
Sementara Jimmy sibuk dengan Hans di rumah sebelah,Anita mengusap perutnya yang terasa sedikit kaku.Kakinya juga sedikit bengkak.Akhirnya ia jalan jalan keliling rumah. Menyirami aggreknya. Entah siapa yang menambah koleksinya. Macam macam anggrek membuat hatinya merasa senang.Saat berkunjung ke rumah sebelah ia mendengar suara Jimmy yang sedang telpon.
"Baiklah,lusa kita ke Singaphore, kau boleh ikut karena perusahaanmu juga diperlukan hadir," kata Jimmy lalu memutus telponnya.
Ia sedikit kaget saat melihat ke belakangnya, ada istrinya yang berdiri diam menatapnya.
Jimmy segera mendekati dan menggenggam tangannya.Dengan lembut ia usap perutnya dan mencium pipinya.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Jimmy.
Anita menggeleng pelan.
"Aku hanya jalan jalan karena tadi perutku kaku dan nafasku sedikit sesak," jawab Anita.
"Nanti kupanggil Nesya datang," kata Jimmy seraya membawa Anita masuk ke ruangannya.Hans menyapanya ramah.
"Tadi Mrs.Laura nitip anggrek buat Nyonya.Sudah saya taruh di halaman samping," katanya.
Anita tersenyum dan mengirim pesan kepada Laura untuk mngucapkan terimakasih.
Anita tersenyum senang saat Laura juga mengabarinya bahwa ia juga sedang mengandung.Ia senang karena putranya akan punya teman bermain satu lagi.
"Ada apa ?" tanya Jimmy saat wajah Anita jadi sumringah.
"Kita akan punya ponakan,Laura sedang mengandung.Kalian beri selamat pada Jackman."
"Hans, kamu kirim hadiah dan ucapan selamat untuk Laura dan Jack.Kirim ke rumah mereka," kata Jimmy seraya menyerahkan catatan barang apa saja yang dihadiahkan.
"Baik Tuan," kata Hans seraya mengangkat telpon menghubungi anak buahnya.
Jimmy segera membawa Anita pulang, rasa penat membuat Jimmy membaringkan tubuhnya di tempat tidur saat sampai di dalam kamar.
"Sayang,lusa aku pergi ke Singaphore ketemu sama investor.Tidak lama, hanya tiga hari.Aku akan pergi bersama Hans dan Jack.Aku sangat menginginkan proyek ini. Karena nilainya triliunan, aku butuh investor lain. Mereka memintaku datang ke singaphore untuk membicarakan proyek ini," kata Jimmy.
"Apa tidak bisa orang lain saja yang pergi? Kenapa harus kau sendiri?" tanya Anita kurang senang.
"Mereka mau berinvestasi kalau aku datang,selain denganku mereka tidak mau percaya,Anita.Aku sangat menginginkan proyek ini,jadi tolong kuminta pengertianmu.Hanya tiga hari,akan kuminta Irene di sini menemanimu,ya," mohon Jimmy.
"Apa Clarissa juga pergi?" tanya Anita.
"Dia mewakili Barata Group, ada beberapa perusahaan lain juga ikut.Aku tidak punya perasaan apa apa selain kerjasama secara profesional padanya.Anita,kau jangan cemas. Aku lebih memilih kehilangan banyak uang daripada menikahi wanita lain.Kau adalah satu satunya dalam hidupku," kata Jimmy seraya menarik Anita dalam pelukannya.
"Aku tidak pernah meminta apa apa darimu,aku juga tidak pernah menuntut materi darimu."
"Aku tahu,tapi kali ini entah kenapa aku sangat ingin berhasil mencapainya.Aku.."
"Apa kau tetap akan pergi kalau aku melarangnya? Apa kau tetap akan pergi kalau aku memintamu tidak pergi?" tanya Anita.
Jimmy diam tak menjawab,perlahan Anita melepaskan pelukan Jimmy.
Ia pergi ke teras belakang untuk menyegarkan pikirannya.
Dalam hati ia sangat kecewa karena Jimmy lebih memilih proyek itu daripada dirinya yang sedang hamil tua.
Anita menyeka air matanya yang luruh begitu saja.
Ia kembali memijit punggungnya yang terasa kaku dan mengusap perutnya saat bayinya menendang nendang dalam perutnya.
"Jangan nakal ya,Sayang. Mami akan telpon Kakek sama Nenek datang kalau Daddy tidak ada," gumam Anita seraya terus mengusap perutnya.
Jimmy memeluk istrinya dari belakang dan membantu menenangkan calon bayi mereka yang terus menendang nendang perut ibunya.
"Baiklah,aku tidak akan pergi," kata Jimmy seraya terus mengusap perut istrinya.
Memang harus Anita akui, saat janin di perutnya tidak tenang, hanya Jimmy yang bisa menenangkannya.
Mereka begitu sensitif saat suasana hati ibunya tidak tenang atau dilanda kecemasan.
Anita hanya diam tidak merespon perkataan Jimmy,entah kenapa perasaannya masih saja tidak tenang.
