
Anita mengerjapkan matanya saat mendengar azan subuh di masjid. Sementara lengan kokoh Jimmy masih melingkar di perutnya. Sejenak ia merasa bingung antara mimpi atau kenyataan. Perlahan kesadarannya terkumpul dan benar saja,ia ada di kamar tamu dan ternyata Jimmy juga menyusulnya pindah ke kamar itu.Ia terkejut saat merasakan Jimmy memeluknya dari belakang.
"Kenapa pindah semalam?" tanya Jimmy dengan suara seraknya.
"Aku lebih nyaman tidur di sini," jawab Anita.
"Kalau begitu kita tidur di sini saja," kata Jimmy.
"Tidak perlu ikut tidur di sini,kamu tetap tidur di kamar kita.Aku tidak mau mengganggumu saat kau pulang kerja, kau pasti lelah kan."
Anita menyibakkan selimutya,namun Jimmy segera menariknya kembali.
"Aku mau mandi dan shalat,jangan menarikku begini," kata Anita acuh.
"Tunggulah sebentar lagi,waktunya masih lama kan? Aku masih ingin memelukmu.Hari ini apa kau membuatkanku bekal lagi?" tanya Jimmy.
"Tidak,kurasa sekarang tidak perlu lagi. Aku lelah dan ingin menghabiskan waktuku untuk melakukan hal lain," jawab Anita.
"Maaf ya,bekal kemarin tidak kumakan. Tiba tiba ada meeting yang diminta klien yang mengharuskan kami makan di restoran."
Anita tak menjawab dan beringsut ke kamara mandi.Jimmy menghela nafas berat,tiba tiba saja dadanya sedikit sesak.
"Maafkan aku Anita,akan kuatasi masalah ini secepatnya," gumam Jimmy.***
Siang itu Anita kembali menemui Lenny dan Aji suaminya untuk menyelesaikan masalah jual beli rumah di Griya Nusa.
"Ji,aku mau terima beres ya.Sudah kutransfer DPnya," kata Anita.
"Iya Mbak,akan segera kuurus surat suratnya sama Lenny.Kalau mau langsung ditempati juga nggak masalah ko Mbak," jawab Aji.
"Memang boleh?"
"Properti itu punya kita Anita,tempati langsung juga gak pa pa," kata Lenny.
Temani aku beli perabot Len,atau kamu saja yang ngisi,nanti kutransfer uangnya. Dan aku butuh seorang ART,bisa carikan nggak Len? Kalau bisa ya orang yang kau kenal," kata Anita.
"Mbak,di istana suamimu kan banyak pelayan.Kenapa.."
"Mas,aku kan sudah bilang Anita beli rumah diam diam," sergah Lenny.
Aji langsung menutup mulutnya.
"Yah,wanita memang rumit," gumam Aji.
"Ayo Ta,kutemani saja beli perabot. Aku free sampai sore,kalau kubelikan nanti nggak sesuai seleramu.Aku jalan sama Anita ya Mas," kata Lenny pamit kepada suaminya.
Aji hanya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh karena sibuk mengangkat telpon seseorang.
Lenny membawa Anita ke toko mebel dan perabot langganannya. Setelah itu mereka sepakat untuk beli bakso pak Nardi,langganan mereka dulu di dekat SMP sambil mengenang masa masa itu,masa di mana mereka tahu bersenang senang dan tidak memikirkan hal hal berat seperti sekarang.Setelah itu keduanya pergi ke alun alun untuk sekedar duduk santai sambil makan es krim, melihat anak anak kecil dan remaja yang sedang bermain menghabiskan waktu sore.***
__ADS_1
Sementara itu,Jimmy yang hari itu tidak ke kantor dan menghabiskan waktunya bekerja di ruang kerjanya di rumah.
Terdengar pintu ruangannya diketuk, ia mempersilahkan masuk tanpa menoleh ke arah pintu.
Marcel dan Corvin masuk disusul oleh Hans yang datang membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh Jimmy.
"Duduklah," kata Jimmy tanpa menoleh ke arah mereka.
Setelah menyelesaikan urusan di laptopnya,Jimmy memutar kursinya dan berhadapan dengan ketiga orang bawahannya yang telah duduk bersebelahan di depan meja kerjanya.
"Corvin," kata Jimmy.
"Nyonya muda ke luar tadi siang dengan taksi online,pergi ke kantor Surya Kencana,setelah itu pergi dengan seorang wanita dari situ. Pergi ke dekat SMP satu dan makan Bakso di sana.Saat ini Nyonya Muda berada di alun alun bersama wanita itu.Anak buah saya masih memantaunya," kata Corvin.
"Seperti apa wanita yang bersama Nyonya?" tanya Jimmy.
Corvin segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kepada Jimmy.
Jimmy tersenyum tipis lalu mengembalikannya kepada Corvin.
"Dia sahabatnya dan aku mengenalnya. Marcel," kata Jimmy kemudian.
"Nyonya Muda mentransfer uang 75 juta ke rekning I Gede Puaji Putra tadi jam sepuluh dua lima Tuan. Siang ini juga Nyonya belanja furnitur,macam macam gorden, barang barang elektronik,serta lainnya totalnya enampuluh juta tujuh ratus Tuan.Semua pakai rekening pribadi Nyonya," jawab Marcel.
Jimmy menghela nafas dalam dalam.
"Apa ada masalah di perusahaan Marcel?"
"Tidak Tuan,semua diatasi Tuan Jack dengan baik."
