
Jimmy,Anita dan ayahnya akhirnya mendarat di landasan milik keluarga Mc.Clear sekitar jam delapan malam waktu setempat.Jack dan Jose ayahnya menjemput mereka dengan mobil. Sekitar tigapuluh menit mereka sampai di kediaman Mc.Clear dan disambut oleh seluruh keluarga dengan hangat.Julian Anggoro sangat antusias memperkenalkan menantunya kepada keluarga Mc.Clair yang kebetulan berkumpul semua karena lusa adalah acara resepsi pernikahan Jack.
Di situ lah Anita tahu bahwa Jack punya dua kakak laki laki dan satu kakak perempuan.Daren ayah Lucas adalah putra pertama di keluarga itu.Rupanya Jack juga bukan dari keluarga biasa, karena ayahnya juga seorang pengusaha sukses.Entah kenapa dia lebih suka ikut Jimmy ke Indonesia daripada mengurus bisnis keluarganya.
“Sayang, kenapa diam saja?Makanlah, kau pasti lapar kan? Ini burger dibeli Jack di tempat orang orang muslim sini beli makanan.Ini halal,makanlah.Setelah ini kita istirahat,” kata Jimmy.
“Iya, telingaku belum bisa mendengar normal.Rasanya tidak enak,” jawab Anita.
“Iya, besok kita pulang ke rumah Daddy. Hari ini kita menginap di sini, mungkin Mom besok baru sampai.Akan kukenalkan pada keluarganya Jonathan. Kalau istri kak Jo ngomong aneh aneh nggak usah diladeni,anggap orang gila,” kata Jimmy.
“Jangan begitu,bagaimana pun dia istri kakakmu.Sebenarnya aku agak penasaran nyebelinnya seperti apa sih,” kata Anita.
“Jim, kalau sudah selesai akan kuantar ke kamarmu,” kata Lucas yang tiba tiba muncul.
“Nggak makan Lo?” tanya Jimmy.
“Sudah, makan sambil diceramahi sama Mak gue.Nggak boleh kembali ke Indonesia katanya,” jawab Lucas.
“Nggak pa pa, habis dari sini aku mau ke Eropa.Rony dan Bastian cukup bisa diandalkan,” jawab Jimmy.
“Sialan, jadi gua nggak dibutuhkan lagi nih?” umpat Lucas.
“Aku selalu butuh kamu koq, kamu libur aja dulu temenin mak sama bapak.Kamu nggak pernah pulang kan sejak datang ke Indonesia? Kakek Jose juga pasti ingin kamu di rumah sebentar.Nanti bakal ada projek besar setelah semua fix,” jawab Jimmy.
“Projeck apa?”
“Kau yang tangani pusat pengendali satelit setelah punyaku diluncurkan. Sekarang gunakan waktu liburmu,OK?”
Lucas tersenyum karena Jimmy tidak bermaksud memaksanya untuk tinggal.
Lucas mengantarkan Jimmy dan Anita ke kamarnya.
“Jim,Jack dari keluarga seperti ini. Kenapa dia mau bekerja padamu yang gajinya mungkin tidak sebanding kalau dia mengurus perusahaan ayahnya?” tanya Anita saat keduanya rebahan untuk beristirahat.
“Itu janji Jack dan ayahnya karena diselamatkan oleh Daddy waktu itu.Padahal kami sudah katakan kalau tidak perlu membalas budi karena itu hanya kebetulan.Tapi aku juga memberi imbalan yang tidak kecil,Anita.Kuberikan dia dua puluh persen sahamku di perusahaan yang dikelola kak Jo sekarang.Daren sepuluh persen dan Kak Jo tigapuluh persen.Aku hanya pegang tigapuluh persen saja, yang sepuluh dijual ke publik.Mungkin perusahaan tidak sepesat waktu kupegang, tapi lumayan lah,aku tidak tertarik lagi dengan EXL kecuali kau bersedia menetap di sini bersamaku,” jawab Jimmy.
“Aku belum ingin tinggal di luar negri, di sini dingin sekali.Ini belum musim dingin sudah seperti ini.”
Jimmy tertawa melihat istrinya yang biasanya di rumah ribut AC kurang dingin, sekarang merasa kedinginan.
“Ini memang sudah masuk musim gugur,Sayang.Suhunya akan terus turun sampai musim dingin.Aku juga bingung kenapa Jack dadakan begini.Kenapa tidak musim panas saja kalau menikah,” gerutu Jimmy.
“Jangan jangan Laura sudah hamil, mungkin karena jarang ketemu makanya terlalu ngegas waktu ketemu.”
