
Anita terbangun dan kaget saat melihat jam dinding sudah jam empat lebih. Reflek ia mengguncang guncang tubuh Jimmy yang masih polos seperti dirinya.
"Jimmy, Jimmy, bangun. Sudah jam empat lebih, di luar ramai sekali. Jam lima perias sudah datang."
Anita buru buru mengenakan baju tidurnya hingga terjatuh karena tersandung kaki Jimmy.
Jimmy yang kaget segera membuka matanya dan mendapati Anita terjatuh ke bawah tempat tidur. Ia buru buru mengangkat tubuh Anita ke tempat tidur dan mengenakan kimono nya.
"Anita, tidak usah panik begitu. Biar mereka yang menunggu kita. Lihat kan kau sampai jatuh. Kita menikah nggak didandani juga nggak pa pa. Apa yang sakit, apa punggungmu, atau perutmu? Nanti selesai acara biar diperiksa sama Nesya. Kapan terakhir kamu periksa?"
"Beberapa bulan lalu, di klinik dekat sini," jawab Anita.
"Oh my God, jangan sepelekan kehamilan anak kita Anita. Apa selamat di Jogja kau tidak pernah periksa? " tanya Jimmy seraya memegangi punggungnya yang lumayan nyut nyutan.
Pantas saja Jack sampai refleksi, pikir Jimmy.
"Kenapa senyum senyum? Walau pun tidak periksa tetap minum vitamin secara rutin, aku beli banyak di apotek. Aku mau mandi dulu, " Anita bangkit dari duduknya seraya memegangi pinggangnya.
"Yakin nggak pa pa, Sayang?" tanya Jimmy.
"Bokongku sakit sedikit, sama pinggangku. Tapi masih bisa jalan koq. "
Anita mengambil handuk bersih dari almarinya lalu masuk ke kamar mandi.
Jimmy segera mengangkat telponnya.
"Yuse, kalau periasnya datang suruh tunggu ya. Nanti jam enam saja mulai, biar Nona mandi dan sarapan dulu. Bilang sama Arman untuk membuatkan kami sarapan, suruh naikkan ke atas, di meja makan atas. "
Jimmy menutup telponnya dan kembali menghubungi Hans.
"Acaranya jadi jam berapa Hans? "tanya Jimmy.
" Jam sembilan penghulu datang Tuan, sekitar setengah sepuluh dimulai," jawab Hans.
"Apa semua tamu dari jauh sudah datang? Tolong layani mereka dengan baik ya? Aku masih belum bisa menemui mereka, aku urus mempelai wanita dulu. Aku bisa dandan cepet, gak pake makeup juga ganteng ganteng aja, " kata Jimmy.
Hans tertawa ngakak, terdengar suara protes dari Yuki dan Jack.
"Tuan dan Nyonya Besar sudah ada di sini Tuan. Tuan Jonathan dan Tuan Daren juga ada di sini. Mereka bergantian menanyakan Tuan. Tadi Tuan Jona mau naik ke atas tapi saya larang," Jawab Hans.
"Jangan bolehin ke atas Hans, kamu bilang saja aku masih mandiin mempelai.. Aduh!" Jimmy mematikan telponnya karena Anita menjewer telinganya.
"Ngomong sama siapa? "
"Eh, nggak. Cuma kasih tahu nanti mulai riasnya jam enam, " jawab Jimmy.
__ADS_1
"Cepatlah mandi, akan kubuatkan sarapan untukmu, kata Anita yang sudah berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya.
" Aku sudah meminta Arman,kamu tenang saja, " kata Jimmy seraya mengambil handuk dan pergi mandi.
Anita terkejut saat melihat di kaca ada kissmark di leher dan dada bagian atasnya.
Ia buru buru mencari cari kotak P3K di laci nakas, di laci meja riasnya atau di mana pun tapi tidak menemukannya.
"Gimana nih, malu kalau sampai ada yang lihat, " gumamnya.
Setelah menunaikan shalat,Anita segera menghampiri interkom yang ada di meja kamarnya dan menelepon pos security untuk disambungkan ke kamar Siska.
"Halo, " terdengar suara Siska.
"Sis, punya plester nggak? Kamu biasanya ke mana mana bawa kotak P3K? " tanya Anita.
"Lah, kamu ada di rumah koq malah gak ada,. "
"Cepetan bawa ke sini, ada sih di bawah, aku malu ke bawah banyak orang, " rengek Anita.
"Hadeh, iya iya." Siska menutup telponnya.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu, Anita memintanya masuk.
