
Anita pergi ke sebuah perumahan elit untuk menemui sahabat SMP nya yang beberapa waktu lalu kembali dari Jakarta dan memutuskan untuk kembali menetap di kota asal mereka.Ia adalah seorang pengacara sekaligus notaris.Sedangkan suaminya adalah seorang developer properti.
Lenny tersenyum lebar dan buru buru membukakan pintu pagar untuk sahabatnya itu. Rupanya ia memang sengaja menunggu Anita datang.
"Len," sapa Anita seraya memeluk Lenny.
"Masuklah, kita ngobrol di dalam. Aji tidak di rumah, dia pulang malam hari ini, " kata Lenny seraya membawa Anita ke ruang keluarga.
Lenny melihat wajah murung Anita, walau tidak bertemu beberapa tahun, tapi Lenny dan Anita masih sering berkomunikasi dan saling curhat. Mereka saling mengetahui nomor dari group chat kelas yang beberapa waktu lalu Anita dapatkan. Dan akhir akhir ini mereka lebih intens berkomunikasi.
Lenny adalah sahabat Anita dan satu kelas waktu SMP. Dan secara kebetulan ia kembali satu sekolah saat kelas tiga SMA, Lenny pindahan dari Surabaya karena suatu hal. Walau pun tidak begitu akrab dengan Fara, tapi Lenny tetap pergi dengan Anita saat ingin hangout bareng.
"Ta, ada apa? Kau habis nangis? Padahal kemarin kau begitu antusias dan bahagia. Bagaimana kabarnya Jimmy? Kapan kapan aku boleh ke rumahmu kan?" tanya Lenny hati hati.
"Len, apa Aji pernah selingkuh? " tanya Anita yang sukses membuat Lenny mengernyitkan dahinya.
"Ada apa ini? "
"Jawab saja, " kata Anita.
"Tidak, tentu saja. Aji itu tipe orang yang sulit dekat dengan wanita yang bukan muhrimnya. Dia juga tipe orang yang lurus lurus saja. Ada apa sih? Ceritakan padaku Ta, apa kau tadi habis nangis? " paksa Lenny.
Akhirnya Anita menceritakan semua yang tadi ia lihat di kantor Jimmy.
"Yaa ampun Ta, aku tidak percaya Jimmy seperti itu. Dari dulu dia begitu memujamu walau pun menurutku dia agak pengecut sih. Hanya berani diam diam mengejarmu. "
"Manusia bisa berubah Len, dia malah tertawa saat wanita itu mengataiku karung beras, " kata Anita.
"Ya, benar kali Ta, Orang hamil ya pasti begitu, apalagi kamu hamil anak kembar, " kekeh Lenny.
"Asem, " kata Anita kesal.
"Dia belum pernah aja, kalau suatu saat dia hamil, bisa jadi bukan lagi karung beras, tapi kapal container. "
Lenny dan Anita tertawa bersama.
"Len, aku kepikiran tadi di jalan. Aku mau minta tolong perihal masalah hukum. Bantu aku ya,aku ingin mengalihkan saham milikku kepada Jimmy,aku ingin mengembalikan pemberian Jimmy," kata Anita.
"Ta,kamu masih dalam keadaan emosi. Lagi pula itu belum bisa membuktikan kalau Jimmy selingkuh.Apa kau tidak menyesal nanti,saham saham itu bisa kau alihkan atas nama anak anakmu nanti," nasehat Lenny.
"Kalau terbukti Jimmy selingkuh, aku tidak mau punya sangkut paut lagi dengannya Len.Jadi aku ingin mempersiapkannya dari sekarang.Aku pastikan akan pergi darinya kalau sampai itu terjadi," jawab Anita.
"Wait,wait.Kau harus bicara dulu dengan Jimmy.Jangan menyimpulkan berdasarkan apa yang kau lihat Anita.Kau harus punya bukti yang kuat baru bisa melakukan penuntutan secara hukum," kata Lenny.