Jimmy mengurai pelukannya saat Bi Rosmini datang dengan membawa satu teko kaca jahe hangat dan dua toples cemilan untuk kedua majikannya itu.
__ADS_1
"Makasih Bi, pasti enak kripik singkongnya. Dari kemarin aku ngiler pingin ini.Bilang makasih sama Pak Darman ya Bi," kata Anita seraya mengambil satu toples yang berisi kripik bumbu pedas manis.
Jimmy pun ikut memakannya.
"Enak,beli di mana?"
"Di depan taman luar gerbang sana, " jawab Anita.
"Tar kalau ke luar aku belikan deh, biasanya rasanya macam macam kan?"
"Heum," jawab Anita dengan mulutnya yang penuh.
"Mau yang rasa apa?"
"Manis,pedas manis,keju,sapi panggang..."
"Duh banyak amat,kalah rumah makan padang," gerutu Jimmy.
"Mereka yang mau," kata Anita seraya menunjuk perutnya.
Jimmy tersenyum lalu membelai lembut perut istrinya.*****
Pagi pagi sekali Jimmy membangunkan Anita saat istrinya itu baru saja terlelap kembali setelah shalat subuh.
"Jim,ada apa?" tanya Anita seraya menguap mencoba mengumpulkan nyawanya.
"Sayang, sebentar lagi aku harus pergi ke pusat pengendalian satelit.Di sana ada masalah dan aku harus membereskan di sana.Besok aku akan kembali OK? Irene sudah ada di sini bersama beberapa pengawal.Kalau ada apa apa dia pasti segera menghubungiku," kata Jimmy.
Tiba tiba saja perasaannya jadi tidak enak,entah kenapa rasanya ia tidak merelakan Jimmy pergi. Tapi walau pun begitu ia menganggukkan kepalanya dan membantu Jimmy mengemas pakaiannya.
"Katanya besok sudah pulang,kenapa bawa pakaian banyak sekali?" tanya Anita.
"Nggak aku cuma mau pilih saja,ini bawa yang ini saja," jawab Jimmy seraya memasukkan dua stel pakaian casual dan satu stel pakaian resmi.
Setelah sarapan Jimmy pergi bersama Jodi sebagai sopir dan diikuti oleh mobil pengawalnya.
Akhir akhir ini Jimmy memang sering masuk ke majalah bisnis dan beberapa stasiun televisi sebagai narasumber acara acara bisnis,sebagai pengusaha muda yang sangat sukses.
Setelah kepergian Jimmy, Anita mencoba menyibukkan diri dengan menyirami tanaman anggreknya.
Ia mencoba meghilangkan prasangka buruk yang sering kali menghampiri pikirannya.
*****
Dua hari berlalu,hanya tadi pagi Jimmy mengiriminya pesan untuk tidak lupa minum vitamin.
Tapi setelah itu tidak menghubunginya lagi hingga malam hari.Padahal janji Jimmy hari ini akan pulang.
Anita merasa khawatir dan menelponnya berkali kali, namun selalu di luar jangkauan.
Akhirnya ia mencoba menghubungi Lucas, ya Lucas yang mengurusi dan bertanggung jawab atas pusat pengendalian satelit itu.
"Halo," terdengar suara Lucas di seberang sana.
"Lucas, ini Anita.Apa Jimmy masih di situ?" tanya Anita.
"Dia berangkat ke Singaphore bersama Jack dan beberapa orang lagi.I don't know who are they (aku tidak tahu siapa mereka).Faisal dan Moris yang jadi pilotnya.What's wrong(ada apa?)" tanya Lucas.
Anita diam beberapa saat,sampai Lucas memanggil manggilnya.
Anita mengahiri panggilan tanpa menjawab pertanyaan Lucas.Tiba tiba saja dadanya terasa sesak,emosi yang meluap membuat dadanya terasa sakit.
"Kau sudah pandai membohongiku Jimmy, ternyata kau pergi juga,seingin itukah kau bersama wanita itu."
Anita berurai air mata hingga pundaknya terguncang.
Ia segera mengirim chat kepada Lenny untuk datang ke rumahnya.
Pintu kamarnya diketuk,terdengar suara bi Rosmini yang memanggil manggilnya terdengar khawatir.Mungkin karena suara tangisan Anita terdengar sampai ke luar kamar.Susah payah Anita bangun dan membuka pintu.
"Bu Anita,ada apa? Apa perutnya sakit?" tanya Bi Rosmini.
__ADS_1
"Punggungku sedikit sakit Bi,tidak apa Bi, beberapa hari ini memang begini," jawab Anita.
"Akan saya panggilkan Bu Irene di sebelah, biar diantar ke dokter ya Bu," kata Bi Rosmini.
"Nggak usah Bi, dia sibuk menggantikan Hans.Biarkan saja, sekarang sudah nggak sakit koq.Nanti kalau Lenny datang, suruh masuk ya."
"Baik Bu," kata Bi Rosmini.
