
Julian memandangi laptopnya dan memeriksa beberapa email masuk.Beberapa saat kemudian ia menelpon seseorang untuk datang menemuinya.Anita hanya melihat dengan ekor matanya saat beberapa orang kepala bagian produksi datang dan berdiri gugup di depannya.
“Kenapa order nomor ini hampir semua tidak lulus inspek? Apa kalian kerja sambil tidur?” tanya Julian seraya menggebrak meja dan melempar beberapa lembar kertas ke arah mereka. Anita memegangi laptopnya yang iku bergetar.
“Maaf Tuan, Departemen Gudang memberikan bahan yang berbeda dengan instruksi produksi,” jawab salah seorang dari mereka.
“Kalau tahu salah kenapa masih dipakai dan tidak dikembalikan? Berapa lama kalian kerja di sini? Apa selama ini seperti ini kerja kalian?” tanya Julian lagi.
“Tuan kami mohon maaf, kami tidak akan mengulanginya.”
“Anita, tolong hitung berapa kerugian perusahaan untuk kesalahan produksi ini.”
Julian menuliskan beberapa nomor order produksi dan memberikannya kepada Anita.
Anita segera membuka Link ke dalam sistem data perusahaan.
“Sekitar tigaratus limapuluh juta.Kalau ditambah klaim dari Customer karena telat kirim ditambah duaratusan juta.Totalnya sekitar lima ratus limapuluh juta,” jawab Anita.
“Sudah dengar? Sekarang kalian pilih sendiri apa yang akan kalian lakukan.Gaji kalian dipotong,mengundurkan diri atau apa lagi?” tanya Julian.
__ADS_1
“Pak Pressdir, kami akan mereparasi produk ini.Ini masih bisa diperbaiki,” kata salah seorang dari mereka.
“Ok, tapi aku tidak mau bayar kerja lembur anak buah kalian. Kalian bayar sendiri upah mereka.”
“Tuan,tolong ampuni kami kali ini.Mana mampu kami membayar upah seribuan karyawan dalam sehari sekalipun.”
“Anita, bagaimana menurutmu?” tanya Julian.
“Reparasi itu belum tentu semua berhasil dan pengerjaan juga lebih lama. Sebaiknya buat baru dan produk yang salah ini kita negosiasikan dengan Buyernya untuk harganya kita kurangi 30% dan biaya kirim kita semua yang tanggung.Toh barang ini meskipun mirip tapi bisa dikatakan menjadi barang baru.Dan untuk mereka, biar HRD kasih mereka SP dan menulis pernyataan.Kalau hal seperti ini terjadi lagi, mereka akan dikeluarkan tanpa pesangon.Bagaimana menurut kalian?” tanya Anita.
“Terimakasih Bu Anita, selanjutnya kami akan berhati hati.”
Beberapa orang itu pun pergi dari ruangan itu.
“Ju, apa kau akan di sini terus? Kepalaku pusing,aku tidak bisa konsen kalau kamu ribut masalah produksi di sini. Waktuku hanya sedikit,hanya sampai besok Julian,” keluh Anita.
“Aku akan kembali ke ruanganku setelah makan siang.Aku sudah pesan pada koki di Mess untuk membuatkan makanan kesukaanmu," katanya.
Anita kembali memeriksa pesanan yang bermasalah itu dan mengirimkan datanya kepada Julian.
__ADS_1
“Buka emailmu Ju, aku melihat kejanggalan mengenai order yang tadi.Bahan baku yang diambil sudah sesuai dengan instruksi kerjanya.Itu dikeluarkan gudang bahan dua hari yang lalu.Bahan itu diambil oleh devisi tujuh, sebaiknya periksa CCTV di tempat devisi itu meletakkan bahan baku yang akan diproduksi.Kalau orang yang tidak ikut salah dihukum semua ya kasihan juga kan,” kata Anita.Julian mengerutkan dahinya.
“Baiklah akan kusuruh IT periksa.Sudah jam istirahat Anita,sebentar lagi makanannya datang,” Julian menelpon seseorang di ponselnya.Arron yang dari tadi sibuk di ruangannya segera menghampiri Anita begitu pun Li Zen.
Tidak lama setelah itu makanan dari mess pun datang.
“Ayo makan Anita,Zen kamu minta ke mess kalau ini tidak ada yang kamu suka,” kata Julian.
“Aku suka,ayo Anita,” jawab Li Zen.
“Makan yang banyak,kamu agak kurusan,” kata Arron seraya mengambilkan makan untuk Anita.
“Na yo (mana ada),” jawab Anita.
“Arron, wo na ?(Arron, aku),” kata Li Zen.
“Ziji na (ambil sendiri).Ta shi keren a (dia kan tamu)” kata Arron.
“Arron,ambilkan juga ya,” kata Anita.Dengan berat hati akhirnya Arron mengambilkan makanan untuk Li Zen.
__ADS_1