CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption313


__ADS_3

Waktu semakin larut,Jimmy menghampiri Anita untuk memastikan kalau istrinya itu sudah tidur.Setelah memastikan ia pun beranjak ke paviliun sebelah untuk melihat kedua putranya yang ditidurkan di dua box bayi. Seorang perawat datang memeriksa suhu tubuh dan mengganti diapersnya.


"Nanti kalau bayinya nangis tolong panggil saya Tuan.Harusnya mereka minum susu sekarang,tapi tidurnya pulas sekali," kata suster.


"Ya,apa sebaiknya dikasih asi saja sama ibunya?" tanya Jimmy.


"Kalau ibunya bangun kasih saja,tapi kalau ibunya tidur dikasih susu formula saja.Nyonya Anita belum pulih jadi harus istirahat lebih banyak," kata perawat itu.


"Baiklah," kata Jimmy.


Ia segera memposisikan diri di dekat Box kedua putranya.Jimmy mengelus pipi kedua bayi mungil tersebut dan tersenyum bahagia.Kedua bayi mungil itu benar benar duplikat dirinya. Tapi putra pertamannya Excel rambutnya hitam legam seperti rambut Anita.Berbeda dengan Jason adiknya, rambutnya sewarna dengan dirinya yang kecoklatan.


"Jim," Jimmy menoleh ke arah Ariana yang terbangun karena suara suara yang ditimbulkan Jimmy.


"Jimmy pingin lihat mereka terus Mom," katanya.


"Tidurlah,sudah malam.Mommy ada di sini sama Bu Ana.Daddy sama ayah mertuamu juga ada."


Jimmy melirik ke arah ayah dan ayah mertuanya yang tidur di kasur lipat yang mungkin dibawakan Irene tadi.


"Temani Anita,kembalilah.Besok setelah dimandikan kau boleh menggendongnya," kata Ariana.


"Baiklah," kata Jimmy dengan berat hati. *****


Pagi menjelang,matahari sudah tinggi. Anita membuka matanya karena tirai jendela sedikit terbuka.


Ia melihat Jimmy tidur pulas di sampingnya.Ia sudah rapi dan aroma sabun mandi tercium menyegarkan. Mungkin setelah subuh dia tidur lagi. Anita menegakkan tubuhnya hendak beranjak ke kamar mandi. Anita bangkit dan mengambil botol infusnya.


"Anita!"


Jimmy buru buru bangun dan memegangi istrinya itu.


"Aku sudah baik baik saja,bisa jalan sendiri," kata Anita.


Jimmy segera menggendong Anita dan membawanya ke kamar mandi dan mendudukkannya di kursi plastik yang ada di sana.


"Keluarlah, aku mau buang air kecil dan mandi," kata Anita.


"Aku akan membantumu membersihkan diri," kata Jimmy seraya mengangkat tubuh Anita dan mendudukkannya di closet.


"Panggilkan suster saja,atau panggilkan ibuku," kata Anita.


"Nggak,aku akan membantumu mandi. Aku ambil plester anti air dulu," kata Jimmy lalu ke luar dari kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Jimmy kembali dengan membawa satu pac plester anti air.


Dengan hati hati ia melepaskan pakaian pasien milik Anita.


Anita nurut saja walau pun sedikit canggung dan merasa malu.


Jimmy membuka keran berwarna merah dan biru secara bersamaan untuk mendapatkan air hangat.


Dengan hati hati ia menempelkan plester anti air di bekas operasi cesar Anita.Ia duduk di kursi plastik yang lebih pendek.


Mata Jimmy berkaca kaca melihat bekas sayatan pisau bedah itu.


"Maafkan aku,tidak menemanimu saat kau merasakan sakit yang amat sangat. Aku janji akan membayarnya seumur hidupku,Anita," kata Jimmy.


"Ya," jawab Anita.