"Tentu aku akan bicarakan dengan Jimmy. Tapi Jimmy setuju atau tidak,aku akan tetap mengembalikan yang bukan dari hasil jerih payahku.Tolong buatkan saja surat pengalihan saham itu, pembayarannya tinggal kau katakan berapa Len,aku ingin kau jadi pengacaraku dalam semua masalah hukum yang akan kuhadapi ke depan," kata Anita.
__ADS_1
"Ta,kita ini teman.Bukan masalah uang yang kubicarakan."
"Aku tahu," sergah Anita.
Keduanya mengobrol banyak hal, mengenai teman lama dan bisnis bisnis baru yang digeluti Lenny dan suaminya.
"Sudah sore Len,aku mau sholat magrib dulu.Habis ini aku mau menemui dokter kandungan,aku ada janji mau periksa, sekarang satu minggu sekali aku harus periksa," kata Anita.
"OK,aku antar sampai sana ya.Tapi aku tidak bisa nunggui,aku harus jemput anak anak di rumah neneknya," kata Lenny.
"Tidak usah Len,aku pesan taksi online saja.Oh ya,mengenai rumah di Griya Nusa, aku jadi membelinya.Akan segera kusetor DPnya ke rekening suamimu.Setelah akta jual beli selesai,akan kusetor seluruhnya. Aku suka rumah itu," kata Anita.
"Ta..."
"Len,aku tahu apa yang kau pikirkan. Sudahlah,aku akan tinggal di sana kalau sedang bosan."
Akhirnya Lenny hanya mengiyakan.
Setelah sholat magrib Anita pergi menemui dokter Nesya di tempat prakteknya. Sebenarnya klinik itu buka jam tujuh,tapi Anita membuat janji jam enam sebelum dokter Nesya memeriksa pasien lain.
Anita sampai di depan pintu ruang praktek dokter Nesya yang sedikit terbuka.Asisten nya sedang sibuk mendaftar pasien lain dan mempersilahkan dirinya langsung menemui dokter Nesya.Tapi Anita hanya berdiri saja di depan pintu karena dokter Nesya sedang berbicara dengan seseorang di telpon dan Anita mengenal suara siapa yang sedang berbicara dengannya,karena dokter Nesya mengeraskan suaranya.
"Beneran Sya,aku tidak tega menolak. Apa tidak masalah melakukan itu setiap hari? Aku khawatir kenapa napa sama istri dan anakku.Terus terang saja aku capek banget pulang kerja," kata suara pria itu.
"Kau bisa kasih pengertian kan Jim,masa komunikasi sama istri saja sulit? Memang tidak boleh terlalu sering.Tapi itu karena hormon,istrimu mengandung anak laki laki, memang cenderung begitu."
Telpon itu pun terputus.
Dokter Nesya meletakkan ponselnya,ia merenggangkan tubuhnya dan sangat terkejut ketika menghadap ke pintu karena melihat Anita berdiri diam di sana.
"Nona Muda Anggoro,apakah sudah lama?" tanyanya canggung.
"Baru saja Dokter," Anita melangkah masuk dan duduk berhadapan dengan dokter Nesya memasang wajah datar seolah tidak mendengar apa apa.
"Silahkan katakan keluhan keluhan Anda selama seminggu ini Nona," kata dokter Nesya tampak agak canggung.
"Tidak ada yang serius Dokter,hanya kadang sesak nafas saat tidur di malam hari, dan agak sulit tidur," jawab Anita.
"Baiklah,silahkan berbaring.Kita lakukan USG dulu ya," kata dokter Nesya.
Anita melakukan apa yang diminta dokter Nesya tanpa banyak tanya seperti biasanya. Ia hanya mendengarkan saja apa yang dijelaskan dan disarankan Dokter Nesya tanpa bertanya atau menyanggah.Ia hanya mengangguk dan mengiyakan dan langsung pergi setelah pemeriksaan selesai.
Anita menyetop taksi dan pergi ke Mall terbesar di kota itu.Ia menghabiskan waktu untuk membeli pakaian untuk bayinya. Ponsel di tasnya berbunyi,ia melihat sebentar,ternyata beberapa pesan dan panggilan dari Jimmy.Ia mengaktivkan mode silent dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya.
