
Jimmy dan Faris kembali ke ruang rawat Anita.Di ruangan itu tampak dokter Nesya sedang memeriksanya.
“Nes,bagaimana keadaannya apa ada perkembangan baik?” tanya Jimmy.
“Sudah membaik,transfusinya ini saja sudah cukup tidak perlu ambil darah lagi.Besok boleh pulang tapi tidak boleh melakukan sesuatu yang berat. Hanya boleh berbaring dan duduk dua hari ke depan. Selanjutnya sampai seminggu ditambah boleh jalan ringan. Obat harus diminum sampai habis dan suplemennya tetap dobel sampai seminggu ke depan.Selanjutnya satu satu saja.Tiga hari lagi aku akan datang memeriksanya lagi,” jawab Nesya.
“Sayang, aku tahu apa yang kamu pikirkan.Harus nurut kalau mau cepat pulih ya.” Jimmy mencium pucuk kepala Anita.
“Ya,” Anita mendesah berat.
“Dek,aku pamit dulu.Kau harus menjaga dirimu,dulu kau janji kan apa tidak ingat.Besok aku akan datang ke sini lagi,aku ingin ikut ke rumahmu dan bertemu dengan keluargamu. Aku tidak mau kita lost cotack lagi.Dia boleh ke luar jam berap besok Dokter?” tanya Faris.
“Sekitar jam sepuluh pagi setelah pemeriksaan terakhir. Besok pagi harus tes darah lagi,” jawab Nesya.
“Mas Faris mau bolos kerja?” tanya Anita.
“Aku akan ke kantor sebentar membagi tugas dan meminta izin.Aku ini pegawai yang rajin, tidak pernah izin dan ambil cuti.Jangan khawatir,” Faris tertawa kecil.
“Mas Faris hubungi aku saja, ini kartu namaku.” Jimmy mengambil kartu nama dari dompetnya lalu memberikannya kepada Faris.
“OK,” jawabnya.
__ADS_1
“Jim,berikan juga kontakku,” kata Anita.
“Anita..”
“Sudahlah tidak masalah, lain kali kau bisa berikan padaku. Pak Jimmy, ini kartu namaku. Aku pamit dulu ya, sudah hampir malam.” Faris mengusak rambut Anita lalu pergi.
“Jim...”
“Aku tidak suka kau berinteraksi dengan banyak orang Anita.Di ponselmu hanya ada kontak orang orang tertentu dan keluargamu.”
“Ya sudah, jangan marah.” Anita meraih tengkuk Jimmy hingga pria itu mendekatkan wajahnya.
“Kangen padaku? Kita belum boleh melakukan itu.”Jimmy menciumi rambut Anita. Sementara itu Anita sibuk mengelus pipi dan dagu Jimmy yang mulai ditumbuhi rambut halus.
“Tidak usah,jangan dicukur. Aku suka kau seperti ini,” kata Anita sambil menciumi pipi suaminya.
“Eh, biasanya kamu heboh suruh nyukur tiap kali tumbuh sedikit saja? Kenapa sekarang jadi...”
“Punyaku juga sudah tumbuh panjang Anita,aku juga tidak akan mencukurnya kalau kau suka.”
Jimmy dan Anita serempak menoleh ke arah pintu di mana Julian dan Yuki masuk. Anita tersenyum melihat keduanya datang menghampirinya.
__ADS_1
“Kau lebih ganteng begitu Julian,” kata Anita.
“Brengsek, cukur nggak,” marah Jimmy.
“Apaan sih Lu,baru datang sudah marah marah.Mau gua cukur nggak ini jenggot gua sendiri.Anita,apa kau masih merasakan sakit?” tanya Julian.
“Kalian punya dokter dokter yang sangat hebat dan peralatan yang canggih.Mana mungkin aku masih merasakan sakit.Masih lemes aja,” jawab Anita.
“Nona ini baju gantimu. Pakaianmu juga Tuan,” Yuki menyerahkan dua paper bag besar ke tangan Jimmy.
“Taruh di lemari Yuki.”
Yuki segera melakukan yang dikatakan Jimmy.
“Jim, apa kau tahu Emily mencoba menasuki paviliun ini.Bahkan dia menemui Mami untuk meminta diizinkan masuk,” kata Julian.
“Apa Aunty mengizinkan?” tanya Jimmy.
“Tidak,setelah Anita masuk ke sini aku lebih dulu telpon Mami supaya tidak mengizinkan siapa pun masuk kecuali atas izinmu atau aku. Perawat dan dokter juga sudah aku kasih daftar siapa saja yang boleh masuk ke mari,” jawab Julian.
“Kamu tetaplah di sini,nanti jam tujuh aku ada meeting dengan yang lain.Kau juga harus tahu apa rencanaku. Aku mau mandi dan sholat dulu.”
__ADS_1
Jimmy beranjak ke kamar mandi dengan membawa paperbag yang tadi dibawa Yuki.