"Lupakan saja.Waktu aku koma,aku bermimpi sangat indah.Sayang,hanya sebentar kau menarik narik diriku.Padahal aku tidak ingin pergi dari sana.Aku sangat bahagia ditemani oleh tiga anak kecil yang sangat mirip denganku.Dua anak laki laki dan satu perempuan. Katanya mereka akan menungguku menjemput mereka," kata nya.


Jimmy hanya diam seraya mengoleskan shampo ke rambut panjang Anita.


"Siapa mereka ya,kenapa wajahnya mirip sekali denganku?Apakah mereka anak anakku di masa depan? Aku tidak punya rencana untuk bersama pria lain setelah kita berpisah nanti," kata Anita.


"Siapa yang akan berpisah? Kalau pun mereka adalah anak anakmu di masa depan,pasti akulah bapaknya,siapa lagi?" gerutu Jimmy.


"Sia sia kan kalau kau sampai berbohong padaku tapi tidak menikahinya.Jimmy,aku sudah melepaskanmu dari hatiku.Sejak hari itu, aku memutuskan untuk menerima kenyataan kalau kau sangat bahagia bersamanya.Aku sudah meminta Lenny untuk mengurusnya,jadi kalian tak akan menunggu lama."


Jimmy masih diam saja mendengar penuturan Anita.Ia tak mau berdebat kalau hanya akan menyulut emosinya.


Dengan sabar ia mengguyur tubuh Anita dengan air hangat.


Setelah selesai mandi,Jimmy membawa kedua putranya untuk diberikan Asi kepada Anita.


Ia senang sekali melihat kedua putranya itu bagaikan duplikat dirinya. Anita hanya mencebikkan bibirnya saat Jimmy begitu bangga memamerkan kemiripan wajah mereka kepada saudara dan teman temannya.


Setelah kurang lebih dua minggu, akhirnya Anita dan bayinya dibolehkan pulang.


Jimmy membawanya ke rumah besar Anggoro dengan banyak drama penolakan dari Anita.Anita bersedia setelah dibujuk oleh ayah dan ibunya. Sampai acara aqiqah untuk kedua putranya selesai baru pulang ke rumah ayahnya.


Jimmy segera mempekerjakan dua orang pengasuh supaya Anita bisa beristirahat dengan baik.


Hari itu suasana di rumah ramai sekali karena sedang mempersiapkan acara akikah kedua putranya.Buat nasi kotak beserta amplop untuk sekitar dua ratus ribu untuk karyawan anggoro group, impack International dan Castle Foods. Belum lagi undangan untuk orang kampung dan karyawan yang ada di rumah.Semua ayah mertuanya yang mengatur.Pria itu terlalu gembira dengan kehadiran cucu kembarnya yang sangat tampan dan unyu unyu. Anita masih istirahat di kamar dengan ditemani Jimmy. Ia memang belum mengizinkan siapa pun menjenguk Anita karena kondisinya memang belum pulih sepenuhnya.

__ADS_1


Beberapa kali Jimmy menerima kedatangan Hans dan yang lainnya di ruang kerjanya dan mengerjakan beberapa pekerjaan di kamar sambil menemani Anita.


Bi sumi yang menyediakan kebutuhan Anita dan merawatnya.


"Jim,kau tidak harus menungguiku.Aku akan jalan jalan di luar,rasanya jenuh di kamar terus.Aku sudah tidak merasa pusing lagi," kata Anita setelah mandi.


"Aku tidak akan ke mana mana. Perusahaan sudah dihandle dengan baik.Mau roboh aku pun nggak peduli," jawab Jimmy.


Anita mencebikkan bibirnya.


"Kau bahkan mengejar kontrak sampai ke singapura.Lucu sekali kalau bilang nggak peduli perusahaan mau roboh. Ngomong ngomong apa kau melihat Lucas,aku mau minta ponselku," tanya Anita.


"Ponselmu sudah kubuang,tidak usah dicari lagi," jawab Jimmy.