Anita terkikik dan Jimmy mencium bibir merah manisnya.
“Akan kunyalakan penghangat,tidurlah.”
Jimmy beranjak untuk menyalakan penghangat ruangan kemudian kembali untuk memeluk Anita.
Jimmy menegakkan tubuhnya karena istrinya terus saja gelisah walau pun matanya terpejam.
“Apa ingin kubuatkan susu hangat?” tanya Jimmy.
Anita membuka matanya.
“Nggak usah Jim.”
“Jack sudah menyiapkan makanan dan bahan bahan makanan halal jadi kau jangan khawatir.Alat alatnya juga tersendiri, ada dapur khusus miliknya di rumah ini dan tidak ada yang akan memakainya selain dia dan aku kalau datang ke sini.Hanya Jack yang muslim di keluarganya,” kata Jimmy.
“Oh, baiklah.Aku ikut ke dapur ya,” kata Anita.
__ADS_1
Akhirnya Jimmy dan Anita pergi ke dapur milik Jack.
Gila gede banget, gumam Anita.Alatnya begitu lengkap dari kompor gas sampai kompor listrik,alat masak air listrik, dua kulkas besar dan satu frezer untuk menyimpan ikan dan daging.Microwave dan masih banyak lagi.Semuanya merk terkenal seperti yang diiklankan di TV TV.
“Hei, kenapa melihatnya sampai seperti itu?”
Anita kaget saat mendengar suara Jack di belakangnya.
“Haduh, bikin kaget saja,” kata Anita.
Jack dan Jimmy tertawa.
“Dia lagi mengagumi dapurmu kenapa bisa seperti sebuah rumah,” kata Jimmy.
Jack tertawa seraya memberikan sepiring cookies kepada Anita.
“Tinggal kasih kasur dipojokan.Jack are you nervous(apa kau gugup)?” tanya Anita.
“Not really( tidak terlalu),” jawab Jack.
“Apa kau undang juga teman kuliah kita?” tanya Jimmy.
“Sure, no exception(tentu,tak terkecuali) ,proffesor kita juga,Business partner, teman teman Daddy juga, allmost one thousan (hampir seribu),” jawab Jack.
“Apa kau sudah bertemu Rain?”
“Sudah,aku tadi menelponnya.Aku bilang kau datang bersama istrimu. Dia masih sibuk, mungkin dia bisa menemuimu lusa di pestaku.”
“Dih,awas saja kalau nyari nyari aku,” kesal Jimmy.
“Anita, take this,” kata Jack seraya menyerahkan sebuah paperbag yang lumayan besar.
“Mantel, beberapa hari yang lalu aku dan Laura pergi cari buat kamu.Sudah disesuaikan dengan ukuranmu.Sorry, aku minta Yuki ukur baju terbarumu, aku tambah satu ukuran.Laura sangat antisuas memilihkan model terbaru,” kata Jack.
“Antusias, antisuas.Antisaus,” kata Jimmy.Jack terkikik mendengar protes Jimmy.
“Baiklah, akan kucoba nanti.Say thanks to her from me ( sampaikan terimakasih dariku ).Ayo tidur, aku mulai mengantuk,” kata Anita.
Jimmy membawa Anita ke kamar, sementara Jack memastikan alat alat sudah mati dan mematikan lampu.☆☆☆
Keesokan harinya,sopir Jonathan menjemput mereka untuk pulang ke rumah Julian Anggoro yang ada di kota itu.Anita tidak cukup kaget kalau dijemput dengan mobil Limo yang cukup mewah.Karena Jimmy dan ayahnya memang suka membeli kendaraan semacam itu.
Anita tidak bisa menahan diri untuk melihat sekelilingnya saat sampai di rumah sangat besar.Bahkan lebih besar dari rumah Jack yang menurutnya itu rumah yang bisa dihuni orang sekampung.
Sampai di tempat itu ia disambut oleh beberapa pelayan dan seorang pengurus rumah, ternyata mereka semua orang Indonesia.
“Selamat datang Tuan Besar,Tuan Jimmy,Nyonya Jimmy,” kata pengurus rumah.
“Terima kasih Lan.Anita, ini Marlan pengurus rumah di sini, dia asal dari Malang.Keluarganya turun temurun kerja di keluarga kita dari kakek buyutnya, terakhir dia,” kata Jimmy.
Anita tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Salam kenal Pak, saya Anita.”
“Iya Nyonya, silahkan cari saya kalau butuh sesuatu.
