CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption255


__ADS_3

Anita tertidur setelah shalat magrib, mukena baru yang ada di lemari itu sangat lembut dan tidak bau toko (bau pewarna) dan wangi lembut.Itu jelas dibeli di butik kalau melihat bungkusnya.


Ia segera melipat mukena itu dan menyimpannya kembali. Anita menghampiri pantry kalau saja ada makanan karena perutnya terasa lapar.


Ada satu cup mie instan di dalam lemari gantung.Anita segera membuka tutupnya dan memberinya air panas dari dispenser.


Ia duduk di meja makan kecil dekat jendela kamar.Ia membuka sedikit tirainya dan kembali terkagum kagum melihat pemandangan di luar.


Yaa Tuhan, rumah ini masih di kota Jogja. Di kejauhan terlihat beberapa logo hotel terkenal dengan lampu lampu mereka. Beberapa Mall yang terlihat di kejauhan.


Ternyata rumah ini tanahnya sudah ditinggikan dan sedikit berbukit dengan tanah yang sangat luas.Entah bangunan apa saja yang termasuk di dalamnya.


Pintu kamar diketuk saat Anita hendak menyuapkan mie instan ke mulutnya.


“Saya masuk Nona.” Pintu terbuka dan pengawal yang tadi sore yang sudah berganti pakaian sedikit casual menghampirinya bersama seorang pelayan.


“Susi, segera bersihkan kamar ini.Nona, kau tidak boleh makan mie instan.Tuan Besar sudah menunggumu di bawah untuk makan malam.”


“Siapa namamu,Nona?” tanya Anita.


“Saya Irene,panggil saja begitu.Ayo ke bawah Nona,” ajak Irene yang seperti perintah yang tidak boleh dibantah.


“Baiklah, aku juga sangat ingin tahu siapa Tuanmu.”


Anita mengikuti langkah Irene menuju ke ruang makan.Seorang pria paruh baya menatap Anita begitu tajam dan seksama.


“Duduklah.” Suara berat pria itu tidak menggoyahkan Anita untuk menuruti perkataannya.


“Siapa sebenarnya Tuan? Kenapa membawaku ke sini dan menyekapku di sini? Apa aku punya masalah denganmu?” tanya Anita.


“Duduk dan makanlah, setelah itu baru kita bicara.Aku belum makan dari siang,” kata pria itu.

__ADS_1


Akhirnya Anita menuruti kata kata pria itu. Ia duduk dan menatap meja makan itu dengan takjub karena yang dihidangkan adalah makanan kesukaannya.Tumisan paprika warna warni yang begitu membuatnya ngiler.Rendang padang yang berwarna coklat pekat.Tumis brokoli daging asap dan sosis bakar yang biasa dibuatkan Arman juga ada salad buah di ujung sana.


Pria itu mengambil beberapa piring kecil dan pelayan menyajikannya satu persatu.


“Semua yang ada di meja adalah makanan kesukaanku.Kau belum boleh makan sebelum aku mencicipi semuanya,” kata pria itu.


Tiba tiba Anita merasa dongkol sekali.


“Makanlah semuanya Tuan, aku tidak bermaksud meminta makan kepadamu. Aku masih bisa berpuasa sampai besok pagi.Aku bisa beli makanan di pinggir jalan yang harganya hanya lima ribu tapi membuatku bahagia,” jawab Anita.


Pria paruh baya itu tertawa sampai terbatuk batuk.Pelayan segera mengaambilkan air minum untuk majikannya.


Lesung pipinya terlihat begitu jelas saat dia tersenyum.Tiba tiba ia merasa agak familiar dengan wajah pria itu.Karena hanya Hiroshi dan Jimmy yang memiliki lesung pipi yang sangat khas seperti itu.


“Irene, bisakah kau ambilkan mie instan di kamar yang tadi?Aku akan memakannya selagi menunggu penguasa bumi itu makan,” ketus Anita.


Sekali lagi pria paruh baya itu tertawa sambil memegangi perutnya.


“Baik Tuan Besar,” kata Irene.


“Aku mau semuanya,kasih aku sebuah piring akan kuambil sendiri yang aku suka,” kata Anita.


Irene menyodorkan sebuah piring porselen lebar.Anita mengambil sedikit nasi dan mengelilinginya dengan semua lauk seperti membuat tumpeng.


Dengan lahap ia memakannya tanpa mempedulikan pria paruh baya yang terus saja memperhatikan dirinya.


“Kita sudah selesai makan, ayo kita bicara,” kata Anita.


“Ikutlah denganku.” Pria itu beranjak dan membawa Anita ke sebuah ruangan yang penuh dengan rak buku.


Ia meminta Anita untuk duduk di sofa.

__ADS_1


“Sekarang katakan apa mau Tuan, kenapa membawa dan menahanku di rumah ini? Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus kulakukan.Katakan dan aku harus segera pergi dari sini,” kata Anita.


“Kau tidak boleh pergi, kau harus tetap di sini sampai putraku tiba di sini.”


“Apa? Kenapa saya harus menunggunya? Saya tidak mengenal Tuan, memangnya kenapa harus menunggu?”


“Karena putraku jatuh hati padamu, dan ayahmu punya sangkutan padaku.Dia bersedia menikahkanmu dengan putraku,” kata pria itu.


“Apa? Apa Tuan tidak bisa melihat kalau saya sedang mengandung anak seseorang dan masih berstatus istri orang?”


Pria itu tertawa.


“Ayahmu sudah menceritakan semuanya, kau ditinggalkan oleh suamimu itu kan? Dia pergi ke luar negri dan bertunangan dengan seseorang dan sebentar lagi akan menikah di sana.Apa lagi yang kau harapkan? Putraku menyukaimu dan bersedia menerima anak yang kau kandung itu.Kau harusnya berterimakasih,” kata pria itu dengan sombong.


“Aku sudah tidak ingin menikah dengan siapa pun.Aku masih sanggup mencari nafkah untuk anak anakku.Sekarang biarkan aku pergi Tuan, aku menolak menikah dengan putramu.”


“Kau hanya punya dua pilihan,Nona. Kau masuk penjara karena melakukan percobaan pembunuhan, atau menikah dengan putraku.”


“Percobaan pembunuhan apa? Tuan jangan bicara omong kosong,” kata Anita gusar.


Pria paruh baya itu menyeringai.


“Aku punya semua bukti kau meracuni seisi rumahmu, dan beberapa orang hampir meninggal.Kalau aku tidak datang waktu itu,mungkin ibumu juga sudah tidak ada lagi di dunia ini.Ibumu masih dirawat di rumah sakit.Aku bisa melaporkan kasus ini ke polisi.”


Anita terduduk di lantai sambil menangis, dalam hati ia tidak berfikir akan sampai separah itu.


“Pikirkan malam ini dan kau bisa memberiku jawaban besok.Irene, bawa Nona ke kamarnya.”


“Baik Tuan,” kata Irene.


Anita mengikuti langkah Irene dengan berurai air mata.Dadanya terasa sesak saat pikirannya melayang ke Ibunya.

__ADS_1


__ADS_2