"Aku ingin menghubungi Lenny,kenpa dia tidak datang menjenguk klien pentingnya ini."


"Aku melarang siapa pun menjengukmu," jawab Jimmy.


"Terus bagaimana aku bisa mempercepat gugatan cerai kalau begini? Atau kau saja yang melakukan gugatan,pasti akan lebih cepat ketok palunya."


Jimmy mendekat ke arah Anita dengan wajah kesal.


"Sudah kukatakan sampai mati pun tidak ada perceraian antara Jimmy dan Anita.Aku akan selesaikan sebentar lagi.Anita,semua yang kau lihat tidak sepenuhnya benar.Aku akan buktikan setelah acara aqikah anak anak selesai. Beberapa hari lagi bulan puasa,tolong jangan mengujiku lebih berat lagi," geram Jimmy seraya mencium bibir Anita dengan lembut.


Anita tidak membalas tapi membiarkan saja Jimmy melakukan itu.


Ia mendorong dada suaminya saat tangan Jimmy mulai ke mana mana.


"Aku baru saja melahirkan,kenapa sudah seperti ini?" marah Anita.


"Iya,aku tahu.Satu bulan kan, berarti saat lebaran boleh buka puasa."


"Dua bulan,lukanya belum mengering kalau satu bulan," jawab Anita,ia tersenyum smirk.


"Kan cesar Sayang."


"Sama saja,biar keburu pisah rumah," gumam Anita.


Walau pun pelan tapi telinga Jimmy bisa mendengar dengan jelas.


Ia mendekati Anita dan menggengam pundaknya.


"Jangan harap," kata Jimmy lalu ke luar kamar.


Setelah memakai makeup dan merapikan rambutnya Anita ke luar dari kamarnya. Di rumah utama tampak ramai sekali.Ruang tamu dapur ruang tengah sampai ke teras dipakai semua.


Ia tampak bahagia karena semua saudara dan sepupunya datang dengan anak menantu dan cucu cicitnya sekalian.Mereka membaur Ariana para pelayan dan pengurus rumah.


Sifat Ariana yang sederhana dan rendah hati menular ke keluarga Anggoro yang lain.


Suasana jadi heboh saat keluarga Januandi datang satu kompi.


Fenny langsung memeluk Anita yang masih berdiri bengong di sudut ruang tengah.Ibu dan ibu mertuanya menoleh saat itu karena dari tadi mereka asyik ngobrol sampai tidak menyadari kehadiran Anita.


"Mii,sudah.Anita masih uyak ayik (lemah)," kata Julian seraya menarik lengan maminya.


"Hai,tumben bisa datang?" tanya Anita.


"Aku sudah berkali kali datang, bahkan saat kamu masih belum sadar.Tapi suamimu itu selalu saja mengusirku sebelum melihatmu. Dia menempatkan sepuluh pengawal terlatih di sekitar paviliun.Sampai sekarang pun aku belum melihat wajah keponakanku," kata Julian panjang lebar.


Anita tersenyum.


"Itu dibawa sama ayahku dan ayah mertua. Dari pagi mereka diculik. Ini sampai sakit," kata Anita seraya menunjuk dua bukit kembarnya yang semakin wow.Julian otomatis melihat dan menelan salivanya,sebelum sebuah tangan mengusak wajahnya.


"Anjir," umpatnya.


"Lihat apaan Lu," bentak Jimmy.


Julian meringis ketahuan oleh Jimmy.


"Jim,habis ini bawa mereka ke kamar ya. Kasian mereka pasti haus," kata Anita.


"Tapi mereka udah kekenyangan dari tadi dikasih susu formula terus sama Daddy."


"Tapi ini sakit,udah harus dikeluarin,penuh," kata Anita.


Julian menyeringai dan Jimmy segera mendorongnya pergi.


