
Jim membuka laci meja kerjanya yang ada di kamarnya.Ia menyerahkan ponsel milik Anita yang memang sudah menyala.
"Aku menghapus seribuan pesan yang masuk sejak kunonaktifkan ponselmu.Aku tidak mau melihat chat Arron, Julian dan entah siapa lagi jadi langsung kuhapus tanpa aku baca," kata Jim.Anita hanya mengangguk tanpa ekspresi.Ia tidak mau berdebat dengan suaminya.
"Apa aku harus mempersiapkan sesuatu untuk acara kita minggu depan?" tanya Anita.
"Besok pergilah ke butik dengan Yuki jam sepuluh.Kau yang pilih baju untuk acara itu. Untuk resepsinya menyusul saja, nanti kita bicarakan lagi.Setelahnya kau boleh jalan jalan ke maĺl atau ke mana, tapi ingat harus selalu bersama Yuki," jawab Jim.
"Bagaimana pekerjaan Yuki? apa tidak kasihan sama Li Zen? Aku yakin dia masih kesulitan," kata Anita.
"Aku sudah menempatkan Elvira asisten Yuki untuk membantunya.Dia yang selalu disuruh Yuki membantu mengerjakan pekerjaanmu tiap harinya.Karena dia kuwalahan harus mengerjakan laporan rumah dan rewelnya Arron.Bahkan kadang aku sampai ikut membantunya," Jim tersenyum geli.
"Hanya aku yang bisa menjinakkan Arron," Anita tertawa kecil.
"Kau bukan saja menjinakkan Arron,kau juga menjinakkan diriku juga Julian. Sekarang Julian tidak kulihat lagi wara wiri sama cewek gak jelas.Tidak lagi gonta ganti wanita dan tidur sama mereka.Tapi aku akan menjinak kan dirimu lihat saja." Jim menyentil hidung Anita.
__ADS_1
"Kau sudah hampir menjinakkanku Tuan, kau selalu membuatku tak berdaya di ranjangmu," bisik Anita.Jim menoleh ke arah Anita dengan tatapan ingin menerkam.
"Jangan mancing mancing,ini hampir magrib dan aku sudah mandi empat kali.Nanti sabun sama sampo cepet habis pelayan pasti nanya," kata Jim.Anita terkekeh mendengar perkataan suaminya.
"Kau kan Bossnya, kenapa takut dimarahi pelayan?" tanya Anita.
"Jangan salah, pelayan sekarang lebih galak daripada bossnya," Jim tertawa.
Terdengar suara azan magrib,Jim segera bersiap pergi ke masjid miliknya yang tak jauh dari rumahnya.
Anita menganggukkan kepalanya lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.***
Anita meremas kuat sprei di private room Jimmy.Ia ia berusaha menahan berat tubuh Jimmy yang sangat kuat menekan area intimnya sangat dalam saat di akhir penyatuan mereka.Jimmy mengerang keras saat mendapatkan pelepasannya.Napas Anita tersengal merasakan nyilu amat sangat. Akhirnya Jimmy ambruk di sampingnya dengan napas tak beraturan.
"Jim, cukup ya," kata Anita di sela sela nafasnya.
__ADS_1
"Yah," jawab Jim dengan nafas memburu.
"Ini sudah keenam kalinya, aku tidak kuat lagi," kata Anita.Jim tersenyum senang.
"Rekor baru," Jim tertawa lepas.
"Tubuhku gemetar,tadi sore aku lupa tidak makan.Kau juga kah?" tanya Anita.Jim mengangguk lemas.Jim segera membawa Anita ke kamarnya.Ia segera ke luar kamar setelah mengenakan pakaiannya.
Ia melihat Jack, Lucas dan Arman duduk dalam diam di sofa ruang tengah. Jim segera ambruk di samping Jack karena kakinya terasa lemas.Jack segera menangkapnya saat Jim hampir jatuh ke lantai.
"Arman buatkan dua gelas teh manis, buatkan juga bubur ayam, atau bubur daging terserah," kata Jack.
"Lucas cepat panggil Yuki, kurasa Nona juga tak jauh beda dengan orang ini," imbuhnya.
Lucas segera beranjak ke kamar Yuki tanpa memprotes.Ia segera mengetuk pintu kamar Yuki pelan, lebih keras, sangat keras, dan akhirnya membuka paksa karena Yuki tak kunjung bangun.Gadis itu tertidur begitu manis sampai akhirnya gigitan kecil dari Lucas di pipinya membuat dirinya bangun dan reflek menampar pipi imut Lucas.
__ADS_1