
Dua tahun kemudian.
Jimmy memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.Ia kembali memeriksa dokumen dokumen yang sudah ditanda tangani.
"Aku tidak mungkin tanda tangan sebelum kuperiksa Hans," kata Jimmy.
"Tapi ini Tuan sudah tanda tangan semua,makanya saya bawa," jawab Hans.
"Dokumen yang kamu serahkan kemarin belum kutanda tangan semua.Kemarin aku tidak kerja seharian menemani Nyonya di rumah mertua.Mana mungkin secara ajaib sudah diteken semua," marah Jimmy.
Hans segera meletakkan berkas berkas di meja Jimmy.
"Ini dokumen tertanggal dua hari yang lalu Tuan, dan semua sudah Tuan..."
Jimmy mengambil dan memeriksa kembali dokumen yang dikembalikan Hans..
"Periksa CCTV," kata Jimmy seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya.
"Password saya tidak bisa masuk Tuan, apa ada yang menggantinya?" tanya Hans.
"Aku tidak melakukan perbaikan sistem sebulan ini, kau jangan main main Hans. Jangan karena mau nikah kamu lupa dengan pekerjaanmu," kesal Jimmy.
"Sungguh Tuan,tadi pagi masih bisa saya pakai," kata Hans.
Akhirnya Jimmy membuka laptopnya,ia memasukkan user nya ke dalam sistem dan ternyata ditolak.Ia juga memasukkan user Administrator, user dengan level tertinggi namun juga ditolak.
Jimmy mulai mendengus kesal lalu menghubungi Jack.
"Jack, apa Sistem sedang diperbaiki?" tanya Jimmy.
"No,kita diretas.Aku sedang memblok sekarang.Lucas sedang melacak IP addresnya," jawab Jack.
"****," umpat Jimmy.
Ia segera membuka backup source di hardisk externalnya.
"Hans, minta Lucas kerjakan di sini," kata Jimmy.
Hans segera menelpon Lucas.
"Tuan Lucas baru saja ke luar ruangan Tuan."
"Hans,mau kutimpuk kepalamu? Hubungi ponselnya," marah Jimmy.
Sekali lagi Hans menghubungi Lucas dan menyampaikan seperti yang Jimmy katakan.
Beberapa saat kemudian Lucas datang dengan sebuah laptop dan dua putra kembar Jimmy yang sedang menangis.
Jimmy langsung bangkit dari duduknya.
"Lu apain anak gue?" tanya Jimmy.
"Cucas nakal," kata Jason.
"Gue jitak lah,ya dia Hackernya, ketangkep dia lagi buka sistem,semua password diganti mami,mamiiii.Dia pakai komputer dan laptop Anita.Heh,memang dia sudah bisa baca,bisa nulis?" tanya Lucas jengkel.
"Siapa yang terakhir memperbaiki sistem?" tanya Jimmy.
"I did (aku)," kata Jack yang tiba tiba muncul dari arah pintu.
"Siapa yang kau ajak bersamamu waktu itu?" tanya Jimmy.
"Hei,bagaimana kau tahu?" tanya Jack menyeringai.
"Si ramhut coklat," sambung Jack seraya menunjuk Jason.
"Ini kembalikan seperti semula dan ganti password byos server secara berkala.
" Lucas,kau juga perlu berhati hati kalau mengajak mereka saat bekerja.Mereka terlihat bermain dan tidak memperhatikan tapi lihatlah sekarang."
Jimmy membuka file rekaman sehari yang lalu di ruangannya.Excel tampak sedang memegang bolpoin milik Jimmy dan menuliskan sesuatu sementara Jason yang membuka dokumen dan menunjuk tempat yang harus dicoreti.
"Anjir!" teriak Lucas.
Jimmy menunjukkan hasil tanda tangannya yang dipalsukan kepada mereka.
Jack tertawa keras "Oh My God."
"Sayang,kenapa Excel buka CCTV?" tanya Jimmy seraya mengusap bekas air mata salah satu putranya.
"Cari Mamii,huuu huuu," jawab Excel lalu menangis lagi disusul Jason yang juga ikut menangis.
"Kan Daddy sudah bilang Mami masih di rumah Eyang Kakung,Mami istirahat sebentar di sana.Besok kita ke sana ya," bujuk Jimmy.
Tiba tiba Jason minta gendong kepada Lucas.
"Cucaas,anter Jason ke Mami.Bawa heli kan cepat sampai," kata Jason seraya memeluk leher Lucas.
Ni bocah,kenapa pinter banget,batin Lucas.
Jimmy menggendong Excel dan mengelus kepala Jason.
"Besok ya,jagoan Daddy nggak boleh cengeng.Ayo Daddy bantu mandi, nanti tidur sama Daddy ya,besok pagi baru ke rumah Eyang jemput Mami," kata Jimmy.