Anita kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya.Terdengar suara notifikasi di ponselnya, ia segera mengambil ponselnya karena ia pikir dari Lenny.
Ternyata sebuah nomor asing yang mengiriminya beberapa foto Jimmy dan Clarissa sedang berbelanja pakaian di sebuah pusat perbelanjaan. Ada lagi beberapa video pendek di sebuah acara makan malam.Tampak Jimmy yang sedang berbicara dengan beberapa orang asing dan Clarissa duduk menempel di sampingnya dengan gaun malam seksi. Ia tampak diam saja saat Clarissa mengusap ujung mulutnya dengan tisyu saat ada makanan di sana dan disoraki oleh beberapa orang yang ada di sana.
Anita mematikan ponselnya,ia tak mau lagi terganggu dengan hal menyakitkan seperti itu.
"Tiga kali sudah Jimmy, ini yang terakhir. Aku tidak bisa lagi Jimmy,pergilah kalau kau ingin pergi," gumam Anita.
Ia merasaka bayi dalam perutnya menendang dengan hebat hingga ia meringis kesakitan.Ia mencoba memiringkan tubuhnya dan mengelus perutnya untuk menenangkan kedua calon bayinya.
"Jangan membuat mami tambah sedih ya Sayang.Mami sayang kalian, jangan sedih walau pun di dunia hanya ada Mami."
Anita kembali mengelus perutnya,beberapa saat kemudian perut Anita kembali tenang.
Terdengar ketukan pintu,Anita memintanya masuk karena enggan beranjak dari tempat tidurnya.
Lenny masuk dengan membawa tas kerjanya.
"Ada apa Ta? Kenapa memintaku datang secepatnya? Apa kau sakit? Kenapa pucat sekali?" tanya Lenny bertubi tubi.
Duduklah Len,aku hanya kelelahan," kata Anita.
"Baiklah,kau bicara sambil rebahan saja. Masalah apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Lenny.
Anita menyandarkan tubuhnya di headboard dan Lenny membantunya meletakkan bantal di punggungnya.
"Aku ingin bercerai dari Jimmy setelah aku melahirkan.Saat aku mengandung perceraian pasti tidak dikabulkan kan? Apa draft pengalihan saham yang kuminta sudah jadi?" tanya Anita.
"Ta..Kau tidak bisa mengajukan gugatan tanpa sebab yang jelas,juga tanpa bukti yang kuat. Hal seperti itu bisa dilakukan kalau Jimmy punya keinginan yang sama denganmu," kata Lenny.
Anita segera mengambil dan menyalakan ponselnya.Ia segera menunjukkan kepada Lenny mengenai video dan foto foto Jimmy di Singapura.Ternyata ada beberapa lagi video kiriman baru dari nomor itu.
"Ini juga harus dicek keasliannya," kata Lenny.
"Jimmy pergi ke Singaphore tanpa persetujuanku,aku melarangnya pergi tapi dia tetap pergi dengan cara menipuku.Dia bilang pergi ke pusat pengendalian satelit di pinggir kota,tapi kenyataannya saat ini dia di Singapura bersama wanita itu.Tolong lakukan saja Len, dia setuju atau tidak,tanda tangan atau tidak aku tetap akan pergi dari hidupnya," kata Anita.
"Baiklah, akan kulakukan segera.Surat pengalihan saham itu sudah jadi.Tinggal tanda tanganmu dan Jimmy juga pengesahan dari notaris," kata Lenny.
"Ya,terimakasih Len.Sekarang kau boleh pergi, maaf mengganggu waktumu.Terima kasih juga selalu ada untukku," kata Anita.
"Kita ini berteman sejak lama, kenapa masih sungkan.Aku sebenarnya khawatir dengan keadaanmu.Apa besok kuantar ke rumah sakit buat periksa? Lihat wajahmu pucat sekali," kata Lenny.
"Baiklah,besok kita ke dokter.Tapi kliniknya buka sorean."
"Baiklah,aku akan ke sini setelah makan siang. Akan kuminta Bi Rose buatkan susu.Kubuatkan roti isi ya," kata Lenny.
"Aku tidak bisa makan Len,tadi aku sudah coba tapi muntah lagi," tolak Anita.
Lenny segera ke luar dan meminta bi Ros membuatkan bubur daging dan sayuran yang diblender.Ia membantu Rosmini biar cepat.
"Bi, tolong jagain Anita malam ini ya Bi. Perasaanku tidak enak,kalau ada apa apa telpon aku ya,jam berapa pun," kata Lenny.
"Iya Nyonya," jawab Rosmini.
Lenny membawakan bubur itu dan memaksa Anita memakannya walau pun susah.
Setelah makan beberapa sendok, Anita tidak mau lagi karena perutnya mual.
Setelah minum vitaminnya, Anita tertidur dan Lenny menyelimutinya.
Ia meminta Rosmini tidur di kamar Anita karena takut terjadi apa apa.
Malam itu, Irene juga tidur di sofa ruang tengah dan beberapa kali bangun untuk mengecek keadaan Nyonya mudanya itu.
__ADS_1