
Jimmy menyandarkan punggungnya di dinding luar musolla pegawai rumah sakit sambil memejamkan matanya. Ulu hatinya sedikit nyeri memikirkan semua kejadian di luar kendalinya.Satu satunya orang yang di harapkan adalah Jack, tapi Jimmy tidak ingin egois memberitahu segala kesulitannya karena Jack pasti akan langsung kembali untuk membantunya tanpa mempedulikan keluarganya.
“Jim,ngapain di rumah sakit? Sudah nggak punya kerjaan ya, mau gantiin pak Madun jadi penjaga parkir,” Bayu terkikik.
Jimmy membuka mata dan menoyor kepalanya.
“Anita Animea berat, harus transfusi darah,” jawab Jimmy sedih.
“Yah kejadian lagi,dulu waktu di Jogja dia pernah gitu.Tapi tidak sampai harus sitransfusi darah.Aku yang membawanya ke rumah sakit,” kata Bayu.
Jimmy hanya diam, Bayu malah merasa aneh karena sahabatnya itu tidak marah.
“Heh, nggak cemburu Lu Pret?” godanya.
“Nggak, kalau terlalu cemburuan juga akan menyakitinya.Dia tidak bersalah kalau pun banyak pria yang bersimpati kepadanya,” jawab Jimmy.
Ponsel di saku Jimmy berbunyi, ia segera mengangkatnya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Tuan, ada seseorang berseragam pegawai datang ke rumah sakit untuk menemui Nona.Saya menahannya di depan paviliun dan melarangnya masuk.Tapi dia mengancam akan melapor ke kantor polisi dengan tuduhan penyekapan,” kata seorang pengawal Jimmy.
“Berikan fotonya padaku,” kata Jimmy lalu mematikan ponselnya.Beberapa saat kemudian ada pesan masuk. Jimmy menyeringai sinis.
__ADS_1
“Mau apa orang ini.”
Jimmy menelpon pengawalnya.
“Antar dia ke ruang tamu Pavilliun dan kamu tetap di situ sampai aku kembali.” Jimmy menutup telponnya lalu bangkit dari duduknya.
“Ada apa Jim? Aku akan ikut denganmu, jangan berkelahi di rumah sakit,” kata Bayu.
“Ga usah, pasienmu lebih penting daripada mengurusi orang berkelahi.Aku akan bicara baik baik, kalau tidak bisa masih ada banyak pengawalku yang akan melemparnya ke luar.” Jimmy memakai sepatunya lalu beranjak meninggalkan Bayu.
“Heh Kampret, beneran lo ya,” teriak Bayu.Jimmy hanya mengacungkan ibu jarinya tanpa menoleh.
Ia bergegas kembali ke paviliun keluarganya.Banyak pertanyaan di kepalanya yang harus segera clear dengan menemui orang ini.
Faris berdiri terpaku saat mendapati Jimmy berdiri tegak di depannya.Tampaknya di kepala kedua pria itu bertumpuk ribuan pertanyaan yang harus segera mendapatkan jawaban.
“Pak Jimmy, saya sedang mencari Reanita.Saya dapat informasi kalau tadi siang dia dibawa ke rumah ini oleh Nona Yuki,” kata Faris.
“Pak Faris adalah Auditor yang sedang memeriksa perusahaan saya.Apa tidak masalah kalau Anda mengunjungi terperiksa?” tanya Jimmy.
“Pak Jimmy, saya hanya ingin melihat keadaan Anita.Dia adalah orang yang sangat penting untuk saya dan keluarga saya.Sekian lama saya berusaha mencari tahu keberadaannya, terus terang saya sangat kaget bertemu dia hari ini, dan keadaannya seperti ini,” jawab Faris.
“Apa hubungan Pak Faris dengannya?”
__ADS_1
“Dia adalah kesayangan Ibu dan almarhum ayah saya,bisa dikatakan kalau dia adalah adik angkat saya.Lalu kenapa Anda ada di sini? Bukankah sangat aneh seorang komisaris menunggui karyawan biasa.Apa Pak Jimmy punya perasaan padanya?” tanya Faris.Keduanya mulai bersitegang. Tiba tiba pintu terbuka, Bayu masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu.
“Jim.” Bayu mendekati Jimmy.
“Bay, jangan ikut campur.” Jimmy menepiskan tangan Bayu.
“Tentu saja saya punya perasaan padanya.Dia istriku,” kata Jimmy. Faris tampak terkejut dan mundur beberapa langkah.
“Jimmy, ada apa? Kenapa ribut ribut? Jimmy ! Jimmy !” terdengar suara lemah Anita.
Faris secepatnya berlari ke arah suara Anita. Ia memukul Jimmy yang berusaha menghalanginya.Faris bergegas menuju ke ruang rawat yang pintunya memang sedikit terbuka.
“Reanita,” gumamnya.
Anita hanya diam terpaku menatap Faris yang berdiri kokoh di depannya.
Jimmy yang mengejar Faris segera memukul Faris hingga jatuh.
“Jimmy! Jangan! Bayu pisahkan mereka Yu,” Anita mencoba bangkit dari bed rumah sakit dan jatuh ke bawah.
“Hei kalian,ke luar kalau mau berkelahi.Fika, kenapa bengong di situ? Cepat tolong Nona,” teriak Bayu lalu memukul Jimmy dan Faris bergantian.
“Anita!” Jimmy segera menghampiri dan mengangkat tubuh Anita lalu membaringkannya di atas bed. Bayu segera menghentikan aliran darah di kantong transfusi dan infus karena jarumnya terlepas dari tangan Anita.
__ADS_1