"Pakai breast pump saja,asinya taruh frezer, nanti kasih ke mereka.Kalau diminta gak bakalan dikasih,aku gendong sebentar aja diminta lagi."p


Acara demi acara dilakukan sampai tiga hari lamanya.


Pihak keluarga Anggoro silih berganti datang dari yang di dalam dan luar kota, sampai yang dari luar negri juga datang.


Sebagai puncaknya Tuan Besar mengundang semua rekan bisnisnya untuk makan malam.

__ADS_1


Sepertinya Clarissa dan ayahnya juga datang,juga ibunya.


Mereka terlihat mengakrabkan diri dengan keluarga Jimmy.


Anita lebih memilih untuk pergi ke teras depan untuk menemui Lenny yang datang bersama suami dan anak.


Lenny membawakan semua surat surat yang diminta Anita.


" Ta..."


"Iya Len,aku sudah memantapkan hati.Aku akan membawa kedua putraku pulang ke rumah ayah untuk sementara. Akan kupikirkan lagi selanjutnya.Aku yakin bisa menopang kehidupan mereka tanpa seorang ayah sekali pun," jawab Anita.


"Aku akan selalu mendukung apa pun keputusanmu," kata Lenny kemudian.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.Satu persatu tamu pamit pulang. Anita tidak melihat keberadaan Jimmy. Ia menghampiri ayah mertuanya yang baru kembali mengantar tamu tamunya dari teras depan.


"Daddy," panggil Anita yang sukses membuat pria paruh baya itu menatap kaget.


Tidak biasanya Anita memanggil seperti itu.


"Iya mantu,ada apa ? Kau belum tidur ? Apa kedua cucu gantengku sudah tidur?" tanyanya.


"Apa bisa bicara sebentar, mereka sudah tidur dijaga bi Sumi dan ibuku.Saya ingin membicarakan sesuatu sebentar," jawab Anita.


"Baiklah,ayo duduklah," kata Julian Anggoro seraya duduk di sofa ruang keluarga.


Anita segera menyerahkan tiga map berwarna biru dan satu map berwarna merah.


"Apa ini?"


"Yang biru surat pengalihan saham kepada Jimmy.Nita ingin mengembalikan pemberia Jimmy itu.Yang merah adalah surat pengajuan akta cerai ke pengadilan agama.Nita hanya titip pada ayah mertua karena akan sulit jika langsung kuserahkan kepada Jimmy.Melalui pengacara ayah mertua,pasti lebih cepat. Aku tidak akan menghambat keinginan kalian untuk berbesan dengan keluarga Barata.Nita sudah tanda tangani semua, tinggal tanda tangan Jimmy.Itu saja Daddy.Besok Nita akan ikut ayah pulang bersama anak anak.Maaf, Nita akan membawa mereka.Nita yakin Jimmy akan segera punya anak lagi dengan istri barunya," kata Anita.


Julian Anggoro meletakkan map map itu di atas meja tanpa membukanya.


Ia segera menelpon Dicky untuk menemuinya bersama Jimmy.


Beberapa menit kemudian keduanya tampak datang menemui mereka.Jimmy menghampiri Anita dan mencium puncak kepalanya.


"Belum tidur? Ada apa ?" tanya Jimmy.


Anita hanya diam seraya menunjuk beberapa map yang ada di atas meja.


Jimmy mengambil map warna biru dan membaca isinya.


"Apa apaan ini? Semua yang kuberikan adalah milikmu.Kalau pun perusahaan mengalami kerugian,aku pasti yang akan menutup bagianmu,Anita.Ini lagi apa apaan? Sudah kukatakan tidak pernah ada perpisahan Jimmy dan Anita selama nyawaku masih menempel di ragaku," marah Jimmy.


Ia langsung merobek kertas kertas itu menjadi serpihan serpihan.


