CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption240


__ADS_3

Anita membuka matanya, rasa pusing di kepalanya membuatnya merintih pelan.Seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.Ia memakai stetoskop dan memeriksa Anita.Ia tersenyum manis saat selesai memeriksa tekanan darahnya.


“Sudah lebih baik dari kemarin,” katanya.


“Ibu siapa? Saya ada di mana?”


“Saya Sinta asisten dokter Hiroshi di klinik, ini rumah Dokter yang ada di Kaliurang,” jawabnya.


“Saya kenapa?Dokter Hiroshi ke mana?”


Anita melihat jam dinding sudah jam sebelas siang.


“Dokter tadi pagi ke rumah sakit di Jogja, ada rapat.Nah itu sepertinya sudah kembali.”


Terdengar suara bising di atas atap rumah. Beberapa saat kemudian Hiroshi muncul dari balik pintu kamar yang memang sudah terbuka.Ia tersenyum melihat Anita melihat ke arahnya.


“Dokter Sinta boleh pulang sekarang. Tolong berikan rekam medisnya,” kata Hiroshi.


Dokter Sinta memberikan filing cabinet berwarna biru kepada Hiroshi.


“Sudah membaik Dokter,tinggal menjaga pola makan saja.Saya pergi dulu,kalau perlu apa apa panggil saya lagi,” kata Dokter Sinta.


Hiro tersenyum dan mengangguk. Hiro, matanya yang agak sipit dan garis wajahnya yang tegas.Alisnya yang tebal seperti pedang yang runcing di ujung.Dulu Anita sempat berharap Hiro menyukainya, tapi kata kata keramat itu tidak pernah terucap dari bibirnya.

__ADS_1


“Chili,apa ada kotoran ayam di wajahku? Aku bisa mati bahagia kalau kau jatuh cinta padaku.” Hiroshi tertawa kecil.


Anita memalingkan wajahnya ke arah jendela.


“Apa tidak sayang wajahmu itu kalau tidak menyukai wanita,mau jadi biksu?” kata Anita.


Hiroshi tertawa kecil mendengar jawaban Anita,ia tahu betul ke mana arah pembicaraannya.


Hiro duduk di hadapan Anita seraya membolak balik rekam medisnya.


“Kapan terkhir kali periksa?” tanyanya.


“Satu bulan yang lalu, lebih kayaknya aku tidak ingat.Karena beberapa kali masuk rumah sakit,” jawab Anita.


“Animea lagi?”


Hiroshi mengerutkan alisnya.


“Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku.”


“Penjelasan mengenai apa?Alasan aku datang ke Jogja?” tanya Anita.


“Bukan,kalau itu aku sudah tahu kenapa kau datang ke Jogja.”

__ADS_1


Keduanya saling diam,Anita tidak kaget kalau Hiroshi tahu kenapa dia kembali ke Jogja.Ya sudah, dirinya tidak perlu lagi repot repot menjelaskan.


“Katakan kenapa waktu itu kau pergi begitu saja? Tanpa pamit padaku, tanpa mengatakan apa apa.Apa segitu bencinya padaku atau karena kau begitu ingin bertemu cinta pertamamu?” tanya Hiro.


Anita sedikit kaget karena Hiroshi mengungkit tentang cinta pertamanya.Dari mana dia tahu tentang itu.


“Hiro,apa itu penting sekarang untuk kau tahu?Hari itu sangat menyakitkan kalau kuceritakan."


“Aku ingin tahu, supaya tidak ada yang mengganjal di hatiku,” jawab Hiro.


“Baiklah.Waktu itu beberapa kali kakakmu Ryohei menemuiku, memintaku menjauh darimu karena kau sudah punya tunangan dan akan segera menikah.Bahkan dia menunjukkan fotomu yang sedang memeluk seorang wanita cantik.Aku sudah katakan kalau aku hanya temanmu.”


Anita menegakkan tubuhnya dan mengambil air minum dia atas nakas. Hiroshi segera membantunya.


“Apa kau mau berjanji akan membiarkan aku pergi setelah kuceritakan?” tanya Anita.


“Tergantung keadaan Anita,ceritakan saja tanpa syarat apa pun.Yang dikatakan Ryohei waktu itu tidak benar,” jawab Hiroshi.


“Waktu berlalu beberapa minggu,sebenarnya waktu itu aku hanya menunggu dua hal. Menunggu transkrip nilai sementara ke luar dan menunggu kau mengatakan bahwa kau menyukaiku.Hah aku sungguh naif mengharapkan hal itu.Aku sangat tahu wanita itu sungguh cantik,mana mungkin seorang Hiroshi menyukaiku.” Anita tertawa geli karena melihat ekspresi wajah Hiro berubah.


“Anita, aku memang menyukaimu. Bahkan aku jatuh hati padamu sejak ospek dulu,”kata Hiroshi.


Tawa Anita semakin keras hingga matanya berair.

__ADS_1


“Kau memang bodoh Hiro,kalau saja kau katakan waktu itu, aku pasti melawan Ryohei dengan gigih.Tapi sayangnya itu tidak terjadi. So, aku membiarkan Ryohei mengusirku dari Jogja dengan cara yang memalukan,” kata Anita.


Hiro mendongakkan wajahnya, ekspresi marah tampak terlihat jelas. Urat urat lehernya tampak menegang. Anita bangkit dan berdiri di dekat Jendela yang menampakkan puncak Merapi yang sangat indah di kejauhan.


__ADS_2