"Semalam aku diserang dan tidak bisa melawan, nih," kata Anita seraya menunjuk kissmark yang dibuat Jimmy.
Anita tertawa melihat Siska bengong.
"Ini pasti gara gara sauna kemarin, Jimmy main nyosor aja."
"Busset dah, kamu ngomongin beginian ke jomblowati. Aku sampe merinding, gemeter nih," kata Siska.
Anita terkikik melihat sahabatnya itu menjadi canggung.
"Sayang, ambilkan pakaianku di lemari," terdengar suara Jimmy dari kamar mandi.
"Udah, udah aku pergi," Siska langsung pergi, kabur dari kamar Anita.
Jimmy ke luar dari kamar mandi sambil tertawa kecil melihat Siska lari mendengar suaranya.
"Lihat ini, harus diplester. Malu dilihat perias, kenapa tidak sabar nunggu besok? " marah Anita.
"Sini biar kutempelkan.Mumpung mau ya langsung saja, kalau nunggu besok belum tentu mau. Pasti banyak alasan, capek lah, berhalangan lah, " kata Jimmy seraya menempelka plester pada kissmark yang semalam ia buat.
"Cepat berpakaian, aku tunggu di meja makan ya," kata Anita seraya mengoleskan sedikit bedak dan lipglos di bibirnya. Setelah itu Anita ke luar dari kamarnya.
__ADS_1
Tapi ia hanya berdiri mematung di depan pintu karena sudah banyak orang di meja makan dan Arman sibuk melayani mereka.
Ia menjadi kikuk karena semua mata langsung tertuju ke arahnya. Ia hanya mengenali Julian Anggoro dan Ariana orang tuanya Jimmy. Wanita berdarah Italia itu segera berdiri dan mendekati Anita. Dengan lembut ia memeluk Anita.
"I wanna make apologise, Anita. For every bad thing you had got before (Aku meminta maaf Anita, atas hal buruk yang kau alami sebelumnya)."
"I'ts OK, Mam. I'm OK now(Tidak apa Nyonya, saya baik baik saja sekarang), " kata Anita.
"Panggil saya Mommy. Oh my got, " Ariana mengelus perut Anita yang sudah cukup besar. Raut muka bahagia terpancar dari wajahnya.
"Mom."
Jimmy memeluk ibunya saat keluar dari kamar.
"Good, badanmu terlihat lebih segar dan tidak sekurus dulu, " kata Ariana.
"Naik empat kilo Mom. Sayang, ayo sarapan. Keburu siang."
Jimmy membawa Anita ke meja makan memperkenalkan Jonathan kakaknya dan Daren ayahnya Lucas. Kakak pertama Jack itu sangat lancar berbahasa Indonesia. Maklumlah dia lama di Indonesia.
Anita berasa basi sedikit dengan mereka, Jimmy melemparkan buah pisang ke arah Jona yang terlalu serius memperhatikan istrinya.
"Jim, apaan sih? Man, mana nasi liwet yang aku pesan kemarin? " tanya Anita.
Arman mengambilkan pesanan Anita, Nasi liwet yang dibungkus daun pisang dan dimasak dengan kaldu jamur. Anita mengambilkan semur telur dan bola daging yang sudah dihaluskan untuk Jimmy.
Setelah itu ia juga mengambil untuk dirinya sendiri. Ariana dan Tuan Besar Anggoro saling pandang, begitu juga dengan Jonathan karena Jimmy memakan makanan yang paling dibencinya dari kecil.
"Kak Jo ngiler tuh,kalau pingin ambil aja. Enak, makanan ini tidak ada di Amerika," Jimmy terkikik melihat Jonathan bengong melihatnya makan.
"Saya ambilkan ya, " kata Anita.
"E eh, I iya, " jawab Jonathan tergagap.
"Jo, istrinya Jimmy itu manusia bukan hantu. Kenapa sampe segitunya sih? Biasanya sama klien wanita juga nggak tahu malu, " kata Julian Anggoro.
"Dad, jangan buka aib. Eh, beneran enak Dad, makanya Jimmy anteng aja makan," kata Jonathan.
Akhirnya semua yang ada di situ mencicipi makan Jimmy dan ludes tak bersisa.
"Jim itu periasnya sudah datang, aku temui dulu ya," kata Anita.
"Ya, nanti aku nyusul, " jawab Jimmy. Anita berpamitan pada yang lain dan pergi ke kamar yang dipakai untuk merias dirinya.
H
__ADS_1