Entah kenapa malam ini ia malas sekali pulang.Hari ini terasa sangat berat untuk Anita.Tanpa sadar bulir air mata menetes dari ujung matanya.
__ADS_1
Tiba tiba saja bayi dalam perutnya menendang keras hingga membuatnya meringis.Ia tersenyum karena mungkin bayinya protes karena ia mengabaikan rasa lapar yang dari tadi ia rasakan.
Anita mengusap perutnya dan bergegas menuju kasir.Setelah membayar ia membeli burger dan kebab juga segelas cola.Ia memilih duduk di taman kecil milik Mall itu.Ia meletakkan barang belanjaanya dan menikmati burger dan colanya.
Makanan yang sudah lama sekali tidak pernah ia makan.Rasanya sangat enak, ia kembali mengusap perutnya saat bayinya bergerak lagi.Tas selempangnya bergetar terus di atas meja.Ia memang sengaja membiarkan ponselnya dari tadi.
Anita mengambil ponselnya untuk melihat waktu.Sudah pukul sembilan malam. Hampir mencapai seratus panggilan tak terjawab dari Jimmy,ada puluhan pesan yang isinya hampir sama,kamu ada di mana.Bagaimana pun juga dia harus mengabari Jimmy.
"Aku baik baik saja,istirahatlah.Aku masih ada urusan,jangan menungguku," ketik Anita.
Beberapa saat kemudian Jimmy menelpon dengan video call,Anita segera merijecknya.
Anita meletakkan ponselnya di meja dan menyantap kebab miliknya karena masih merasa lapar.Ia biarkan saja Jimmy terus menelpon.
Anita berjengit kaget saat seseorang duduk di kursi sampingnya dan merampas kebab miliknya yang hanya tinggal setengah.
"Aku juga lapar," katanya seraya memakan kebab milik Anita.
Anita tidak menyahuti dan hanya meminum colanya yang lalu diambil paksa juga saat sedotan masih di mulutnya.
"Kenapa tidak menjawab telponku,ayo pulang," kata Jimmy seraya mengambil beberapa paperbag yang ada di meja.
"Aku masih malas pulang.Suamiku biasanya pulang hampir pagi dan berangkat pagi sekali,jadi aku ada di rumah ataunpun tidak itu sama saja," kata Anita.
"Sayang,maafkan aku.Aku janji akan segera menyelesaikannya."
"Jimmy,aku tidak mau mempermasalahkan lagi.Lakukan saja apa yang kau ingin lakukan.Kau bebas melakukan apa saja,tidak perlu bertanya dan minta pendapatku."
"Anita..Akan kujelaskan semua pada saatnya."
"Ya,terserah kau saja.Sekarang pulang dan istirahatlah.Aku mau pulang ke rumah lamaku.Aku hanya sedikit kangen tidur di sana," kata Anita.
"Ayo,aku juga akan tidur di sana bersamamu," kata Jimmy.
"Aku ingin sendiri,Jimmy. Kenapa kau susah sekali mengerti.Aku sudah memberikan toleransi untukmu,untuk melakukan apa saja dengan siapa saja. Sekarang biarkan aku melakukan apa pun yang aku inginkan,bisa kan," kata Anita.
"Tidak,tidak boleh.Kau tidak boleh ke mana mana sendiri.Ayo kita pulang,aku janji akan pulang lebih awal dan menemanimu di rumah.Akan kukerjakan di rumah yang belum selesai ya," mohon Jimmy.
Anita terdiam beberapa lama, dalam hati ia enggan pulang bersama Jimmy.
"Atau kita menginap di hotel saja? " tanya Jimmy.
"Baiklah ayo pulang, " kata Anita seraya mengemasi barang barangnya.
Jimmy segera mengambil barang barang itu dari tangan Anita dan menggandeng tangan istrinya itu.
__ADS_1
Jimmy merasa tenang setelah berhasil membujuk Anita untuk pulang. ***