
Anita terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Ia segera mematikannya karena khawatir Jimmy ikut terbangun. Ia bergegas turun tapi tangan Jimmy lebih cepat memeluk perutnya.
“Mau ke mana jam segini menyalakan alarm? " Tanya Jimmy.
"Tidurlah, aku akan membuatkan sesuatu buat Mas Faris sarapan. Dia berangkat pagi sekali, " Jawab Anita.
"Aku pergi sangat pagi sekali pun kau tidak bangun sepagi ini buat bikin sarapan. Ini masih setengah tiga pagi Anita, layani aku dulu baru buat sarapan. Adik kecil ini sudah tidak kuat lagi, " pinta Jimmy.
"Bukannya masih belum boleh, " protes Anita.
"Semalam aku telpon Nesya katanya nggak apa apa asal kamu minum obat dan vitamin sesuai yang dikatakannya dan melakukannya dengan hati hati. Aku akan melakukannya pelan pelan, ya... "
"Baiklah, pelan pelan ya?, " Jawab tanya Anita. Jimmy mengiyakan dan segera memeluk dan memulai cumbuannya, Anita memejamkan matanya. Menikmati rasa rindu yang sejak beberapa hari yang lalu tertahankan pada suaminya.
"Mmm Jimmy, " bisik Anita disela hembusan nafasnya, Jimmy memejamkan matanya untuk mengatasi hasratnya yang hampir tak terkendali.
__ADS_1
Waktu berlalu beriringan dengan desahan dan erangan keduanya hingga keduanya terkulai kelelahan di tempat tidur.
"Sayang, apa ada rasa sakit hmm? " Jimmy mencium dahi Anita yang masih memejamkan matanya.
"Tidak, hanya sedikit terasa kaku. Semoga tidak apa apa, " Jawab Anita.
Jimmy memeluk Anita dengan lembut.
"Tidurlah sebentar lagi, aku akan menelpon Dina untuk segera menyiapkan sarapan. Kita cukup menemaninya sarapan saja, katakan makanan apa yang disukai Mas Faris, itu kan yang akan kau buat? " Tanya Jimmy.
"Sebenarnya aku dan Mas Faris sangat menyukai gudeg, dulu waktu Mas Farhan masih tahun pertama kuliah, Mas Faris kelas dua SMA, hampir tiap hari Sabtu sepulang sekolah langsung cabut ke Jogja. Mas Farhan gantian nyetir sama Mas Faris,kami pakai mobil ayahnya, ya sekedar makan gudeg di Wijilan. Jalan sebentar lalu balik ke Solo." Anita tertawa kecil mengingat masa itu.
Jimmy mengangkat telponnya dan berbicara sebentar dengan Dina. Beberapa saat kemudian Jimmy memutus panggilannya.
"Sudah disiapin katanya, semalam Mas Faris ikutan masak di dapur katanya. Dia ingin membuatkanmu gudeg sebelum pergi, sampai telpon ibunya buat pastikan resepnya. Hmm, aku merasa sedikit iri. Apa kau punya perasaan.. "
__ADS_1
"Hmm, mulai lagi suamiku ini. Aku mau tidur lagi, " Kata Anita.
Jimmy tersenyum dan membaring kan kepala Anita di lengannya yang kokoh.
"Ayo tidur sebentar lagi. "
Keduanya terlelap kembali dengan saling berpelukan. ☆☆☆
Anita segera ke dapur saat selesai shalat subuh,ternyata sudah banyak orang.Ibunya juga sudah ikut sibuk menyiapkan sarapan. Anita kaget melihat Faris juga ada di antara para wanita itu.
“Mas,koq ikutan sibuk di dapur? Jadi berasa sedang hajatan” kata Anita.
“Semalam aku,Ibu sama Mbak Dina buat gudeg.Nggak kalah sama gudeg Wijilan,” jawab Faris.
“Lho ada kreceknya(krupuk rambak sapi),beli di mana? Perasaan di sini susah cari yang begini?” tanya Anita.
__ADS_1
“Aku bawa dari Solo dua minggu yang lalu.Ibu yang maksa bawain,aku juga bingung mau buat apa sebenarnya. Saat ketemu kamu waktu pemeriksaan itu, yang pertama kupikirkan ya benda ini.” Faris terawa.
Anita juga ikut tertawa,huh jadi itu yang dia pikirkan saat bertemu denganku setelah sekian lama,pikir Anita.