Akhirnya Jasson pun mengangguk dan pindah ke gendongan Jimmy.
"Hans,periksa ke tempat pengasuhnya barangkali dikunciin sama anak anak," kata Jimmy.
Hans tersenyum lalu beranjak mencari kedua pengasuh Jason dan Excel.***
__ADS_1
Pagi itu Anita muntah lagi padahal usia kandungannya sudah hampir tujuh bulan. Bi Sumi yang selalu menemaninya dengan telaten mengusap punggung Anita yang sedikit merasa lemas.
"Makasih Bi,Bi Sumi istirahat saja,pasti lelah kan."
"Bibi masih kuat Nita,yang sabar ya.Bawaan orang hamil memang beda."
Bi Sumi memanggil Irene untuk memapah Anita kembali ke kamar.
Ia segera menyodorkan susu hangat untuk majikannya itu juga bubur dengan telur bacem kesukaan Anita.
Dengan telaten Bi Sumi menyuapinya.
Terdengar deru mobil di bawah dan suara ribut ribut.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bug bug dan dua mahluk kecil berlari dan memeluk Anita.
"Mamiiii huuu huuu."
Kamar sepi itu menjadi riuh karena kedua bocah berusia dua tahun itu berebut memeluk ibunya.
"Maaf Mami,Jason ga nakal lagi.Jason nggak akan mukul adek lagi," kata salah satu dari si kembar yang dijawab elusan kepala oleh Anita.
Sementara Excel naik ke atas tempat tidur dan memeluk perut Anita.
"Mami sudah sehat Sayang,jangan nangis ya.Tapi janji ya tidak boleh pukul perut mami lagi.Kasian adiknya nanti," kata Anita.
Jason mengangguk dan memeluk Anita.
"Ren,kamu boleh kembali ke rumah besar. Aku akan menginap di sini,besok baru pulang bersama Nyonya," kata Jimmy.
Irene mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Bi Sumi juga boleh istirahat,kalau kangen pingin pulang juga boleh mumpung di sini. Anita biar saya yang urus," kata Jimmy.
"Iya Bi,gak pa pa.Bi Sumi istirahat beberapa hari,biar nanti dijemput sopir kalau sudah puas kangennya sama cucu," kata Anita.
"Tapi Nak.."
"Bi, di rumah banyak pelayan.Bibi jangan kawatir.Nita baik baik saja,Bi Sumi pasti lelah ngurus Nita terus.Sekali sekali libur, nanti kalau Nita beberapa bulan habis lahiran kita jalan jalan ya," kata Anita.
Bi Sumi tersenyum dan mengangguk pasrah.
Ia segera beranjak dari tepat itu.
Beberapa saat kemudian Ardian dan Ana datang melihat cucu cucunya yang sedang menempel kepada ibunya.
"Jason,Excel.Ayo ikut Eyang lihat sapi,lihat ayam,cari telur bebek yuk," kata Ardian.
"Iya tuh,nanti bawakan telur bebek ya buat Mami," kata Anita.
Mata Jason berbinar,tapi Excel tetap memeluk maminya tak bergerak. Ardian segera menggendongnya.
Excel mengangguk dalam gendongan kakeknya.Sementara Ana menggendong Jason dan mengajak mereka ke luar ke peternakan.
Jimmy mendudukkan dirinya di tepi ranjang seraya merangkul pundak istrinya.
"Maafkan aku,kau pasti sangat tersiksa karena mengandung tiga bayi sekaligus."
Jimmy memeluk dan mencium kepala istrinya.
"Ya,tidak apa Sayang.Karena ini memang gen dari keluargaku.Kata ibu,ayah sebenarnya punya kembaran.Tapi meninggal sewaktu masih kecil. Budeku yang di Solo itu juga kembar sama Pakde yang di sini walau pun mereka tidak terlalu mirip.Aku baru tahu dan baru dikasih tahu setelah aku protes karena di keluargamu tidak ada yang kembar," kata Anita.
Jimmy tersenyum dan mencium singkat bibir istrinya.
"Ini juga atas andilku memberimu terlalu banyak vitamin penyubur kandungan.Aku ingin punya banyak anak,biar mereka nanti yang mengurus perusahaan dan kita berdua akan tinggal di tempat yang kau suka dan menghabiskan masa tua kita hanya berdua," kata Jimmy.
Anita tersenyum lalu mencium pipi suaminya yang mulai ditumbuhi bulu bulu halus.
Jimmy mencium lembut bibir Anita.
"Aku sangat merindukanmu," bisiknya.
Anita membalas ciuman itu karena dia juga sangat merindukan suaminya.
"Boleh ya?"
"Hmmm," jawab Anita dengan anggukan.
****
Jimmy dan Anita menunggu kedua putranya di teras depan sembari ngobrol dengan ibunya.
