ini nggak jemput anak anak Len?" tanya Anita.


"Nanti diantar sama Papa, tahu koq aku mau kondangan.Di rumah ada si Bibi sama pak Satpam.Mereka sudah besar,jadi tidak perlu khawatir," jawab Lenny.


"Bisa nggak ya aku jadi ibu yang baik untuk anak anak?" risau Anita.


"Ta,menjadi ibu itu naluriah.Nggak usah dipikirkan.Berjalan saja seperti air mengalir," jawab Lenny.


"Iya,kamu benar.Kita jalani saja seperti air mengalir," gumam Anita.***


Sehabis Magrib Lenny membawa Anita ke resepsi pernikahan rekannya di salah satu ballroom hotel Summerset.


Walau pun ia tahu tempat mewah itu adalah milik suaminya,ia tetap saja canggung karena tidak mengenal siapa pun.Lenny menyapa rekan rekan lain yang datang ke acara itu dan memperkenalkan beberapa kepada Anita.


Sementara Lenny sibuk dengan rekan rekannya,Anita sedikit tertarik dengan dessert yang ada di meja tak jauh darinya.


Saat mengambil dessert,tanpa sengaja ia menyenggol lengan seseorang hingga dissertnya hampir jatuh. Beruntung pria itu dengan sigap menangkap piringnya.


"Terima ka..."


Keduanya saling tatap cukup lama sampai pada akhirnya pria itu membuka suara.

__ADS_1


"Anita,kau juga datang ke sini?" tanya pria itu seraya mengulurkan tangannya.


"Baruna,hai apa kabar? Kau mengenal mempelainya?" balas tanya Anita.


"Yah,mempelai pria adalah rekan bisnisku.Kau datang bersama Jimmy?"


"Tidak,aku datang bersama temanku," jawab Anita.


Baruna menatap heran ke aranya, beberapa saat kemudian Baruna mengarahkan pandangannya ke suatu arah dan memberi tanda kepada Anita.


"Bukankah yang di sana itu Jimmy, yang menggandeng lengannya itu siapa? Anita aku bertanya tanya dalam hati sejak tadi.Kenapa dia tidak mengajakmu," kata Baruna.


Anita diam membeku melihat Clarissa bergelayut manja di lengan Jimmy dan juga asyik mengobrol dengan mempelai prianya.


"Anita," panggil Baruna.


"Di dia,dia saudara jauhnya juga rekan bisnisnya.Bar,maaf aku mau cari temanku dulu.Salam buat Widya ya."


Anita buru buru meletakkan piringnya dan pergi untuk mencari Lenny.


"Tapi Anita,Anita!"


Teriakan Baruna yang cukup keras diantara suara bising itu sampai ke telinga Jimmy.


Pria itu segera melepaskan tangan Clarissa dan beranjak mencari ke arah sumber suara.


Tapi terlambat,Anita sudah pergi begitu pun Baruna.


Anita ke luar dari tempat itu dan bergegas ke luar hotel.Ia tidak mempedulikan di mana Lenny juga tidak mencarinya.


Ia menaiki taksi yang barusaja menurunkan tamu di depan lobi hotel.


Setelah meminta sopir untuk memutar arah ke alun alun,ia turun di depan masjid yang ada di sebelah alun alun karena mendengar kumandang azan isya.Ia ikut shalat berjamaah di situ dan berdiam beberapa saat setelahnya.


Tiba tiba saja air matanya mengalir, ia merasakan sakit di dadanya.Ia mengambil Cardigan dari tas miliknya. Memakainya untuk mengusir hawa dingin. Ia segera mematikan ponselnya dan berjalan gontai menuju halte bus di dekat alun alun.


Ia duduk bersama beberapa orang yang sedang menunggu bus datang. Beberapa saat kemudian ada sebuah bus dengan tujuan akhir kota T datang. Entah kenapa tubuh Anita seakan bergerak dengan sendirinya.Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di antrian terkhir untuk naik ke atas bus itu.


Ia mengambil tasnya yang jatuh di dekat kakinya lalu berjalan menjauh dari pria itu yang tak lain adalah Jimmy suaminya.


"Anita,ayo pulang.Aku tidak mengajakmu datang ke acara itu karena tidak mau menggangumu dan Lenny.Supaya kau puas pergi sebelum kau melahirkan," kata Jimmy.


Anita terus berjalan seakan tidak mendengar apa pun yang dikatakan Jimmy.Ia masuk ke dalam pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa potong pakaian.Ia tidak mempedulikan Jimmy yang terus memgekorinya.


Jimmy menyodorkan kartu untuk membayarnya namun Anita sudah lebih dulu menyodorkan kartunya. Setelah itu ia berjalan masuk ke hotel sekitar dua ratus meter dari pusat perbelanjaan itu.Ia memesan kamar tunggal,namun Jimmy meminta pressident suit dan membayarnya.


Anita terpaksa menerima karena hanya kamar itu yang tersisa.


Anita membuka pintu dan duduk di sofa,Jimmy pun duduk menyebelahinya.


"Aku minta maaf,harusnya aku memberitahumu.Harusnya aku meminta izinmu," kata Jimmy seraya meraih kedua tangan Anita.


"Bagaimana kalau kita hidup dengan urusan masing masing saja," kata Anita setelah diam sekian lama.


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak mengganggumu dan kau juga tidak perlu mengurusiku," jawab Anita.


"Aku tidak mau."