"Jimmy aku serius,aku tidak bisa berbagi dengan wanita lain mengenai sebuah pernikahan.Aku bukan Aisyah yang akhlak nya disempurnakan.Dari kejadian kemarin aku bisa menarik kesimpulan bahwa aku tidak bisa hidup bersama lagi denganmu.Kita coba hidup masing masing ya.Semua sudah kupikirkan,dan inilah yang terbaik untuk kita," kata Anita.


"Dengar,aku memang bersalah pergi meninggalkanmu di saat kau benar benar membutuhkanku.Tapi keinginan yang tidak bisa kubendung itu bukan kemauanku,Anita.Itu adalah kemauan kedua anak kita.Entah kenapa aku merasa harus mendapatkan proyek ini apa pun yang terjadi.Bahkan laranganmu pun tak bisa menghentikanku.Mengenai foto foto dan video itu,Dicky sudah mendapatkan rekaman CCTV yang terdekat di tempat kejadian waktu itu.Kau bisa melihatnya sendiri.Mereka semua musuh dan sainganku akan menggunakan dirimu untuk melawanku, karena mereka tahu kelemahanku adalah dirimu.Istriku,kumohon mengertilah. Mengenai Clarissa,selama ini aku hanya menunggu dan mengulur waktu,supaya semua bukti terkumpul dan tunggu saja, sebentar lagi group Barata akan merasakan akibat menipuku," kata Jimmy seraya berjongkok di depan Anita dan menggenggam tangan Anita.


"Jonathan dan Jose sudah mulai mengurusnya di sana,tinggal tunggu saja. Aku juga sudah meminta Uncle Janu untuk tidak membuat kontrak baru dan memutus kontrak lama dengan group Barata," kata Julian Anggoro.


"Baiklah,tapi aku tetap ingin kita intropeksi diri dan pisah rumah beberapa bulan ini.Besok aku akan pulang ke rumah ayah bersama anak anak," kata Anita.


"Aku ikut pulang ke sana," kata Jimmy.


"Terus apa bedanya kalau gitu? Itu hukumanmu Jimmy," kata Anita.


"Nggak,lusa sudah bulan puasa.Aku tidak mau sendirian," tolak Jimmy.


"Anita!" tiba tiba saja suara seseorang yang sangat Anita segani memanggilnya.


Anita menunduk setelah menoleh ke arah sumber suara itu.Jimmy menyembunyikan senyumnya,kenapa tidak terfikirkan ada seseorang yang tidak bisa ditentang istrinya.


"Ayah,tolong jangan melarangku," kata Anita.


"Ayah tidak suka anak ayah menentang suaminya," kata Ardian.


"Kalau mempunyai suami hanya membuat hidupku susah,lebih baik Nita hidup sendiri saja Ayah.Nita mampu koq," kata Anita dengan suara pelan.


Ardian mendekati putrinya dan hendak menampar putrinya,tapi Jimmy segera menahan mertuanya.


"Ayah,pukul Jimmy saja," kata Jimmy.


"Tidak perlu membela istri pembangkang sepertinya.Jimmy,ikutlah ayah sebentar," kata Ardian.


Jimmy mengangguk dan mngikuti Ardian pergi.Begitu pun Julian Anggoro yang segera bangkit dan mengikuti mereka.


Beberapa saat kemudian ketiganya kembali.Ardian duduk bersebelahan dengan Julian Anggoro, sedangkan Jimmy duduk di sebelah Anita.


"Nita,besok kamu tinggallah di rumah barumu.Bi Sumi akan tinggal di sana dan Ibu akan tinggal selama dua minggu di rumahmu.Setelah ibu pulang,Ayah akan meminta Arum untuk tinggal di rumahmu juga.Lusa bulan puasa,jadi kau harus membiarkan Jimmy buka puasa dan makan sahur di rumahmu walau pun dia tidak menginap di sana," kata Ardian.


Anita ingin membantah,tapi Ardian sudah terlebih dulu mengatupkan jari telunjuk di mulutnya.

__ADS_1


Akhirnya Anita menerima hal itu dengan berat hati.Ia segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


__ADS_2