Tampak Aksal dan ayahnya menggendong dua anak kembarnya sembari menenteng telur asin open dengan berbagai rasa.
"Experimenmu berhasil Sal?" tanya Anita.
"Berhasil dong Mbak,sudah banyak permintaan via online."
"Mending buka tokonya juga,langsung aja dipatenkan," kata Jimmy.
"Waduh Mas,ini baru kecil kecilan.Kalau ngurus hak paten mah berapa duit," jawab Aksal.
"Nanti biar dibantu Hans ngurus, sayang kalau baru jalan bagus sudah dibajak orang. Kamu kan bisa juga memberdayakan orang kampung untuk pelihara bebek.Sekarang berapa ekor yang kau pelihara?" tanya Jimmy.
"Lima ratusan Mas.Tapi pakannya juga mahal Mas."
"Lah,Pak Insinyur.Cari cara lah buat pakan sendiri.Bisa tanam sendiri lah sejenis tumbuhan krokot buat campuran pakan," kata Anita.
"Pelan pelan lah mbak,masih pusing ini itu. Belum lagi mikirin ayang yang lagi ngambek," jawab Aksal.
__ADS_1
Anita tertawa kecil.
"Sal,sebenarnya aku tidak terlalu suka kamu pacaran sama Yuniar.Dia itu ndak punya unggah ungguh sama orang tua.Dia ngambek minta dibelikan apa lagi?" tanya Anita.
"Minta dilunasi kredit mobilnya,ya aku bilang nanti saja kalau sudah jadi istri.Eh dia minta putus," jawab Aksal bete.
"Putusin aja lah,bisa mati muda kamu punya istri seperti itu.Aku lebih setuju kamu sama Arum,setahun lagi dia bakal jadi dokter. Kalau Arum ya jauh kalau dibandingkan sama Yuniar.Dia cantik walau pun tidak aduhai seperti Yuniar,dia pinter dan pembawaannya kalem.Sopan sama orang yang lebih tua.Masa kamu lebih tertarik sama yang grasak grusuk gitu Sal," gerutu Anita.
"Mbak,dari kecil aku ini mainnya sama Arum. Masa sampai tua sama dia terus,pasti dia bosen lihat aku terus Mbak.Kalau dia jadi dokter ya pasti cari suami dokter lah,mana mau dia sama insinyur ndeso,bau sapi,bau bebek,bau ayam," jawab Aksal.
Anita melirik ke arah pagar samping pos satpam,ia melihat Arum masih nangkring di atas motornya tidak berani masuk karena mendengar namanya disebut sebut.Aksal tidak tahu yang bersangkutan sembunyi dibalik rimbunnya daun mangga.
"Nanti kalau kutanya Arumnya mau gimana?" tanya Anita.
"Ya udah kita nikahkan saja," kata ayah Anita.
Aksal cuma mesam mesem.
"Piye Sal?" tanya ibunya.
"Kesannya kok aku ini seperti perawan yang dipaksa nikah ya.Tapi kalau dia mau ya ndak pa pa.Seneng seneng aja kalau dipaksa mah," jawab Aksal.
Jimmy dan Ardian tertawa mendengar jawaban absurd Aksal.
Tiba tiba Anita berdiri dan ke luar pagar rumahnya.Arum yang kaget sampe jatuh dari motornya.
"Ayo masuk," kata Anita.
Arum mengibas ngibaskan rok panjangnya karena banyak daun daun kering yang menempel.
"Anu Mbak,Arum disuruh ibu nganter dendeng kesukaan Mbak Nita.Ini,Arum permisi pulang,baru datang soalnya," kata Arum.
"Mampir dulu,dicari ayah tuh," Anita mengambil rantang dan menarik tangan Arum supaya duduk di teras depan bersama keluarga Anita.
Aksal terlihat salah tingkah, sementara Arum tertunduk malu.
"Piye Rum?" tanya ayah Anita.
"Mmm Apanya Juragan?" balas tanya Arum seraya masih menunduk memainkan jarinya.
"Jadi mantuku.Mau nggak sama anakku yang kampungan,bau sapi,bau bebek,bau ayam itu? Tapi gitu gitu dia ganteng lho Rum, sholatnya rajin,nabungnya juga rajin. Bapak nggak pernah lihat dia neko neko," kata Ardian.
"Mas Aksal kan sudah punya calon,Juragan. Cantik lagi, saya mana pantas dibandingkan dengan Yuniar," jawab Arum.
"Aku bari diputusin Rum,sekarang jomblo," sahut Aksal.
Arum mendongak menatap Aksal yang sedang tersenyum manis saat mata mereka bertemu.
"Jadi gimana nih,ya nggak Sal?" tanya Anita.
"Kalau Arum nggak nolak ya hayok," jawab Aksal.
