
Siang itu Anita pergi ke kantor ayahnya untuk memeriksal banyak laporan yang masih agak terbengkalai.
“Ayah, carilah pegawai yang kompeten.Aksal itu tidak bisa diandalkan kalau masalah membuat laporan begini.Bukan jurusannya Yah,” kata Anita saat melihat Ardian masuk.
“Peternakan kita hanya peternakan kecil Nita,mana mampu bayar orang?” kata Ardian.
“Mana Ayah tahu omset dan keuntungan kita berapa kalau tidak buat laporan.Ini, bulan ini saja penjualan susu ke pabrik hampir tigaratus juta lho, kita hanya bayar duapuluhan orang.Sapinya kan hampir limaratus ekor, tugas Aksal kan memikirkan gimana kualitas dan kuantitas susunya bagus, bukan buat laporan begini.”
“Iya nanti biar Aksal cari,” kata Ardian akhirnya.
“Maaf,Nyonya Hans tadi menelpon. Kenapa Nyonya tidak angkat telpon?” tiba tiba Yuse masuk.
Anita segera memeriksa tasnya, ternyata ponselnya memang tidak ada dalam tasnya.
“Mungkin tertinggal di kamar atau di meja rias, ada apa Yuse?” tanya Anita.
“Dia hanya mau mengingatkan untuk meminum obat dan suplemen.Tidak boleh terlewat,” jawab Yuse.
Anita tertawa kecil, kenapa akhir akhir ini Hans lebih cerewet daripada Jimmy.
“Katakan padanya aku sudah minum semuanya,” kata Anita seraya melanjutkan pekerjaannya.
“Baik Nyonya,” kata Yuse lalu pergi dari ruangan itu.
Anita menyandarkan kepalanya karena merasa sedikit lelah.Dengan lembut ia mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.Tanpa terasa air matanya meleleh, ia merindukan Jimmy.
__ADS_1
“Kenapa ayahmu belum juga menelpon Sayang,” bisik Anita.
Kelelahan yang amat sangat membuatnya terlelap di kursi kerja ayahnya.
“Nita,Nita.Bangun Nak ini sudah jam empat, pulanglah.Tuan Hans sudah menunggu di ruang tamu.” Dengan lembut Ardian membangunkan putrinya.
Gelagapan Anita segera membuka matanya.
“Iya ayah,suruh tunģgu sebentar Nita mau asharan dulu.”
Anita beranjak ke sebuah musholla yang ada di dekat kantor ayahnya.
Hans mendongakkan wajahnya saat melihat Anita menghampirinya.
“Ketinggalan di kamar,” jawab Anita.
“Lain kali tolong ingat kalau ponsel itu penting.Bagaimana saya menghubungimu kalau tidak bawa ponsel.Ingatlah Nona, kau tanggung jawabku selama Tuan belum kembali,” marah Hans.
“Iya,iya.Kenapa akhir akhir ini kamu cerewet sekali.Yuse mana?” tanya Anita.
“Dia ada kerjaan lain.”
Hans bangkit dari duduknya dan Anita mengikutinya.Anita memajukan bibirnya setelah melihat dua mobil ranger dan beberapa anak buah Corvin juga siap siap pergi mengikuti mereka.
“Hans, apa kita perlu membawa pengawal sebanyak itu? Tidak ada yang akan menculikku,” rungut Anita.
__ADS_1
“Nona tidak perlu mempedulikan mereka.Apa kita langsung pulang?” jawab tanya Hans.
“Aku ingin makan rendang yang di tikungan itu,” jawab Anita.
Hans segera mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang diinginkan Anita.
Hans segera memesan makanan dan segera duduk di depan Anita.
Beberapa saat kemudian makan datang dan membuat wajah Anita jadi sumringah.
“Kau juga tidak lapar Hans? Sebanyak ini mana bisa kuhabiskan sendiri,” kata Anita.
“Saya sudah makan,Nona habiskan saja.Itu tidak terlalu banyak untuk tiga orang.Saya cuma pesan minuman sudah cukup,” jawab Hans.
“Kau meledeku ya,” Anita bersungut sungut.
Hans tersenyum melihat Anita makan dengan lahap.
“Hans, ini masih banyak.Aku sudah kenyang.Eh, bukannya itu Julian yang di pojok sana? Dia lagi makan sama cewek cantik.Aduh duduknya deket banget lagi.Lengan Julian pakai dipeluk lagi,” kata Anita seraya menunjuk nunjuk.
Hans segera menepis tangan Anita.
“Ayo pulang Nona, sudah mau marib. Jangan mengurusi orang lain.”
Hans segera bangkit dan Anita pun mengikutinya.Ia hanya berfikir bagaimana cara meledek Julian.
__ADS_1