“Lan, apa kau mengurus rumah kacaku dengan baik?” tanya Julian Anggoro seraya pergi dari tempat itu dan Marlan mengikutinya.
“Mbak,Mas.Tolong koper kami dibawa ke kamar saya ya.Oh ya, apa Tuan Jo sudah pergi kerja?” tanya Jimmy.
“Iya Tuan,Tuan Jonathan baru saja pergi,” jawab pelayan laki laki.
__ADS_1
“Nyonya ke mana?” tanya Jimmy lagi.
“Nyonya belum bangun Tuan,Tuan dan Nona Nona kecil sudah berangkat ke sekolah,” jawabnya.
“Ya sudah.Ayo kutunjukkan sesuatu, apa kau kedinginan Sayang?” tanya Jimmy.
“Tidak terlalu, di dalam rumah lebih hangat.Lagipula aku pakai baju lengan panjang dan kaus kaki,” jawab Anita.
“Baiklah,ayo.”
Jimmy menggandeng tangan istrinya dan membawanya ke lantai tiga rumah itu. Ada beberapa kamar dan di depannya ada kolam renang yang atapnya bisa dibuka.Ada balkon yang sangat luas yah lebih mirip halaman rumah dan ada banyak macam bunga di sana.
“Kau suka?” tanya Jimmy.
“Mmm, iya.Sangat nyaman duduk di sini,” jawab Anita.
“Ini adalah markasku saat berkumpul dengan Jack,Rain,Romeo,Fortis dan beberapa lagi.Ayo.”
Jimmy membuka pintu kamar dengan menekan kode kunci digital di layar monitor kecil.Pintu terbukan dan ia memasukkan sidik jarinya untuk membuka pintu ke dua.
“Apa ini Jim? Kenapa pintunya berlapis? Apa ini penjara?” tanya Anita.
Pintu terbuka dan menutup secara otomatis.Ruangan yang tidak begitu luas tapi hampir semua sisi luar jendela kaca.
Ada beberapa rak buku dan hampir semuanya sudah lecek.Jimmy mengambilnya satu dan memberikannya kepada Anita.
“Lah, ini buku novelku kenapa bisa di sini?”
Anita segera memeriksa buku buku yang lain, ternyata memang semua miliknya.
“Aku selalu ada di sini saat sangat ingin pulang dan mencarimu.Ini sebagian bukumu yang kutukar dengan buku baru saat dipinjam anak kelas lain dan kupinjam juga.Karena yang kulihat adalah tulisan tanganmu yang ada di situ,” kata Jimmy.
Anita tersenyum karena karena ia dulu hobi nulis atau gambar sesuatu di halaman kosong atau yang tersisa dari buku buku novelnya.
Memang setelah dipinjam sana sini ia tidak melihat lagi buku buku itu dan langsung menyimpannya.
“Jim, apa kau dulu segitu sukanya padaku sampai melakukan hal hal seperti ini?” tanya Anita.
“Iya, bahkan bisa dibilang tergila gila padamu. Aku tidak bisa sehari saja tidak melihatmu. Bahkan aku sampai maksa teman kelas tukar tempat duduk di dekat jendela hanya untuk melihatmu saat ke luar kelas atau sedang olahraga. Aris yang duduk di sebelahku yang sering kena lempar penghapus papan sama pak Sumantri gara gara aku lihat ke luar terus saat pelajaran Biologi.”
Jimmy tertawa mengingat masa masa itu.
“Benjol dong.”
“Bukan yang kayu,penghapus papan dari kain yang bulat itu.Dia melempar Aris supaya menarik telingaku saat aku terus melihat ke luar.”
“Lho kenapa tidak melemparmu?” tanya Anita.
“Sebab nilaiku selalu seratus,biar pun tidak memperhatikan pelajaran juga bukan masalah besar,” jawab Jimmy.
“Dasar, kasihan dong Aris.”
“Aku sering traktir dia,it's OK.Dia temanku yang paling dekat selain Baruna dan Douglas. Kadang Pak Sumantri baru siap siap lempar dia sudah reflek aja narik bajuku atau rambutku,” kata Jimmy.
Anita tertawa mendengar cerita Jimmy. Kalau saja dulu Jimmy lebih tegas dan berani, tentu dirinya tidak akan salah faham dan ngotot pindah sekolah.
Jimmy memeluk dan mencium Anita saat melihatnya melamun.
“Anita, terimakasih sudah bersedia bersamaku walau pun diriku bukan pria yang peka dan jauh dari sempurna,” kata Jimmy.
Anita tidak menjawab, hanya membalas pelukan dan ciuman suaminya.
__ADS_1