"Kamu Rum? Apa kamu sudah punya pacar ? Bagaimana kalau dilamar Aksal? Mau nggak nikah sama Aksal?" tanya Anita.
"Arum cuma fokus belajar Mbak,nggak punya pacar," jawab Arum.
"Mau nggak nikah sama adikku Rum?"
"Mmm mau mbak,tapi jangan sekarang. Arum izin sama ibu dulu boleh apa ndak."
"Alhamdulillah," jawab keluarga Anita bersamaan.
Aksal masih melongo tak percaya kalau Arum mengiyakan lamaran keluarganya yang masih secara lisan.
Setelah sadar ia segera menarik tangan Arum dan membawanya ke taman belakang.
Arum yang ditarik menurut saja mengikuti langkah lebar Aksal.
"Duduk Rum," kata Aksal yang segera duduk berseberangan di meja taman belakang.
"Aku ingin kamu jujur,apa kamu terpaksa mengiyakan permintaan Mbak Nita dan Ayah? Aku tidak mau kamu terpaksa mau menerimaku gara gara merasa berhutang budi pada ayah dan Mbak Nita karena membayar semua biaya kuliahmu," kata Aksal.
"Sebenarnya itu juga pertimbanganku Mas, walau pun aku tahu kalau aku menolak, mbak Nita tidak akan memaksaku.Keluarga ku terlalu banyak berhutang walau pun Juragan juga tidak pernah memikirkannya. Tapi sejujurnya dari aku kecil aku selalu mengagumi Mas Aksal.Tapi aku cukup tahu diri,apalah aku Mas.Tidak mungkin Mas punya perasaan padaku,mas pasti cari yang sepadan seperti Yuniar putri pak Carik, atau anak pak Kades,Pak Camat," jawab Arum.
Aksal tersenyum lega.
"Emang mau ngurus tanah cari pak Carik Pak Lurah,Pak Camat.Aku pacaran sama Yuniar juga karena dia yang datang padaku. Nembak aku, yah aku kan nggak pernah pacaran Rum.Dicoba aja,punya pacar enak nggak.Awalnya sih oke,jadi ada teman curhat kalo lagi capek.Ada yang nemenin nongkrong di alun alun kalau malam minggu. Eh lama lama tuntutannya selangit.Sudah di luar nalar,dia minta putus saat aku menolak menyanggupi."
"Dia minta apa Mas? Kalau dibilang matre aku juga matre, karena biaya kuliahku juga selangit.Tapi nanti kalau aku sudah lulus dan bekerja,aku akan menabung dan mengembalikannya pada mbak Nita," kata Arum.
"Dia minta dilunasi kredit mobil Sportnya, padahal baru dicicil sekali.Masalah biaya kuliahmu itu kan mbak Nita yang mau. Sepertinya dia tidak terima kamu jadi olok olokan saudara saudaramu.Makanya dia maksa kamu kuliah dan jadi orang yang sukses."
"Tetap saja Mas,aku merasa nggak enak," kata Arum.
Keduanya saling diam,Aksal menarik jemari tangan Arum dan menggenggamnya.
"Kita jarang ketemu,apa lagi setelah kamu ikut tinggal di rumah mbak Nita.Aku tidak pernah memperhatikan kau sudah tumbuh jadi perawan cantik.Mungkin selama ini mataku buram sampai tidak tahu Arum yang dulu ingusan,suka nangis,kadang tukang ngompol,sekarang menjadi wanita cantik. Aku akan melamarmu dulu,perkara nikahnya kapan biar orang tua yang bicarakan," kata Aksal.
"Iya Mas,tapi kalau pun sudah nikah, aku tetap selesaikan kuliahku ya Mas.Atau kita nikah setelah aku lulus?" tanya Arum tampak malu malu.
"Semua tidak ada yang berubah, aku akan cari rumah yang dekat dengan kampusmu. Tidak masalah Rum, namanya nikah ya harus tinggal bareng.Sampai kamu lulus. Sekalian aku mau cari tempat buat masarin produk baruku.Sebagai pusat oleh oleh dan masih banyak lagi yang ingin kurencanakan. Yah walau pun agak jauh dari peternakan tapi tidak masalah," kata Aksal.
Arum tersenyum malu,ia tidak mau menatap Aksal.Pria itu meraih dagu Arum supaya melihat ke arahnya.
"Jangan begini,dulu kau suka sekali minta gendong padaku.Kenapa sekarang tidak mau melihatku.Bahkan dulu kita pernah kejebur sungai sama sama dan dimarahi mbak Nita.Aku sampe dipukul pake ranting pohon karena ngajakin kamu main di pinggir sungai."
Arum tertawa mengingat masa masa kecil mereka.
Aksal merasa senang karena kecanggungan mereka sudah mulai mencair.
__ADS_1