"Aku masih punya tabungan sekitar satu setengah M, itu cukup untukku sampai setelah melahirkan dan siap bekerja kembali.Kau tidak perlu memberiku uang apa pun.Jimmy, aku tidak pernah minta apa pun darimu. Kau bisa ambil kembali apa pun yang pernah kau berikan padaku," kata Anita.


"Jangan pernah berfikir pergi dariku Anita," Jimmy menggenggam kedua bahu Anita dengan mata yang mulai memerah.


"Aku belum yakin dengan perasaanku, tapi untuk saat ini aku ingin kita intropeksi diri dulu.Jangan menemuiku tiga hari ini.Aku harus memikirkan banyak hal.Pulanglah,aku ingin istirahat.Aku sangat lelah hari ini,' kata Anita.


Jimmy hanya diam tak bergeming dari tempatnya.Anita tidak mau menunggu dan masuk ke dalam kamar.Setelah membasuh wajah tangan dan kakinya, ia mengganti pakaian longgar yang baru saja dibelinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Jimmy masuk ke dalam kamar dan melepas jas dan kemejanya.Ia masuk ke kamar mandi dengan bertelanjang dada.


Anita menatap tidak senang kepadanya.


" Aku tdak mungkin meninggalkanmu sendirian.Aku akan tidur di sofa, aku mau mandi dulu," kata Jimmy seraya melepaskan celana denimnya dan melemparkannya ke atas tempat tidur.


Anita hanya bisa membulatkan mata melihat suaminya seolah olah sedang mancing mancing.Sialnya Anita memang begitu menginginkannya.


Ia menelan ludahnya dan mencoba menetralkan pikirannya.Jimmy yang melihatnya dibalik pintu tersenyum menyeringai.Kita lihat sekuat apa kau menahannya Sayang,batinnya lalu mengguyur tubuhnya dengan air shower.


Sementara itu Anita menyingkirkan pakaian Jimmy dan meletakkannya di ujung sofa.Setelah itu ia rebahkan tubuhnya di ranjang dan berusaha menghapus ingatan badan atletis suaminya.


Ya ampun Anita,tadi kamu sudah mengantuk kenapa sekarang susah memejamkan mata.Bisa jadi sebentar lagi Jimmy akan dimiliki orang lain, pikirnya.


Anita mengetuk ngetuk kepala sampingnya.


Jimmy yang sudah selesai mandi dan melihat hal itu hanya tertawa kecil.


"Apa kepalamu pusing? Akan kupijat sebentar lagi."


Sontak Anita menoleh dan melihat Jimmy hanya memakai bathrobe.


"Pakailah pakaianmu dan pulang," jawab Anita.


"Pakaianku hilang,aku mau pulang pakai apa? Besok saja aku pulang, biar Jodi menjemputku sambil bawa baju ganti," jawab Jimmy.


"Itu pakaianmu," kata Anita seraya menunjuk ujung sofa.


"Gak mau,gatal.Itu sudah dipegang pegang orang," kata Jimmy seraya berbaring di samping Anita dan menyangga kepalanya.


Anita segera memalingkan mukanya dan tidur membelakangi Jimmy.


"Sayang,aku kangen sekali." Jimmy memeluk dan mencium tengkuknya.


"Bukankah tadi sudah kukatakan, jangan menemuiku tiga hari ini. Kalau kau menginginkan seseorang, bukannya wanita itu lebih segalanya dariku," kata Anita.


"Aku tidak tertarik,kau lebih seksi," kata Jimmy seraya mengelus paha Anita.


Anita segera menepis tangan suaminya.


"Jimmy,kau bersikap begini padaku hanya untuk mengambil hatiku kan? Aku tidak tahu apa saja yang kau lakukan dengan Wanita itu di belakangku."


Anita bangkit dari tidurnya dan mengemasi barang barangnya


"Kau mau ke mana?"


Jimmy buru buru berlari untuk mengunci pintu kamar.


"Aku mau pulang,aku akan meminta seseorang menjemputku,siapa saja. Julian,Arron,atau bisa saja orang lain," kata Anita seraya meraih ponselnya di atas nakas.


Ia berniat menghubungi seseorang,tapi Jimmy langsung mengambil ponsel itu dan membantingnya ke lantai.


"Kenapa kau keterlaluan padaku?"


Anita berjongkok dan menangis seraya mengambil ponselnya yang sudah remuk layarnya.


Jimmy segera berjongkok di sebelah Anita dan memeluknya sambil minta maaf.Ia begitu emosi begitu mendengar nama Julian dan Arron yang ke luar dari mulut Anita.


"Istriku tenanglah,aku akan jujur menceritakan semuanya.Aku berusaha mengatasinya sendiri, sebenarnya ini sangat berat bagiku.Baiklah,aku akan menceritakan semuanya."


Jimmy meraih tangan Anita dan membawanya duduk di tepi ranjang. Ia mengusap lembut wajah istrinya dan mengusap air matanya.


Anita berusaha menenangkan diri dan mendengarkan apa yang Jimmy sampaikan.


Walau pun ia berusaha untuk berfikir logis,tapi perasaanya sungguh sakit melihat Jimmy tidak jujur padanya. Bermain main dengan perasaannya yang begitu rapuh.


"Aku akan mendengarkanmu kali ini, tapi tidak untuk lain kali.Kalau sampai aku tahu kau melakukan hal seperti ini lagi,maka kita akhiri saja semuanya," kata Anita.

__ADS_1


Jimmy terdiam beberapa saat,ia tidak menyetujui atau pun menolak.


Ia mengatur nafasnya sesaat sebelum akhirnya mulai menuturkan apa yang sebenarnya terjadi.***


__ADS_2