"Itu dokumen apa Hans?" tanya Jimmy.
"Ini beberapa kontrak yang sudah deal di Infomedia dan JAX TV Tuan. Tinggal tunggu tanda tangan Tuan. Ada juga beberapa kontrak iklan," jawab Hans.
"Ada yang lain Hans? Handle dulu pekerjaanku beberapa hari ini di Infomedia.Kalau ada yang menginginkan iklan mereka tayang di JAX TV, buat kesepakatan sesuai standar yang kubuat.Mengenai beberapa program baru,laporkan padaku via E-Mail.Kalian boleh pergi," kata Jimmy.
Tanpa banyak bicara ketiga orang itu beranjak pergi,tapi Hans tiba tiba kembali mnghadap Jimmy.
"Ada apa Hans?"
"Tadi Nona Clarissa mencari Tuan, saya sudah jelaskan kalau Tuan ada urusan dan tidak ke kantor hari ini. Tadi dia mengatakan kalau akan datang ke rumah ini untuk bertemu Tuan," kata Hans.
"Hubungi Corvin untuk tidak menerima tamu kecuali keluargaku dan keluarga istriku. Katakan pada Clarissa kalau proposalnya masih kupelajari dan tunggu aku menghubunginya," kata Jimmy kemudian.
"Baik Tuan," kata Hans kemudian berlalu.
Jimmy menyandarkan punggungnya di kursi dan mengusap wajahnya kasar.***
Sementara itu,Lenny dan Anita pergi ke rumah baru yang dibelinya dari suami Lenny.Ternyata di perumahan elit itu sudah banyak penghuninya. Beberapa saat setelah mereka datang pesanan alat alat elektronik dan lainnya datang.Ternyata Lenny sudah menyediakan ART yang kira kira seumuran dengan ayah dan ibunya,lebih muda sedikit.
__ADS_1
"Ta,ini Pak Darman dan Bi Rosmini yang biasa mengurus rumahku di Jakarta.Saat ini rumahku yang di sana kusewakan jadi kebetulan kau sedang cari pengurus rumah.Waktu kuhubungi mereka bersedia. Kebetuan rumah mereka juga masih di kampung tak jauh dari sini.Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Lenny.
"Ya,aku percaya padamu Len.Apa Mereka suami istri?" tanya Anita.
"Iya Nyonya," jawab Pak Darman.
"Jangan panggil Nyonya Pak, panggil Bu Anita saja," kata Anita.
"Iya Bu," kata keduanya hampir bersamaan.
"Pak,tolong diatur ya barang barang ini.Ini Bi Ros besok belanja ke pasar ya buat isi kulkas,Bi Ros masak buat kalian berdua saja.Mungkin aku ke sini agak siangan.Len,besok bisa carikan orang buat masang perabot dan alat elektronik lainnya?" tanya Anita seraya memberikan uang belanja pada Rosmini.
"OK,serahkan saja padaku.Terima beres dah," jawab Lenny.
"Kamu bisa pulang dulu,Len.Maaf anak anak pasti nyariin Maknya." Anita tertawa kecil.
"Baiklah kalau begitu, apa kamu menginap di sini? Bagaimana kalau Jimmy nyari?"
"Aku mau shalat dulu lalu pulang," jawab Anita.
Lenny berpamitan kepada kedua mantan pengurus rumahnya,setelah itu ia pun meninggalkan rumah itu.
Seusai shalat Anita mengambil ponselnya,ia bermaksud untuk memesan taksi online.Ia melihat puluhan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang menanyakan keberadaannya dari suaminya.
Anita bergegas ke luar dari rumah dan menunggu di tempat yang agak jauh dari rumahnya,karena ia tahu Jimmy pasti bisa melacak keberadaannya walau tidak diberitahu.
Ia menunggu agak lama,taksi online tidak biasanya terlalu lama.
Anita merasa was was karena sebuah mobil berhenti di depannya dan seseorang dengan hudie hitam menghampirinya.Sontak ia mundur beberapa langkah,tapi tidak mungkin ada penjahat yang bisa masuk ke perumahan seperti ini tanpa diketahui petugas keamanan.
Anita hampir menjerit tapi lebih cepat tangan pria itu membekap mulutnya.
"Ini aku,kenapa kamu tidak bisa mengenali suamimu sendiri?Apa mukaku ini sudah berubah menjadi Tom Cruise?" tanya Jimmy yang segera memeluk Anita saat hampir jatuh.
Anita berpegang pada pundak suaminya supaya bisa menegakkan tubuhnya.
"Ini sudah hampir jam tujuh,kenapa masih keluyuran di luar? Kenapa tidak bawa mobil, ada Irene yang akan menemani dan mengantarmu pergi.Kenapa tidak izin padaku mau pergi ke mana mana? Aku mencemaskanmu,kau sudah tidak boleh pergi sendirian," marah Jimmy.
"Aku lelah,bisakah bicara di rumah?" mohon Anita.
Jimmy mengiyakan lalu membantu Anita masuk ke dalam mobil.Dalam perjalanan Anita hanya memejam matanya tanpa mau menjawab pertanyaan pertanyaan dari suaminya.
"Jim..."
Akhirnya Jimmy diam melihat wajah Anita yang sedikit pucat dan frustrasi.
"Baiklah,kita bicara nanti," kata Jimmy akhirnya.
Jimmy meminta Jodi mempercepat laju mobilnya supaya segera sampai di rumah.***
__ADS_1