
Julian dan Arron duduk saling berhadapan dengan Anita di ruang meeting.
“Anita xian Chi hao ma (Anita makanlah dulu),” kata Arron.
“Dengyixia wo zuo hao (sebentar lagi aku selesai),” jawab Anita.
“Hey,xiaojie.Ba dian le ne(hei Nona.Sudah jam delapan lho),” protes Arron.
“Minum susu hangat ini dulu,” Julian menyodorkan susu UHT yang sudah dipanaskan ke mulut Anita.
“Julian,aku bisa keselek.” Anita terpaksa meminumnya karena Julian memaksakannya.
“Aku suapi makan ya,” kata Julian lagi.
“Nggak itu sudah dingin,aku mual,” tolak Anita.
“Kau ini keras kepala, Jimmy pasti datang menghajarku kalau kamu sakit,” kata Julian.
“Sudah selesai,” Anita menyimpan data datanya ke dalam flashdisk.Ia mengetuk penyekat kaca ruang meeting dengan ruang accounting untuk memanggil Li Zen.
Li Zen yang matanya hampir segaris segera berlari ke ruang meeting dan hampir jatuh karena terpeleset.
“Ini kenapa sih pake lari segala? Tu sandal jepit kalau udah tipis dibuang jangan dipake sampe jungkir balik,” marah Julian karena Li Zen menabraknya.
__ADS_1
“Ah lumayan ga sengaja meluk cowok ganteng.” Li Zen duduk di sebelah Julian dan masih terengah engah.
“Itu sendalku sudah kubuang di tempat sampah masih lu pungut lagi Zen? Besok kalau sempat kubelikan deh,” kata Anita.Arron hanya tersenyum, karena dirinyalah yang mengambil kembali sendal itu dan menyimpannya di bawah mejanya.Mungkin karena Li Zen melihatnya dan memakainya.
“Apaan lu manggil gua?” tanya Li Zen.
“Ini semua file laporan tahun kemarin sama tahun berjalan sampai bulan ini.Masukkan CD kasih ke auditor kalau mereka memintanya.Jangan lupa besok suruh Arini buat tanda terima dokumen yang mungkin mereka bawa ke kantor pemeriksa.Buat rangkap dua dan minta ttd pemeriksa.Dan juga besok pagi pagi minta laporan cash flow ke mbak Dewi bulan berjalan, juga lakukan opnam cash yang ada di kasir dan brankas Arron.”
“Taaaaa,nangis gua.Berapa M yg ada di brankas Arron? Dan berapa ratus juta yang ada di kasir? Hiks bisa patah tangan gua,” keluh Li Zen.
“Li Zen a, wei se me ni hen ben de?(kenapa kamu ini bodoh sekali)Hitung uang pakai mesin la,” olok Arron.
“Zen, yang di Brankas Arron itu pasti bendelan utuh.Yang di mbak Dewi juga gak mungkin ambyar.Pasti sudah dibendel juga.Pakai mesin penghitung uang biar tidak keriting tangan lo,” kata Anita.
“Iya iya oke Boss besar,tapi ngomong ngomong besok gak dateng lo?” tanya Li Zen.
“Sialan,gue ganteng bukan jelek.Di klan Anggoro tidak satu pun berwajah jelek,” protes Julian.Arron dan Li Zen tertawa.
“Iya lah ngerti gue, ini karena Cuma kita aja yang ada,” kata Li Zen.Tiba tiba ponsel Anita berbunyi.
“Iya Hans.”
“Jam berapa Nona pulang? Saya ada di lobi bawah,” katanya.
__ADS_1
“Ini sudah mau pulang sebentar lagi, mau beresin barang dulu,” jawab Anita.
“Baiklah.”
Hans menutup telponnya.
“Kenapa Hans yang menjemputmu, bukannya Edy bebas hari ini?” tanya Julian.
“Aku tidak tahu,pagi tadi juga Hans yang antar aku.Jimmy yang suruh katanya,” jawab Anita.
“Baiklah, pulang dan istirahatlah.Sampai rumah segera makan ya, ayo kuantar ke bawah,” Julian membawakan tas laptop Anita.
“Arron Li Zen,aku balik dulu.”
“Ya, hati hati,” jawab Arron. Li Zen bangkit dan ikut mengantar Anita sampai ke lobi bawah.
Hans segera melajukan mobilnya menuju rumah Jimmy.Tiba tiba Anita merasakan tubuhnya lemas.Ia mengambil suplemen dalam tas dan meminumnya.
Ia segera menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
“Nona,apa kau baik baik saja?”
Tanya Hans.
__ADS_1
“Aku cuma perlu istirahat sebentar,bangunkan aku saat sampai rumah,” jawab Anita.
Hans mengiyakan dan mempercepat laju mobilnya.